• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 26 Agustus 2019

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Wawancara Wakil Bupati Ende, Drs. H.Djafar H.Achmad,MM :
    REDAKSI | Selasa, 06 Agustus 2019 | 18:40 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Wawancara
    Wakil Bupati Ende, Drs. H.Djafar H. Achmad,MM

     

    Tanggung Jawab untuk  Merawat dan Membangun Kabupaten Ende

    Tanggal 7 – 8 Agustus tahun 2019, untuk keenam kalinya Pemerintah Kabupaten Ende  menggelar pertemuan dengan tokoh agama dan tokoh adat. Pertemuan tersebut mengangkat strategi Lika Mboko Telu atau tiga batu tungku untuk membahas atau membicarakan model kerja sama membangun.

    TUJUAN  pertemuan yang digagas sejak periode pertama masa kepemimpinan Ir.Marselinus Y.W Petu – Drs. H.Djafar H.Acmad, MM ,  agar semua komponen masyarakat atau stake holder yang ada di daerah ini dilibatkan dalam perencanaan , pengambilan keputusan dan pengawasan pembangunan  sehingga  berjalan pada rel yang sesungguhnya.

    Gagasan tersebut muncul dari sebuah permenungan panjang.Tiga pemangku kepentingan di Kabupaten Ende yakni pemerintah, tokoh agama dan tokoh adat memiliki tanggung jawab dalam membangun, yang dimulai dari titik awal yang sama dan menuju satu tujuan yang sama pula yakni mewujudkan masyarakat Kabupaten Ende yang mandiri dan sejahtera. 

    Seperti apa implementasi konsep tersebut, Albert Vincent Rehi dari Flobamora News, mewawancarai Wakil Bupati yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ende Drs. H.Djafar H.Acmad,MM. minggu lalu di Kupang.  Berikut petikannya :  

    Apa tanggapan Anda terhadap pelaksanaan pertemuan Lika Mboko Telu ini ?

    Yah.. tidak terasa telah enam kali pemerintah, tokoh agama dan tokoh masyarakat bertemu dalam suasana kebersamaan penuh kekeluargaan sesuai nilai-nilai luhur yang telah diwariskan para leluhur dari ketiga keluarga besar yang berbahasa Aku, Ja’o, dan berbahasa Nga’o, yang dalam kehidupan sehari-hari selalu berbaur, hidup rukun bersama keluarga besar lainnya dengan adat istiadat dan budaya yang berbeda-beda, namun telah diikat dan terikat menjadi satu kesatuan yang Berbhineka Tunggal Ika, sebagai suatu keluarga besar Kabupaten Ende dalam membangun daerah ini.

    Apakah ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada leluhur?

    Betul.. ini bentuk tanggung jawab kita untuk  merawat dan membangun Kabupaten Ende di segala bidang baik pembangunan mental spiritual agama dan adat sesuai adat budaya maupun pembangunan fisik dalam rangka meretas kantung-kantung produksi untuk “mewujudkan karakteristik Kabupaten Ende dengan membangun desa dan kelurahan menuju masyarakat yang mandiri, sejahtera dan berkeadilan” dalam spirit berkerja sama dan sama-sama berkerja antara pemerintah Kabupaten Ende, Pemerintah Desa/Kelurahan dengan para Mosalaki/Tokoh Adat dan pimpinan umat beragama.

    Kalau begitu apa tema besar yang diusung dalam pertemuan tahun keenam ini ?

    Tema pertemuan kita tahun ini adalah " BERSAMA MEMBANGUN KABUPATEN ENDE MENUJU MASYARAKAT YANG MANDIRI, SEJAHTERA DAN BERKEADILAN”.

    Apa makna yang terkandung dari tema besar tersebut ?

    Ini untuk mempertegas peran dan wibawa para Mosalaki yang memiliki kekuasaan secara sosial dalam mendukung peran pemerintah Desa, Pemerintah Kelurahan, Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Kabupaten Ende dalam percepatan pembangunan yang berkarakter sesuai potensi masing-masing desa dan wilayah ulayat dalam semangat gotong royong, bekerja sama dan sama-sama berkerja.

