• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 01 Oktober 2020

     
    Home   »  Opini
     
    Pembangunan Bendungan di NTT dan Visi Indonesia Maju
    ALBERT VINCENT REHI | Sabtu, 15 Agustus 2020 | 10:34 WIB            #OPINI

    Pembangunan
    Bendungan Rakanamo di Kabupaten Kupang, NTT Foto: Regina Mayaa

     

     

    Oleh : Albert Vincent Rehi

    LIMA tahun terakhir, pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) mulai membangun tujuh bendungan Nusa Tenggara Timur (NTT). Secara keseluruhan bendungan tersebut akan menampung 188 juta metrik kubik (m3) air yang dapat dimanfaatkan untuk irigasi, sumber air baku, pembangkit listrik, dan pariwisata.

    Pembangunan tujuh bendungan tersebut merupakan bagian dari 49 bendungan yang diprogramkan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK),yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari visi besar pembangunan infrastrukur di Indonesia.

    Tidak bisa kita pungkiri, ini adalah sebuah perhatian yang sangat luar biasa dari pemerintah pusat untuk Nusa Tenggara Timur. Bahkan, Presiden Jokowi sudah lebih dari sepuluh kali mengunjungi NTT, untuk melihat dari dekat kehidupan masyarakat dan memantau perkembangan pembangvunan infrastruktut di provinsi berbasis kepulauan ini.

    Kita menyadari, pembangunan tujuh bendungan tersebut, berkaitan erat dengan pembangunan NTT sebagai salah satu daerah tertinggal di Indonesia. Biaya pembangunan tujuh bendungan tersebut senilai Rp 5,9 triliun. Ini sangat penting bagi masyarakat NTT yang kerap mengalami kekurangan air. Dananya,murni digelontorkan pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

    Sebagaimana diketahui, lima bendungan sendiri berada di Pulau Timor yakni Bendungan Raknamo, Rotiklot, Manikin, Temef dan Kolhua. Sedangkan dua lainnya berada di Pulau Flores yakni Napun Gete, dan Mbay.

    Dari tujuh bendungan, dua bendungan telah selesai yaitu Raknamo dan Rotiklot. Sementara dua bendungan dalam tahap konstruksi yaitu Napun Gete, dan Temef. Sementara tiga bendungan dalam tahap perencanan dan persiapan yaitu Mbay, Manikin dan Kolhua.

    Bendungan Raknamo misalnya, dimulai pembangunannya (groundbreaking) oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada tanggal 20 Desember 2014 dan diresmikan pengisiannya oleh presiden pada 9 Januari 2018. Penyelesaian pembangunan bendungan ini lebih cepat 13 bulan dari target semula yakni Januari 2019.

    Bendungan Raknamo adalah sebuah bendungan yang terletak di Desa Raknamo, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang, Bendungan ini, akan mengairi areal persawahan seluas 1.250 hektare. Pembangunan bendungan ini menghabiskan biaya sekitar Rp 760 miliar.Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan air dan listrik warga.Bendungan ini dapat pula menghasilkan listrik sebesar 0,22 megawatt (MW).

    Setelah Raknamo, yang sudah selesai adalah Bendungan Rotiklot dengan kapasitas 3,2 juta m3 pada Maret 2018 atau lebih cepat delapan bulan dari jadwal semula.Bendungan Rotiklot berada di Atambua Kabupaten Belu. Daya tampungnya relatif kecil karena daerahnya sangat kering.

    Bendungan Rotiklot di Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak tepat terletak di batas wilayah Indonesia dengan Timor Leste. Adapun manfaat dari bendungan yang dibangun dengan biaya Rp 450 miliar dari dana PBN Perubanan Tahun 2015, sebagai penyedia air irigasi seluas 139 hektar (padi), 500 hektar (palawija),mengurangi debit banjir sebesar 500 m³/detik, penyedia listrik sebesar 0,15 MW, sebagai suplai air baku untuk masyarakat dan Pelabuhan Atapupu sebesar 40 liter/detik dan pengendalian banjir di wilayah Ainiba. Masyarakat juga bisa menjadikan bendungan ini sebagai objek pariwisata.

