• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Selasa, 04 Agustus 2020

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Gubernur Laiskodat Desak Fraksi DSP Buktikan Koruptor di Jajaran Pemprov NTT
    ALBERT VINCENT REHI | Rabu, 08 Juli 2020 | 17:19 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Gubernur
    Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat

     

     

    KUPANG,FLOBAMORA.NET- Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat mendesak Fraksi Demokrat, Solidaritas, Pembangunan (DSP) DPRD Provinsi NTT untuk membuktikan oknum siapa yang melakukan korupsi di jajaran pemerintahan setempat.

    “Khusus dalam pemerintahan saya, jika ada yang korupsi, tunjuk di muka saya, jangan baca di podium ini lalu tidak ada nama orang itu, kasih ke saya. Kalau dalam satu minggu ini tidak sebutkan nama, saya akan pertimbangkan untuk mengambil langah hukum,” tandas Laiskodat dalam paripurna DPRD NTT, Rabu (8/7/2020).

    Rapat Paripurna itu dipimpin oleh Ketua DPRD Provinsi NTT, Emiliana J. Nomleni didampingi Wakil Ketua, Inche Sayuna, Christ Mboeik, dan Aloisius Ladi yang beragendakan penyampaian pendapat akhir fraksi atas laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Provinsi NTT tahun 2019.

    Gubernur Laiskodat menegaskan, jika dalam pemerintahannya diketahui ada aparat yang bermain-main maka akan ditindak tegas, asalkan dugaan yang disampaikan benar-benar didukung dengan bukti yang akurat.

    “Saya minta saudara Sekda untuk mempersiapkan langah-langah lain jika tidak disebutkan siapa orangnya.  Saya minta semua yang ada dalam forum ini jika ada dugaan dimana-mana ada yang main proyek maka perlu dievaluasi apalagi ada penyuapan seperti yang disampaikan tadi,” ujarnya.

    Gubernur Laiskodat mengatakan, tidak boleh dalam semangat kebersamaan lalu mengeluarkan tuduhan tanpa ada bukti-bukti hukum.  “Sebagai seorang politisi saya menyadari hal itu. Dan saya berdiri hari ini, saya tidak akan pernah korupsi, saya datang untuk membangun NTT. Jadi jika ada aparatur yang melakukan korupsi, silahkan bawa namanya, saya akan pecat sekarang. Kalau mau cari uang, saya tidak datang di NTT, saya datang untuk membangun provinsi ini,” tegasnya yang membuat suasana di ruang sidang utama DPRD NTT itu hening seketika.

    Sebelumnya, juru bicara Fraksi Demokrat, Solidaritas, Pembangunan DPRD Provinsi NTT, Christian Widodo dalam pendapat akhir fraksi menyoroti realisasi belanja langsung yang hanya mencapai 85,52%, belanja barang dan jasa hanya mencapai 88,59% dan belanja modal hanya 80,37%.

    “Kami mendesak Pemerintah lebih serius merealisasikan belanja barang dan jasa serta belanja modal karena indikator output maupun outcome-nya bersentuhan langsung dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat,” sebut Christian.

    Ia, berulang kali Pemerintah berdalih rendahnya realisasi belanja barang dan jasa serta belanja modal disebabkan karena keterlambatan pihak ketiga menyelesaikan pekerjaan; dan sebagai solusinya Pemerintah berulang kali sesumbar tanpa beban bahwa akan mempercepat tahap penandatanganan kontrak pekerjaan-pekexjaan konstruksi di awal tahun anggaran.

    “Tetapi faktanya, realisasi belanja barang dan jasa serta belanja modal selalu di bawah 90% sehingga terpaksa dilanjutkan ke tahun anggaran berikut melalui mekanisme DPAL (Dokumen Pelaksana Anggaran Lanjutan). Sulit dibantah pula fakta bahwa keterlambatan pihak ketiga menyelesaikan pekerjaan-pekezjaan konstruksi juga disebabkan karena yang bersangkutan memenangkan (dimenangkan) beberapa pekerjaan sekaligus yang melampaui kemampuannya. Kami meminta Pemerintah benarbenar memperhatikan dan mencermati apek kemampuan pihak ketiga dalam penentuan pemenang pekerjaan-pekerjaan pemerintah,” ujar politisi Partai Solidarita Indonesia ini.

    Fraksi Demokrat, Solidaritas, Pembangunan juga menyoroti SILPA yang cukup besar, yang mencapai Rp 282,629 M lebih (2018: Rp.212,794 M lebih).

     “Silpa ini sesungguhnya menggambarkan kekurangcermatan dalam perencanaan dan pelaksanaan yang berujung kegagalan realisasi sejumlah item belanja daerah, terutama dari sisi belanja langsung maupun belanja modal,” ujarnya.***

     

     

     

     

     


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.