• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Minggu, 20 Oktober 2019

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Bone, Desa Model Pencegahan dan Penanggulangan Stunting
    ALBERT VINCENT REHI | Selasa, 17 September 2019 | 20:33 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Bone,
    Wakil Gubernur NTT Joef A.Nae Soi saat melancurkan program penanggulangan stunting di NTT

     

    KUPANG, FLOBAMORA.NET - Desa Bone, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur ditetapkan sebagai desa model pencegahan dan penanggulangan stunting.

    Hal itu disepakati dalam Forum Diskusi Penggalangan Komitmen Pemangku Kepentingan dalam Pencegahan dan Penanganan Stunting Provinsi Nusa Tenggara Timur yang dihadiri Wakil Gubernur, Josef Nae Soi, DI Kupang Senin (16/9).

    “Desa model itu adalah desa yang mempunyai ciri – ciri penanggulangan stunting secara konfergensi, terintegrasi yang dikeroyok oleh seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), LSM, maupun dari lembaga – lembaga keagamana, Perguruan Tinggi, termasuk organisasi PKK, dan organisasi lainnya,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur, drg. Dominikus Minggu Mere.

    Berkaitan dengan itu, kata Dominikus, forum komitmen kerjasama harus tahu analisis situasi di desa itu, baik penduduknya, angka kemiskinannya, termasuk data – data kependudukan, ibu hamil, anak dibawa dua tahun, dibawah lima tahun, anak SD hingga SMA yang ada di desa tersebut.

    “ Kita juga harus tahu tentang kondisi sosial ekonomi, mata pencahariannya. Misalnya, petani yang punya ladang, sawah, semua data – data dasar menjadi pegangan kita untuk melakukan intervensi nantinya, termasuk juga keberdaan infrastruktur, rumah layak huni, jalan di desa, jamban, air bersih, dan sanitasi. Setalah kita punya data dasar, baru kita mulai merumuskan intervensi yang dilakukan secara terintegrasi. Nanti masing – masing OPD mengambil peran sesuai dengan kapasitasnya,” katanya.

    Terkait dengan program ini, jelas Dominikus, Dinas Kesehatan Provinsi NTT akan melakukan intervensi di aksi konfergensi berkaitan dengan pengananna gizi spesifik dan gizi sensitif dari aspek suplay maupun demannya, termasuk penyediaan tablet tambah darah.

    Kemudian pelaksanaan promosi kesehatan, aksi penggunaan ASI eksklufif, pemberian makanan tambahan (PMT) untuk ibu hamil kurang energi kronis, anak balita maupun dibawah dua tahun, penanggulangan masalah kecacingan, termasuk penyakit menular dan lain – lain.

    Sementara Wakil Gubernur, Josef Nae Soi dalam arahannya mengatakan, pencegahan dan penanganan stunting di NTT harus melibatkan semua stakeholder, baik tokoh agama, tokoh adat, dan LSM.

    “ Khusus untuk permasalahan stunting, ada uang langsung eksekusi ke masyarakat. Jangan habiskan waktu lagi dengan rapat atau seminar. Kalau data stunting sudah ada langsung ditangani. Misalnya masalah gizi ditangani dinas kesehatan, masalah rumah atau jalan ditangani dinas PUPR,” kata Josef Nae Soi.***

     


     
    BERITA TERKAIT
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.