• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Sabtu, 16 Januari 2021

     
    Home   »  Nasional
     
    Jejak Erupsi Gunung Ile Lewotolok
    ALBERT VINCENT REHI | Selasa, 01 Desember 2020 | 20:07 WIB            #NASIONAL

    Jejak
    Gunung Ile Lewotolok

     

     
    LEWOLEBA- Sebanyak 5.526 warga mengungsi ke Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), usai gunung Ile Lewotolok mengalami erupsi pada Minggu (29/11). Ribuan pengungsi ditampung di 13 lokasi, masing-masing halaman kantor bupati lama sebanyak 514 orang, aula Angkara 169 orang, aula BKD 46 orang, los pasar Lamahora 112 orang.

    Kemudian di aula Lewoleba Tengah terdapat 286 orang, di aula Lewoleba Barat 286 orang, aula Selandoro 1.015 orang, aula Lewoleba Timur 1.042 orang, aula Lewoleba Selatan 467 orang, aula Lewoleba Utara 105 orang, kelurahan Lewoleba 347 orang, Desa Tapulangu, Kecamatan Lebatukan 287 orang dan Parak Walang Ile Ape 456 orang.

    Sekda Kabupaten Lembata, Paskalis Tapobali menjelaskan, letusan Gunung Ile Lewotolok tercatat pernah terjadi pada tahun 1660 kemudian tahun 1819 dan 1849. Pada tanggal 5 dan 6 Oktober 1852 terjadi letusan yang merusak daerah sekitarnya, dan memunculkan kawah baru serta kompleks solvatara di sisi timur tenggara.

    Letusan gunung ile Lewotolok juga terjadi pada tahun 1864, 1889 dan terjadi pada 1920. Pada tahun 1939 dan 1951 terjadi kenaikan aktivitas vulkanik gunung Ile Lewotolok. Letusan gunung Ile Lewotolok berupa lontaran lava pijar, abu, awan panas dan embusan dari kawah beracun.

    Gunung api ini sempat mengalami masa krisis gempa pada januari 2012. dan saat itu TBMBG meningkatkan status gunung dari normal ke waspada hingga siaga dalam waktu kurang dari 1 bulan.

    Status aktivitas vulkanik gunung ditingkatkan dari aktivitas normal ke waspada sejak terhitung pada tanggal 7 Oktober 2017 pukul 20.00 WITA.

    Saat ini skalasi Gunung Ile Lewotolok yakni pada tanggal 26 November 2020 berstatus waspada yang terekam gempa tremor tidak menerus pada seismometer.

    Pada 27 November 2020 berstatus waspada, yaitu terjadi erupsi pukul 05.57 WITA, aktivitas kegempaan usai erupsi sempat mengelami sedikit penurunan.

    Sementara pada 29 November 2020, berstatus siaga yaitu erupsi kedua pukul 09.45 WITA. Selanjutnya kegempaan yang mengindikasikan adanya suplai magma dari kedalaman kembali meningkat berupa enam kali gempa vulkanik dalam (VA).

    "Tremor menerus kemudian muncul mulai sekitar 15 menit sebelum erupsi terjadi," jelas Paskalis, Selasa (1/12).

    Sementara itu, dalam penanganan para pengungsi saat ini Pemkab Lembata membutuhkan banyak bantuan terutama makanan, minuman dan bahan kebutuhan dasar lainnya.

    "Bahwa pemerintah Kabupaten Lembata membutuhkan bantuan, dari semua pihak untuk memenuhi kebutuhan warga pengungsi baik berupa material maupun dukungan moril dan pelayanan kesehatan," ujar Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur di lokasi pengungsian.

    Bupati menjelaskan, seluruh tenaga outsourcing perawat yang sudah dirumahkan, akan dipanggil kembali untuk membantu penanganan Covid-19 dan bencana erupsi gunung Ile Lewotolok.

    Sementara para pengungsi yang berada di posko Tapulangu akan dievakuasi ke Posko utama Kota Lewoleba. Bupati juga mengharapkan bantuan Danlatamal VII Kupang guna memperlancar evakuasi usai bencana erupsi.***


     


    Sumber: MERDEKA.COM




    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2021 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.