• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Selasa, 12 November 2019

     

     
    Home   »  Nasional
     
    Ritual Pati Ka Dua Bapu Ata Mata di Kelimutu
    ALBERT VINCENT REHI | Rabu, 14 Agustus 2019 | 07:25 WIB            #NASIONAL

    Ritual
    Proses ritual Pati Ka Dua Bapu Ata Mata di Puncak Danau Kelimutu, Kabupaten Ende

     

    Pengantar Redaksi:

    Tahun ini untuk kesekian kalinya dihelat ritual Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata (Memberi Makan Arwah Para Leluhur). Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dikabarkan akan hadir dalam acara tersebut, yang merupakan puncak dari pagelaran Sepekan Pesta Danau Kelimutu. Seperti apa ritual tersebut, kami coba memberikan gambaran kepada para pembaca.Berikut catatannya:   

    KAWASAN Danau Tiga Warna Kelimutu hari ini, Rabu 14 Agustus 2019 menjadi pusat perhatian masyarakat Kabupaten Ende.  Kelimutu punya pesona.Kelimutu punya daya magis. Pesona inilah yang menjadi keunggulan Danau Kelimutu sebagai salah satu destinasi pariwisata di Indonesia dan ikon Kabupaten Ende. 

    Kawasan Danau Kelimutu yang selalu sunyi di pelukan alam, terlihat akan beda. Ratusan warga sejak pagi berbondong-bondong ke sana.. Hari itu mereka akan mengikuti dan menyaksikan kesakralan upacara Patika dua bapu ata mata.

    Kesakralan dari upacara tahunan ini mulai terasa ketika kita memasuki taman wisata Danau Kelimutu. Terlihat 20  Mosalaki atau pemangku adat, dari desa-desa penyanggah Danau Kelimutu berkumpul di sana. Mereka begitu anggun mengenakan pakaian adat kebesarannya.  

    Ritual tersebut melibatkan para mosalaki dari persekutuan adat desa-desa penyanggah Kelimutu, yakni Konara, Woloara, Pemo, Nuamuri, Mbuja, Tenda, Wiwipemo, Wologai, Saga, Puutuga, Sokoria, Roga, Ndito, Detusoko, Wolofeo dan Kelikiku.  

    Yang menarik dan menjadi pusat perhatian adalah kehadiran satu-satunya tetua adat perempuan yakni Agatha Gale, Mosalaki Puu Tana Jendo Laki, Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko.  

    Di sudut lain terlihat beberapa persiapan yang berhubungan dengan rangkaian upacara ini. Ibu-ibu dan remaja putri yang mengenakan lawo – lambu begitu bersemangat dan sigap menata bahan persembahan yakni nasi dari beras dan daging babi sebagai bahan utama dalam prosesi Pati Ka Dua bapu Ata Mata pada sebuah wadah  disebut pane yang terbuat dari tanah liat.  

    Antusiasme warga untuk mengikuti prosesi itu sangat kental. Mereka memukul gong gendang, meniup seruling dan memainkan sato. Beberapa orang mendendang lagu - lagu daerah Ende – Lio mengiringi sejumlah pengunjung menari Wanda Pa’u atau menari selendang bergilir  sambil menanti kehadiran para pengunjung lainnya dan undangan untuk menyaksikan upacara yang sudah dilaksanakan tujuh tahun ini.  

    Sekadar diketahui, Sato adalah alat musik yang dibuat dari bila semacam labu atau dari batok kelapa. Alat musik ini memiliki gagang. Senarnya dibuat dari lema mori atau  serat daun lidah buaya yang dijalin dengan getah kenari. Bentuk sato seperti biola.  

    Kawasan Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan danau tiga warna dipercaya oleh masyarakat setempat secara turun temurun sampai saat ini mempunyai makna gaib. Danau merah yang kini berwarna hijau toska (Tiwu Ata Polo) tempat bersemayam arwah orang jahat sewaktu hidup. Danau warna hijau toska (Tiwu Koo Fai Nuwa Muri) tempat bersemayam arwah kaum muda - mudi. Sedangkan danau warna putih yang juga berubah warna menjadi hijau lumut dipercaya sebagai tempat bersemayam orang tua (Tiwu Ata Bupu).  

    Selain keyakinan ini, masyarakat setempat percaya perubahan warna air kawah Kelimutu juga diibaratkan sebagai isyarat akan terjadi sesuatu di negeri ini. Masyarakat etnik Lio yang menghuni kawasan ini meyakini Kelimutu sebagai tempat yang sakral dan kampung para leluhur.  

    Kepercayaan ini mempunyai nilai tersendiri serta mempunyai hubungan yang tak terpisahkan antara orang yang masih hidup dan orang yang sudah meninggal. Berbagai cara dilakukan oleh masyarakat secara turun temurun untuk menjaga hubungan antara orang hidup dan orang yang sudah mati dengan membari makan atau sesajen (Patika dua bapu ata mata).

