• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 25 November 2020

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Fokus Pembangunan di NTT Mulai dari Desa
    ALBERT VINCENT REHI | Sabtu, 29 Agustus 2020 | 13:17 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Fokus
    Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat saat menghadari coffee morning dengan awak media Foto :Humas

     

     

    KUPANG,FLOBAMORA.NET- Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) menegaskan semua perencanaan pembangunan harus dimulai dari desa. Kalau itu dimulai dari desa, apa saja yang harus dikerjakan, sumber dayanya dan berapa banyak anggarannya.

    “Saran dari teman-teman wartawan banyak. Antarara lain pegembangan sorgum berbarengan dengan program Tanam Jagung Panen Sapi. Ini ide yang sangat brilian,” kata  Gubernur VvBL pada acara coffee morning dengan awak media di Kupang, Jumat (28/8/2020) kemarin.  

    Ia mengatakan, karena fokus pembangunan adalah desa, arah kebijakan pengembangan pertanian  di NTT saat ini ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup petani. Agar para petani tidak hanya berorientasi sekadar untuk penuhi kebutuhan rumah tangga tapi bisnis.

    Menurutnya, konsep pemerintah dalam pengembangan petani adalah mengarahkan mereka dari buruh tani  menjadi pengusaha petani. Kalau ini dikerjakannya dengan baik, NTT dapat bersaing dengan negara lain khusus di pertanian. NTT bukan lagi menyodorkan buruh tani tapi pengusaha tani yang mindsetnya adalah bisnis.

     “Salah satu sebab  pertanian di NTT belum maju adalah karena belum ada kolaborasi yang baik antara pemerintah, petani atau masyarakat dan pengusaha. Minimal dalam teori pembangunan, kolaborasi ketiganya yang disebut triple helix harus bisa dioptimalkan,” katanya.

    Itu berarti., sambung VBL, Pemerintah Provinsi NTT akan memfasilitasi masyarakat meningkatkan hasil pertanian dan ada pengusaha yang mau menginvestasikan dana serta menampung hasil pertanian. Pemerintah provinsi terus mendorong agar kolaborasi  triple helix ini dapat berjalan dengan baik.

    Ia menuturkan, arah kebijakan pembangunan pertanian di NTT harus bisa menurunkan angka kemiskinan. Kemiskinan terbesar ada di Pulau Sumba dan Timor. Berdasarkan data statistik 2019, urutan pertama presentasi penduduk miskin terbanyak adalah Sumba Tengah 34,62 persen, terus diikuti Sabu Raijua 30,52 persen, Sumba Timur 30,02 persen,lalu dikuti Sumba Barat 28,29 persen, Sumba Barat Daya 28,06 persen,  Rote Ndao 27,95 persen,TTS 27,87 persen.

    “Saya minta kepada Bappeda (Bappelitbangda) agar 60 persen anggaran ke depan di bidang pertanian, peternakan dan pendidikan diarahkan ke dua pulau ini. Karena kalau kita terapi kedua pulau ini secara benar, otomatis angka kemiskinan kita akan menurun jauh. Sambil daerah lainnya tetap kita perhatikan dengan baik, agar angka kemiskinan tidak naik,” ujarnya.

    Ia memaparkan, data-data  pertanian seperti lahan, potensi air serta berbagai data terkait pertanian lainnya sedang dikerjakan. Karena sampai sekarang data seperti ini belum lengkap. Kalau sebelumnya sudah ada, pertanian NTT saat ini pasti akan mengalami percepatan luar biasa.

    Kata dia,tujuan pembangunan sektor pertanian adalah menjadi bagian dari rantai nilai pariwisata, supply chain dari pariwisata. Saat Pariwisata Labuan Bajo menjadi daya tarik utama dan prime mover pariwisata NTT,

    “ Kita harus pastikan supply chainnya dari NTT. Seperti telur ayam, daging ayam, ikan, sayur, bawang, cabe dan kebutuhan harus dari Flores, Timor dan Sumba. Ini tentu akan menguntungkan para petani,” ucapnya.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.