    Lalu, mempertegas perwujudan dua  bidang kewenangan desa dari empat  bidang kewenangan desa berdasarkan asal usul dan kewenangan lokal berskala desa untuk mempercepat desa membangun melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pemeliharaan hasil pembangunan desa dan bertumpu pada empat  prioritas pembangunan desa yakni penyelenggara pemerintah desa, pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang mengakomodir masyarakat atau Fai Walu Ana Kalo.

    Bagaimana mengimplementasikannya ?

    Keberlangsungan dan keberhasilan berbagai prioritas pembangunan tersebut tidak hanya tergantung pada sejumlah anggaran yang tertuang dalam APB Desa namun perlu didukung penuh oleh para Mosalaki agar pada satu sisi kita rajut pertahankan seremoni budaya untuk membangun desa berkekuatan secara sosial dan mengangkat kembali wibawa para mosalaki sebagai sosok pribadi yang suka memberi pertolongan sesuai kearifan dan kebijaksanaan hatinya sesuai semangat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

    Pada sisi lain kita dorong agar berbagai seremoni adat itu dapat mendatangkan nilai ekonomi bagi para Mosalaki melalui peningkatan kunjungan wisatawan. Untuk itu dalam forum rapat kali ini ingin menghasilkan pemikiran bersama untuk mempercepat pelaksanaan misi ketiga RPJMD Kabupaten agar kita rencanakan dan kita lakukan revilitasasi atas berbagai situs sejarah dan situs budaya yang secara bijaksana sesuai kewenangan local berskala desa yang dapat dianggarkan dalam  APBDesa dan APBD Kabupaten Ende yang diikuti dengan peningkatan keterampilan masyarakat dalam menyongsong MEA dan mendukung pelaksanaan berbagai eventi internasional dan nasional yang dilaksanakan di Kabupaten Ende.

    Konkritnya seperti apa ?

    Untuk itu saya sangat mengharapkan bantuan para Mosalaki agar menjadikan berbagai seremoni adat sebagai asset budaya kita yang bernilai sosial, kita upayakan untuk menghidari pelaksanaan seremoni adat sebagai penghambat pembangunan di desa dan kelurahan seperti masih saja terjadi di berbagai tempat di Kabupaten Ende yang dilaksanakan di desa dengan dana yang dapat terlaksana dengan lancar dan bermutu.

    Dalam pertemuan keenam kali ini dibicarakan soal sinergi dalam membangun daerah. Apa peran yang harus dimainkan oleh para pemangku kepentingan untuk mengejawantahkan pemikiran ini ?

     

    Fungsi pemerintah yang mengatur agar ada ketentraman dan ketertiban umum yang damai, harmonis dan bernilai sosial sebagai peluang bagi para pengikut untuk hidup aman, rukun dan bisa berkerja dengan tenang untuk mencapaikesejahteraan bersama.

     

    Kemudian ada fungsi pengendali i yaitu mengendalikan hambatan-hambatan yang dialami untuk diubah menjadi peluang dengan melakukan musyawarah dan mufakat sebagai rencana aksi bersama untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

     

    Lalu ada fungsi hukuman yaitu adanya kesepakatan yang ditetapkan menjadi nilai bersama ditaati dan dipedomani bersama dengan segenap hati sebagai pembatas atau penggunaan  kebebasan para pengikut yang melanggar nilai-nilai itu. Adanya undang-undang, denda adat, hukuman penjara dan jenis hukuman lainnya, yang dikenakan bagi para pelanggar adalah bukti tak terbantahkan dari fungsi pengandali/fungsi membatasi perilaku pengikutnya sehingga akan tercipta keteraturan hidup yang dikenal dengan budaya musyawarah mufakat dan budaya gotong-royong yang jauh dari konflik kekerasan di NKRI kita tercinta.

     

    Bagaimana dengan Fungsi Memberdayakan ?