    Lalu, Bendungan Napun Gete berkapasitas tampung 6,9 juta m3 ditargetkan selesai tahun 2020. Sementara Bendungan Temef dengan kapasitas tampung 56 juta m3 dengan target selesai tahun 2022.

    Pembangunan bendungan-bendungan tersebut, membuktikan, betapa seriusnya perhatian pemerintah pusat membangun sebuah daerah tertinggal dan kering seperti NTT, Sedangkan tujuan pembangunan bendungan itu sendiri untuk memenuhi dan menanggulangi kebutuhan air.

    Menurut Presiden Joko Widodo pembangunan tujuh bendungan di NTT pantas dilakukan mengingat air merupakan kunci pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Di tempat lain pemerintah hanya membangun dua atau tiga bendungan, sedangkan di NTT tujuh bendungan.

    Keberadaan bendungan ini membuat masyarakat bisa mendapatkan pasokan air yang cukup untuk bercocok tanam. Dengan air bisa tanam padi, tanam singkong dan lain sebagainya. Ini juga merupakan perwujudan dari Visi Indonesia Maju, yang dicanangkan Presiden Jokowi.

    Indonesia Maju

    Di masa kepemimpinan Presiden Jokowi, visi Indonesia Maju terus digelorakan. Visi ini membutuhkan adanya lompatan besar dalam merancang strategi pembangunan nasional, utamanya untuk memastikan terjadinya akselerasi pencapaian Indonesia maju dengan GDP ke-5 terbesar pada 2045.

    Bila mencermati berbagai capaian yang telah  diraih oleh  bangsa Indonesia  dalam lima tahun terakhir ini, sesungguhnya kita telah memiliki modal awal untuk menuju Indonesia maju.

    Negeri ini telah memiliki fondasi yang kokoh untuk mencapai cita-cita Indonesia maju tersebut, sebagai buah dari masifnya pembangunan infrastruktur di Indonesia dalam lima tahun terakhir, kita dapat menyaksikan berbagai pembangunan infrastruktur yang sudah mulai dirasakan manfaatnya dalam mendorong bergeraknya ekonomi regional.

    Pembangunan infrastruktur secara massif dan menyebar ke seluruh wilayah Indonesia ini digagas guna memastikan terjaminnya ketersediaan infrastruktur agar dapat dapat menjadi lompatan bagi Indonesia untuk menuju negara maju, sekaligus dapat lepas dari perangkap sebagai negara berkembang saja atau “middle income trap”.

    Dalam hubungan infrastruktur dengan pembangunan ekonomi, lebih lanjut dijelaskan dalam Todaro (2006) bahwa tingkat ketersediaan infrastruktur di suatu negara adalah faktor penting dan menentukan bagi tingkat kecepatan dan perluasan pembangunan ekonomi. Pembangunan infrastruktur merupakan modal atau kapital dalam upaya peningkatan produktivitas perekonomian negara serta usaha peningkatan taraf hidup masyarakat secara luas.

    Penelitian mengenai pengaruh infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi yang dilakukan David Aschauer (1989) dengan menggunakan model produksi Cobb-Douglas, diperoleh hasil bahwa terdapat korelasi positif antara investasi infrastruktur dengan produktivitas output yang dihasilkan. Core infrastructure seperti transportasi, energi, dan air memiliki dampak yang lebih besar dari pada infrastruktur lain seperti bangunan dan rumah sakit.

    Ilustrasi di atas menjadi jelaslah, keberlanjutan pembangunan infrastruktur, yang menjadi dasar lompatan ekonomi Indonesia menuju negara maju, menjadi penting untuk kita sukseskan implementasinya, dengan terus membangun konstribusi positif dan sinergitas diantara seluruh pemangku kepentingan sebagai perwujudan spirit Indonesia incorporated.

