• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Minggu, 05 Juli 2020

     
    Home   »  Nasional
     
    MENGENANG SETAHUN KEPERGIAN MARSELINUS Y.W PETU
    ALBERT VINCENT REHI | Senin, 25 Mei 2020 | 23:07 WIB            #NASIONAL

    MENGENANG
    Ir.Marselinus Y.W Petu

     

     

    HARI ini, Selasa 26 Mei 2020, rakyat Kabupaten Ende  mengenang setahun kepergian, Ir. Marselinus Yosephus Winfried Petu. Bupati Ende periode 2014 – 2019 dan 2019 -2024. Peristiwa setahun lalu ini, mengagetkan masyarakat Kabupaten Ende, termasuk warga Ende diaspora.

    Betapa tidak. Sebulan sebelumnya, Minggu 7 April 2019, Kae Marsel, demikian saya kerap  menyapanya, dan Wakilnya Djafar H. Achmad dilantik oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, memimpin kembali Kabupaten Kelimutu itu untuk periode 2019 -2024.

    Minggu, 26 Mei 2019, warga Ende dikejutkan dengan berita kematian Kae Marsel. Bak sambaran petir di siang hari bolong. Semua seakan tidak percaya. Kabar duka terus mengalir. Kae Marsel menghembuskan nafas terakhirnya saat berada di Kupang.

    Kae Marsel mendadak menderita serangan jantung saat sedang berada di kediaman kader PDI Perjuangan, Cendana Abubakar, di Jalan Kosasi Nomor 15 Kelurahan Bonipoi, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang. Ia sempat dilarikan ke RSU Siloam Kupang namun nyawanya tak bisa diselamatkan.

    Sekitar pukul 02.30 wita, dokter RSU Siloam Kupang menyatakan Kae Marsel sudah meninggal dunia. Informasi meninggalnya Kae Marsel pun beredar cepat. Para tokoh dan pejabat berdatangan ke RSU Siloam Kupang.

    Pagi itu  juga, jenazah Kae Marsel dibawa ke rumah saudarinya Eta Nduru, di Kelurahan Liliba, untuk disemayamkan sementara sebelum dibawa pulang ke Ende. Disana sempat dilaksanakan misa pelepasan dipimpin Pater Dr. Eduardus  Dosi,SVD.

    Sekitar pukul 11.00 wita, jenazah Kae Marsel kemudian dibawa ke Bandara El Tari Kupang untuk diterbangkan ke Kota Ende, Kabupaten Ende. Sekitar lebih dari 500-an warga Kota Kupang asal Kabupaten Ende dan para pejabat mengantar jenasah almarhum ke Bandara El Tari Kupang.

    Hadir pula Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, Wakil Gubernur Josef Nae Soi, Ketua DPRD Provinsi NTT, Anwar Pua Geno serta para pejabat lainnya. Sekitar pukul 12.00 wita, jenasah Bupati Ende, Ir. Marselinus Y.W Petu kemudian diterbangkan menuju Kota Ende menggunakan pesawat jet pribadi milik Viktor Bungtilu Laiskodat.

    Dari Kupang, jenasah Kae Marsel didampingi putranya Dede serta Ketua dan Wakil Ketu DPRD Ende, Herry Wadhi dan Fery Taso, salah satu Wakil Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Ende, Magy Sigasare dan beberapa pejabat lainnya. Kedatangan jenasah pun disambut ribuan warga Kabupaten Ende di Bandara H. Hasan Aroeboesman Ende.

    Ribuan warga tumpah ruah di bandara. Langit Ende yang cerah berubah mendung. Banjir air mata membasahi Bumi Pancasila. Salah satu putra terbaik Ende telah pergi. Warga Kabupaten Ende seakan tak percaya dengan peristiwa duka ini. Ende menangis, Lio Nage meratapi kepergian seorang Marsel. Ia begitu dekat dengan rakyatnya. Ia begitu mencintai Kabupaten Ende.