     

    Fungsi ini mengharuskan pemimpin untuk membuat para pengikutnya memiliki kecerdasan hidup (bukan) kepintaran hidup. Orang cerdas memiliki jiwa dan semangat rela berkorban bagi pengikutnya. Selain itu pemimpin sebagai orang-orang kuat adalah penerus  dan pewaris sejarah dan pewaris nilai-nilai kearifan kepada pengikutnya untuk hidup dalam semangat rela berkorban, rela member pengampunan kepada yang bersalah dan mewariskan kehidupan hari esok yang lebih baik dari hari kepada anak cucunya.

     

    Lalu apa yang harus kita lakukan di tengah tantangan dan persiangan  global sekarang ini ?

     

    Kita telah berada  dalam dunia teknologi informasi yang sangat terbuka, ada dampak negative yaitu nilai sosial mulai hilang. Untuk itu perlu kebijakan 18-21 yaitu pada jam 18 sampai jam 21 tiap hari hanya ada satu (1) HP dalam keluarga yang boleh aktif, agar semua keluarga memiliki waktu untuk duduk bersama bercerita bersama nilai-nilai hidup menurut budaya Ende-Lio-Nage guna menjahit kembali hubungan keluarga yang mulai renggang, diakhiri dengan doa bersama dan makan bersama dalam keluarga.

     

    Globalisasi  telah memunculkan ancaman keamanan di segala bidang kehidupan, maka kedepan perlu dikaji dan diangendakan bersama dalam menghadapi tantangan global yang makin individualistik.

     

    Lantas apa yang menjadi fokus perhatian dalam pembangunan Kabupaten Ende ?

     

    Sejak awal masa kepemimpinan, Marsel-Djafar memformulasikan ada enam karakter pembangunan perekonomian di Kabupaten Ende sesuai warisan leluhur yang harus terus dikembangkan. Keenam karakter itu adalah Tedo Tembu, Wesa Wela (bidang pertanian) Gaga Boo , Kewi Ae (bidang perkebunan), Peni Nge, Wesi Nuwa (bidang peternakan) Weke Togi, Soro Sai (bidang perikanan) Teka Laku, Daga Geti (bidang perdagangan) Wenggo Nua, Nena Ola ( Penataan Tata Ruang wilayah - bidang lingkungan hidup dan Pariwisata). Ini semua dibingkai dalam visi Membangun dari Desa dan Kelurahan.

     

    Kami dengar ada hal baru yang mau dibicarakan juga dalam pertemuan kali ini. Apa saja itu ?

     

    Betul.. Adanya dana yang dikucurkan pemerintah ke desa dalam beberapa tahun terakhir dalam jumlah sangat besar. tentu perlu diawasi pemanfaatannya.  Kita akan libatkan tokoh adat dan tokoh agama dalam mengawasi pemanfaatan dana-dana tersebut terutama dana desa sehingga betul-betul dirasakan masyarakat. Kita ingin dana itu dimanfaatkan seluas-luasnya untuk kepentingan masyarakat desa dan dikelola secara terbuka. Langkah ini untuk menghindari penyalahgunaan dana – dana yang dilakukan oleh aparat desa.

     

    Hal lain yang akan kita bicarakan adalah rencana pemerintah menggelar Festival Rumah Adat. Kita mau rumah-rumah adat yang ada di desa diperhatikan keberadaannya. Itu berarti, masyarakat yang dipelopori para mosa laki harus bisa menjaga kelestarian rumah adat. Nah, jika rumah adatnya sudah dijaga dengan baik termasuk kebersihan lingkungannya pasti akan menjadi salah satu daya tarik wisata di Kabupaten Ende.  Nantinya, kita akan menilai rumah adat mana yang dipertahankan keasliannya.        

     

    Apa  ada harapan yang mau disampaikan ?

    Harapan saya agar apa yang dibicarakan dalam pertemuan ini tidak boleh dimentahkan  lagi. Harus tetap komit dan konsisten dengan kesepakatan yang sudah ada. Ini menunjukkan kebesaran hati atau kebesaran jiwa para pemimpin ulayat di daerah ini. Sebab, pemimpin adalah orang yang berpegang teguh pada perkataannya. Ini juga harus disampaikan kepada masyarakat atau fai walu ana kalo.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.