• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 28 Oktober 2020

     
    Home   »  Nasional
     
    Standar WHO tidak Bisa Diterapkan di NTT, Gubernur Laiskodat: Orang WHO tidak Pernah Pegang Linggis
    ALBERT VINCENT REHI | Rabu, 27 Mei 2020 | 12:03 WIB            #NASIONAL

    Standar
    Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat

     

     

    KUPANG,FLOBAMORA.NET-Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat menegaskan, standar yang diberikan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia,red), untuk penanganan Covid-19 seperti masuk ke New Normal tidak bisa ikuti, karena kebijakan di negara lain tidak bisa semuanya diterapkan di Indonesia, terutama di daerah ini.

    Penegasan tersebut disampaikan Gubernur Laiskodat saat menggelar rapat koordinasi secara virtual dengan pada bupati se-NTT dan Wali Kota Kupang, yang dihadiri unsur Forkopimda provinsi di Kupang, Selasa (26/5/2020).

    Ia mengatakan, virus itu tidak pernah mematikan siapapun di dunia ini. Yang positif lalu mati itu adalah orang yang punya penyakit bawaan lain. Lebih berbahaya adalah DBD, karena nyamuknya tidak ada batasan.

    “ Nyamuk tidak penah dikarantina atau ditracing. Hingga hari ini ada 50 orang NTT mati karena DBD. Sedangkan positif Covid-19 yang mati sampai saat ini hanya satu orang. Itupun karena ada penyaki bawaan,” ujarnya.

    Menurutnya, kalau NTT mengikuti standar WHO tidak bisa berjalan. NTT itu beda dengan WHO. Orang WHO tidak penah berkebun, tidak pernah pegang linggis. Tetapi mereka buat standar saja, dan tidak bisa diterapkan di semuia negara.

    NTT itu, sambungnya, berbeda. NTT berpikir sebagai orang miskin yang butuh makan.”Untuk itu saya tekankan, agar kita kembali beraktivitas pada 15 Juni 2020. NTT itu nornal. Kita tidak ada yang baru. Normal kita seperti biasa. Kesehatan kita dari Tuhan Allah sudah berikan,” paparnya.

    Kata dia, khusus NTT beraktivitas normal seperti biasa.Sebab, ketakutan ini sangat berbahaya.” Saya minta kita sudah normal kembali seperti biasa. Tidak ada lagi Work From Home. Karena di NTT, WFH itu adalah libur, sehingga tidak ada produktivitas dan efektivitas,” tambahnya.

    Ia juga meminta para bupati dan Wali Kota Kupang, untuk Tahun Anggaran 2020 dan 2021, fokus pada pemberdayaan ekonomi rakyat, terutama pertanian, perkebunan dan perikanan.”Saya harap para bupati dan wali kota proaktif dalam mendukung pogram-program tersebut,” imbuhnya. *** 

     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.