    Lima tahun masa kepemimpinannya diukir dengan tinta emas. Bersama Pak Djafar keduanya mengembalikan marwah atau waka Kabupaten Ende. Dengan  mengusung jargon, Membangun dari Desa dan Kelurahan, duet Marsel-Djafar berhasil mengubah wajah Kabapaten Ende. Ende dibangun dengan semangat kekeluargaan, melibatkan semua komponen masyarakat. Dengan semangat Lika Mboko Telu atau Tiga Batu Tungku, Keduanya merajut kebersamaan antara pemerintah dengan tokoh agama dan tokoh adat, untuk sama-sama membangun demi mewujudkan Ende Sare-Lio Nage Pawe, menuju Ende yang mandiri dan sejahtera. Sayangnya, impiannya untuk terus membangun dan  memajukan Ende lima tahun lagi berhenti di tengah jalan. Ia dipanggil Sang Empunya kehidupan ini mendahului orang-orang yang dicintainya, sebelum menuntaskan mimpi dan  cita-citanya.

    Ibarat kata pepatah, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan nama. Demikianpun  Kae Marsel. Rabu, 28 Mei 2019, pada prosesi pemakamannya, Ende menjadi kota mati. Ribuan warga tumpah ruah memadati Gereja Santu Joseph Freinademetz Mautapaga, ruas jalan El Tari, Halaman Kantor Bupati dan Kompleks Pemakaman Paroki Santu Joseph Onekore. Kae Marsel dilepas dengan banjir air mata dan ratap pilu.

    Betapa hatiku takkan pilu.Telah gugur pahlawanku. Betapa hatiku takkan sedih Hamba ditinggal sendiri  ..Telah gugur Pahlawanku,Tunai Sudah Janji Bhakti..

    Ribuan pelajar berbaris  di pinggir jalan El Tari dan memenuhi lapangan upacara Kantor Bupati Ende dengan memegang replika burung garuda di tangan. Replika ini mengingatkan kita, akan gagasan Kae Marsel untuk menggelar parade 1000 replika burung garuda pada Parade Kebangsaan dan puncak peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2019.

    Genderang duka ditabuh. Kae Marsel dilepas dengan sebuah upacara kenegaraan dipimpin Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat. Hadir pada momentum itu, Forkopimda NTT, sejawatnya para bupati se-NTT dan Wali Kota Kupang serta sejumlah pejabat lainnya.Ende kehilangan seorang sosok pemimpin yang piawai dalam bertutur adat. Ia pergi membawa seribu duka dan sejuta kisah. 

    Kae Marsel lahir di Ende, 31 Oktober 1963. Ayahnya Piet Petu dan ibunya Mama Tina. Ia adalah Bupati ke-8 Kabupaten Ende. Berpasangan dengan Djafar H Achmad, sebagai Wakil Bupati Ende periode 2014-2019 dan terpilih kembali untuk masa kepemimpinan periode kedua, 2019-2024.

    Ia memiliki seorang istri bernama Matilda Gaudensia Ilmoe dan dua putra yakni Charlos Ronaldo CH. Sara dan Yosephus Dede Surya Sara. Ia adalah alumni SD Ende II tahun 1975, alumni SMPK Ndao Ende tahun 1979, alumni SMAK Syuradikara Ende tahun 1982 dan meraih gelar sarjana teknik dari Perguruan Tinggi ITN Malang tahun 1994.

    Selesai pendidikan sarjana teknik, Kae Marsel kemudian kembali ke Ende mendirikan dan menjadi Direktur Konsultan CV. Sao Ria Plan bermarkas di Jalan Rambutan selama tahun 1995 – 1998. Ia kemudian terjun ke dunia politik sebagai kader Partai Golkar Kabupaten Ende dan menjadi Anggota DPRD Kabupaten Ende periode Tahun 1999 – 2004.

    Karier politiknya pun terus menanjak ketika ia terpilih menjadi Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Ende periode 2004 – 2009 dan terpilih lagi untuk periode kedua 2009 – 2014. Pada kepemimpinan periode kedua Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Ende, ia juga dipercaya menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Ende periode 2009 – 2014.

    Dengan kepergian Kae Marsel, kita kehilangan seorang sahabat. Kata Kahlil Gibran, Sahabat adalah keperluan jiwa yang mesti dipenuihi. Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan hati dan kau suburi dengan penuh rasa terima kasih. Diapulalah naungan dan pendampingmu. Karena kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa memerlukan kedamaian.

    Jazad Kae Marsel telah membumi, bersama sang ayah dan bunda serta putra yang dikasihi mendampinginya. Ia berbaring tenang dalam pelukan ibu pertiwi. Beristirahatlah dalam kedamaian abadi Kae Marsel. Sang Kapten. Rakyat Kabupaten Ende merindukanmu. Doa kami untukmu di sana.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.