• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 27 Januari 2022

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    Tenun Ikat, Wujud Ekspresi Internasional
    VICKY DA GOMEZ | Jumat, 14 Maret 2014 | 14:36 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    Tenun
    Wabup Sikka, Paolus Nong Susar (kiri)

     

     
    Maumere, Flobamora.net - Wakil Bupati Sikka Paolus Nong Susar mengatakan tenun ikat dari Kabupaten Sikka merupakan salah satu wujud ekspresi asli masyarakat Kabupaten Sikka untuk dunia internasional.

    Ini terbukti dari cukup banyak pejabat di level nasional dan internasional yang mengenakan pakaian dari hasil tenun ikat Kabupaten Sikka.

    Hal ini dikemukakan Wabup Paolus Nong Susar di Sea World Club saat menghadiri kampanye perlindungan atas tenun ikat Kabupaten Sikka, Jumat (14/3).

    Kampanye ini dihadiri oleh Daniel selaku koordinator proyek kekayaan intelektual Indonesia- Swiss, Dewi Tio dari Swiss Secretariat Economi Affair (SECO), Tri Reni Direktur Industri Hijau dari Kementerian Perindustrianan RI, Saki Septiono dan Ranorohi dari Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI, dan Waty Suhadi Direktur Eksekutif Yayasan Sahabat Cipta.

    Menurut Wabup Nong Susar, kerajinan tenun ikat masih lebih kepada pemenuhan kehidupan bermasyarakat dan budaya. Fungsi sosial dari tenun ikat menjadi sangat prioritas. Apalagi dengan segala proses adat istiadat yang mana tenun ikat berupa kain sarung selalu menjadi media yang sangat penting.

    Selain itu, katanya, tenun ikat juga menjadi media untuk memenuhi fungsi ekonomi. Hasil tenun ikat biasanya dipasarkan untuk peningkatan pendapatan. Lebih dari itu, tenun ikat dengan menggunakan bahan pewarna alam juga berperan sebagai fungsi ekologis. Dari fungsi ini, masyarakat pengrajin diajak untuk ramah lingkungan dan membangun tata alam secara baik.

    Wabup Nong Susar menyambut baik  upaya yang dilakukan Yayasan Sahabat Cinta yang bekerjasama dengan perwakilan pemerintahan Swiss di Indonesia untuk melakukan perlindungan terhadap tenun ikat Sikka.

    Jauh sebelum itu, tambahnya, dirinyaa sudah pernah melakukan penelitian tentang tenun ikat agar bisa mendapat pengakuan sebagai kekayaan intelektual masyarakat Kabupaten Sikka.

    “Kerja itu belum final, dan sekarang dengan adanya upaya ini tentu pemerintah akan sangat mendukung. Kami berharap dalam waktu dekat sudah bisa ada pengakuan terhadap tenun ikat Sikka,” harapnya.

    Di bagian lain, David, seorang pengrajin tenun ikat dari Rumah Seni Watubo Watublapi mengaku senang dengan rencana pengakuan terhadap tenun ikat Sikka. Dia berharap rencana ini segera teralisir sehingga bisa menambah kreatifitas para pengrajin tenun ikat.***

     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2022 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.