    Semua persiapan untuk ritual Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata di Puncak Kelimutu dipusatkan disebuah Kuwu , tempat musyawarah para tetua adat. Sementara itu, makanan dan minuman yang akan dipersembahkan untuk para leluhur pun disiapkan.  

    Makanan itu diletakkan di atas Pane, piring saji yang terbuat dari tanah liat. Makanannya berupa nasi beras merah dengan lauk daging babi. Untuk minumannya ada moke, air putih dan kopi.

    Setelah didoakan, makanan pun dibawa oleh tetua adat juga oleh para pejabat yang hadir saat itu. untuk menuju ke lokasi upacara di dekat area Danau Kelimutu. Masing-masing membawa satu piring saji yang berisi makanan untuk para leluhur. Total ada 26 piring yang dibawa.  

    Waktu menunjukan pukul 10.30 Wita. Suasana khusuk sangat terasa ketika para mosalaki mulai berlahan menapaki sejumlah tangga menuju puncak Kelimutu. Tiap – tiap mosalaki yang masuk dalam rombongan ini, membawa sesajian berupa makanan yang terdiri nasi dari beras merah dan beberapa potongan daging babi. Ada yang membawa minuman tuak pada cerek tanah. Mereka berbaris berdua – dua.  

    Sepi dan tenang. Hanya terdengan bunyi gong ditabuh pada titik tertentu. Bunyi gong bermakna memohon izin agar mereka bisa melangkah aman. Masyarakat dan pengunjung hanya bisa mengikuti dari belakang. Sambil tetap menjaga keheningan. Para wisatawan pun diminta untuk tidak mengusik ketika acara berlangsung.  

    Setelah mencapai tempat tujuan, persis di depan Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, beberapa mosalaki menuju tempat sesajian dan berdiri melingkari tempat itu. Di situ terlihat beberapa gunduk batu yang tersusun rapi. Ada sebuah batu ukuran agak besar di tengahnya. Kemudian diucapkan beberapa barisan kalimat adat oleh salah seorang mosalaki yang dipercayakan:

    Dua Bapu Ata Mata, Babo Mamo Ku Kajo (Nenek moyang dan para leluhur)

    Leja Ina Kami Mai Tii Tu (Hari ini kami datang membawa)

    Ola Kema Mbale – Ola Bugu Supu Gha Kanga Pu’u Kelimutu ( Hasil kerja kami di atas pelataran agung Kelimutu)

    Ngodho Molo - Simo Pawe (Terimalah semuanya ini dengan baik)

    Kami Iwa Se’u – Kami Iwa Sengge (Kami tidak ingin menguasai)

    Kami Menga Fe Naja Dede Ngere Lele (Kami hanya memanggil namamu seperti desiran pohon beringin)

    Wake Naja Ame Ngere Mase ( Mengagungkan namamu seperti batu perkasa)

    Tau Mbeo Sawe Mena Du Ghale ( Agar semua yang dari Timur dan dan Barat tahu)

    Miu Ata Jaga Mutu Masa (Kamu yang menjaga Kelimutu)

    Jaga Mara Mamo Ana (Lindungilah Anak Cucu)

    We Ende Lio Sare Pawe (Agar Ende Lio Baik dan Sejahtera)  

    Lalu ia menaruh sesajian di atas batu tersebut. Para mosalaki yang dipercayakan membawa sajian mulai duduk di sekitar batu tempat persembahan. Mereka makan bersama dan sambil meminum tuak. Ritual ini diakhiri dengan gawi (tarian kebersamaan masyarakat Ende – Lio). Sekitar pukul 12.15 Wita rangkaian ritual Pati Ka Dua Bapu Ata Mata selesai.  

    Para mosalaki dan para pengunjung pun bergegas turun ke tempat semula yakni halaman parkiran Kawasan Taman Nasional Kelimutu . Gawi Ria merupakan acara penutup ritual Patika Dua Bapu Ata Mata memberi makan arwah nenek moyang ini.  

    Bagi masyarakat Lio, ritual ini mempunyai makna: Pertama, Tipo Mamo Ana We - Nge Bhondo Beka Kapa ( melindungi anak cucu agar tumbuh berkembang dengan baik),  Kedua, Moda Ma’e Bowa – Dati Ma’e Bagi ( menjunjung tinggi atau menjaga persatuan dan kesatuan), Ketiga, Boka Modha - Lai Lala, Wora Sa Wiwi – Nunu Sa Lema ( sehati , sejiwa , sepikir dan sesuara) Keempat, Tedo Tembu - Wesa  Wela (tanam, tumbuh dan hambur kecambah). Kelima, Peni Nge - Wesi Nuwa (ternak berkembang dengan cepat). Keenam, Uja Mae Duna -  Leja Mae Rapa (Hujan tidak berkurang, kemarau tidak panjang). Ketujuh, Buru Mae Sepuu - Kaka Mae Sebege (Tubuh yang sehat tidak kekurangan) Dan Kedelapan, Ju Mae Su - Pai Mae Lai (jauh dari hama dan penyakit).***


     
    BERITA TERKAIT
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.