    Kita patut mengapresiasi langkah strategis Presiden Jokowi dengan menjadikan keberlanjutan pembangunan infrastruktur sebagai salah satu pilar dalam Visi Indonesia Maju pada periode kedua pemerintahannya, keberlanjutan pembangunan infrastruktur yang difokuskan pada upaya memastikan terjalinnya konektivitas dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi rakyat, seperti pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata dan lainnya perlu terus didukung agar terjadi akselerasi keberlanjutan implementasinya.

    Langkah strategis ini diyakini akan dapat berkonstribusi dalam peningkatan kesejahteraan rakyat, karena keberlanjutan pembangunan infrastruktur memainkan peranan vital dalam sektor ekonomi, hal tersebut didukung oleh World Bank (1994) yang menyatakan bahwa peningkatan stok infrastruktur secara rata-rata sebesar satu persen akan berdampak pada peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar satu persen. Hal tersebut berarti semakin besar pembangunan infrastruktur, semakin besar pula potensi peningkatan PDB.

    Keberlanjutan pembangunan infrastruktur ekonomi juga sangat diperlukan untuk menggeser ekonomi berbasis konsumsi menjadi ekonomi berbasis investasi, konektivitas yang tersambung akan menurunkan biaya logistik dan mendorong bergairahnya investasi produktif pada berbagai wilayah.

    Kita tentunya berharap dengan adanya akselerasi keberlanjutan pembangunan infrastruktur di Indonesia akan dapat dapat membawa manfaat yang lebih besar pemerataan pembangunan, pemerataan pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja baru.

    Kebijakan ekonomi Indonesia harus terus diarahkan untuk pembangunan ekonomi yang lebih inklusif dan berkualitas yang pada akhirnya dapat mengurangi kemiskinan, mengurangi ketimpangan, dan meningkatkan penyediaan lapangan kerja untuk mengatasi masalah pengangguran

    Memacu akselerasi pembangunan infrastruktur bukanlah tanpa alasan, ahli ekonomi pembangunan, Rosentein-Rodan misalnya, sejak lama telah mengampanyekan pentingnya pembangunan infrastruktur secara besar-besaran, sebagai pilar pembangunan ekonomi yang dikenal kemudian dengan nama big-push theory.

    Beberapa hasil studi juga menyebutkan hasil pembangunan infrastruktur memiliki peran sebagai katalisator antara proses produksi, pasar, dan konsumsi akhir serta memiliki peranan sebagai social overhead capital yang berkonstribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

    Secara ekonomi makro ketersediaan dari jasa pelayanan infrastruktur mempengaruhi marginal productivity of private capital, sedangkan dalam konteks ekonomi mikro, ketersediaan jasa pelayanan infrastruktur berpengaruh terhadap pengurangan biaya produksi.

    Masifnya keberlanjutan pembangunan infrastruktur ini kita harapkan dapat terus dijamin keberlanjutannya guna mengakselerasi transformasi ekonomi Indonesia dan berkonstribusi positif dalam mempercepat pemerataan pembangunan, menggerakkan  ekonomi  produktif rakyat, sehingga seluruh wilayah di Indonesia menjadi bagian penting dari rantai produksi regional dan global (regional and global production chain) yang berperan dalam  memeratakan pembangunan dan keadilan ekonomi ke seluruh wilayah NKRI, sehingga visi Indonesia maju melalui pilar keberlanjutan pembangunan infrastruktur dapat mengantarkan Indonesia menjadi negara maju 2045.

    Berkaitan dengan pembangunan infrastuktur di negeri ini, Presiden Jokowi pernah berujar “Pembangunan infrastruktur akan terus kita lanjutkan. Infrastruktur yang besar sudah kita bangun, ke depan akan kita bangun lebih cepat. Infrastruktur seperti jalan tol, kereta api, kita sambungkan dengan kawasan industri rakyat, ekonomi khusus, pariwisata, persawahan, perkebunan, perikanan. Arahnya harus ke sana, fokusnya harus ke sana,”. Mudah-mudahan.***

     

     

     

     

     

     


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.