• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Sabtu, 19 Oktober 2019

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Pertumbuhan Pariwisata NTT Kian Pesat
    AVEN HUMAS | Rabu, 27 Maret 2019 | 07:38 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Pertumbuhan
    Wakil Gubernur NTT Joef A.Nae Soi (tengah) saat menerima kunjungan Anggota Komisi X DPR RI

     

    KUPANG, FLOBAMORA.NET - Deputi Pemasaran II Kementerian Pariwisata RI, Nia Niscaya  mengatakan, pariwisata NTT terus bertumbuh dan berkembang pesat.  Minat para wisatawan asing (wisman) untuk mengunjungi NTT terus meningkat dari tahun ke tahun. Untuk igtu, Kementerian Pariwisata siap mendukung penuh pengembangan pariwisata di NTT.

    “Komodo sudah menjadi “top of mind”nya wisatawan. Kalau kita lihat dari sisi wismannya, yang ke Komodo kebanyakan orang-orang   berduit. Dari Australia dan Eropa. Komodo memang sesuatu yang sangat dicari karena menawarkan petualangan wisata yang unik,” jelas Nia saat mendampingi  Kunjungan Kerja  (Kunker) Spesifik Bidang Pariwisata Komisi X DPR RI.

    Dua orang Anggota  DPR Komisi X yang melakukan Kunker adalah Anitah Gah (Fraksi Demokrat) dan Mustafa Kamal (Fraksi PKS).    Keduanya diterima Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi di Ruang Rapat Gubernur, Selasa (26/3).

    Menurut Nia, dengan fungsi Kementerian Pariwisata yang lebih besar  menitikberatkan  kepada pemasaran dan penjualan objek-objek pariwisata, NTT selalu mendapat perhatian dan menjadi salah satu daerah prioritas bersama Bali.  Kementerian Pariwisata mendukung penuh pengembangan pariwisata NTT.

    “NTT sudah ada di benak kami. Boleh searching atau googling iklan-iklan kami di luar negeri, pasti ada komodonya. Di bus-bus pariwisata kami di luar negeri, pasti  ada gambar Komodo.  Kalau ada festival-festival   Pariwisata kami akan siap membantu,” paparnya.

    Terkait dengan wacana penutupan Pulau Komodo,  Nia menjelaskan  seiring dengan   penjelasan terperinci  dan terus menerus tentang manfaat penutupan tersebut, semakin banyak orang yang mengerti dan memahami manfaatnya. Wisatawan masih bisa melihat Komodo di Pulau Rinca dan Pulau Padar.

    “Saya pikir dalam konsep suistanable tourism (pariwisata berkelanjutan), kalau konservasi menjadi pertimbangan, saya kira banyak orang yang akan terima. Yang paling terekspos oleh Kementerian Pariwisata selain Bali adalah Komodo karena telah  menjadi ikon pariwisata NTT,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Tim Kunker DPR, Anita Gah  menuturkan, tujuan kunker  DPR  adalah untuk mendapatkan data empiris guna pengambilan kebijakan serta langkah strategis pengembanagan pariwisata  di NTT.  Khususnya untuk melihat aspek amenitas, aksesibilitas, atraksi dan juga dampak bencana alam bagi pariwisata.

    “Bencana alam merupakan hal yang harus diperhitungkan dalam pengembangan pariwisata. Pemerintah telah merevisi target perolehan devisa dari pariwisata tahun 2019 dari 20 miliar dollar menjadi 17,6 miliar dollar. Hal ini didasarkan pada pengalaman tahun 2018 di mana kunjungan wisawan tidak mencapai target karena faktor bencana alam ini. Banyak negara yang membatalkan perjalananan warganya ke Indonesia karena takut terdampak  bencana,” jelas Anita.

    DPR khususnya Komis X, lanjut Anita sangat mendukung dan mendorong pengembangan pariwisata di NTT.  NTT punya  potensi pariwisata yang luar biasa baik alam, budaya maupun wisata baharinya.

    “Kami butuh data-data yang riil pengembangan destinasi pariwisata dari kabupaten/kota.  Kami mengapresiasi kepada pemerintah Provinsi yang lebih fokus meningkatkan pengembangan pariwisata. Komisi X  tidak mau berjanji , tapi kami berkomitmen NTT jadi salah satu prioritas penganggaran untuk pariwisata tahun 2020,” jelas Anita.

    Menanggapi hal itu, Wakil Gubernur , Josef A. Nae Soi menegaskan, pemerintah provinsi telah menetapkan pariwisata sebagai prime mover ekonomi NTT.  Langkah-langkah nyata telah mulai dibuat oleh pemerintah provinsi di antaranya Pemberlakuan English Day.  Juga upaya untuk melakukan konservasi terhadap Komodo dengan menutup Pulau Komodo selama setahun.

    “Orang dari seluruh dunia mau lihat Komodo yang asli. Kita mau kembalikan habitat komodo ke habitat semula. Komodo yang asli, begitu liat mangsanya, dia langsung kejar, liar dan buas. Juga kita ingin kembalikan ekosistem dan rantai makannan di pulau Komodo.  Kemudian kita jual ke dunia dengan sistem kuota. Kalau mau liat yang asli, bayarnya harus mahal,” jelas Nae Soi..***


     
    BERITA TERKAIT
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.