• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 16 September 2019

     

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    Sabu Raijua, Geliat Kota Para Dewa
    ALBERT R. | Minggu, 15 Desember 2013 | 21:12 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    Sabu
    Kampung Adat Sabu

     
    SIAPA yang tidak kenal Sabu Raijua?  Wilayah  ini adalah kabupaten ke-21 di Provinsi Nusa
    Tenggara Timur (NTT) saat ini. Terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2008 pada
    26 Nopember 2008, Sabu Raijua merupakan pemekaran dari Kabupaten Kupang.

    Sabu Raijua merupakan Kabupaten paling Selatan di wilayah NKRI. Potensi pariwisata di
    Kabupaten ini sungguh menakjubkan. Baik wisata alam, wisata bahari dan wisata budaya semuanya
    ada di Sabu Raijua. Bahkan, hingga kini, masih ada agama suku (Jingitiu, sebutan agama suku)
    yang masih dianut oleh masyarakat Sabu Raijua.

    Meski masih “balita” Kabupaten Sabu Raijua kini tengah bergeliat dalam pembangunan menuju
    Kabupaten yang inovatif,maju dan bermartabat.

    Dalam sebuah kesempatan di Kupang belum lama ini, Bupati Sabu Raijua, Marthen Luter Dira Tome,
    mengatakan, visi besar yang diembannya ketika dipercaya mayoritas masyarakat yang mendiami
    negeri sejuta lontar itu adalah mewujudkan Sabu Raijua sebagai Kabupaten yang inovatif, maju,
    dan bermartabat.

    Dalam setiap kesempatan bertatap muka dengan masyarakat, misi selalu digelorakan sang Bupati.
    Ia selalu memotivasi masyarakat agar misi bisa tercapai melalui berbagai Program Pembangunan
    Berbasis Masyarakat (People Based Development Programs).

    Menurutnya, visi dan misi ini merupakan kekuatan moral yang memberikan motivasi, mendorong
    dan memberi arah kepada pencapaian cita-cita untuk mencapai peningkatan kesejahteraan
    masyarakat Sabu Raijua.

    Di sisi lain, guna mempercepat proses pertumbuhan ekonomi rakyat dan peningkatan pendapatan
    sesuai dengan sumber daya yang ada di Sabu Raijua dan yang dapat didatangkan dari luar, Dira
    Tome memiliki strategi lainnya. Setidaknya ada tiga program utama yang dijadikan prioritas,
    yaitu penciptaan lapangan kerja dan peningkatan ekonomi masyarakat, pemeliharaan dan
    peningkatan derajat kesehatan masyarakat, dan peningkatan pendidikan.

    “Apa saja yang menjadi potensi Sabu Raijua akan dikembangkan dan diramu menjadi program yang
    prorakyat,” katanya.

    Jika Bali dikenal di seantero dunia sebagai pulau dewata, maka Sabu Raijua bakal dikenal
    sebagai kota para dewa.

    Begitulah impian Bupati Dira Tome. Itu pun bukan sekedar impian. Pasalnya, kepercayaan
    terhadap pengaruh para dewa di Sabu Raijua hingga kini masih ada dan terpelihara sejak turun
    temurun. Kepercayaan terhadap pengaruh para dewa terhdapa keberlangsungan hidup orang Sabu
    Raijua dikenal dengan agama suku atau “Jingitiu”.

    Bahkan aliran Jingitiu telah diakui semua kalangan si Sabu Raijua sebagai aliran kepercayaan
    yang resmi. Dalam setiap kesempatan yang ritual aliran Jingitiu, kelompok ini menghadirkan
    para dewa.

    Kaum Jingitiu mengakui adanya kekuatan dari para dewa yang sangat berpengaruh terhadap
    kehidupannya. Kaum ini juga meyakini dengan sesungguhnya bahwa ada kehidupan setelah
    kematian.

    “Saya selalu mengatakan bahwa jika Bali dikenal sebagi pulau dewata maka Sabu adalah Kota
    para dewa,” katanya.

    Optimisme itu bukan muncul tiba-tiba namun lahir karena keberadaan aliran Jingitiu dengan
    berbagi upacara dan ritual untuk menghadirkan para dewa. “Mereka dengan songgoh-songgoh-nya
    dan mereka memanggil para dewa untuk menikmati sesajian. Jika ritual ini dilaksanakan tiap
    bulan maka para dewa akan datang tiap bulan. Dan itu yang membuat saya termotivasi memelihara
    dan menjadikan Sabu sebagai Kota para Dewa,” katanya.

    Di NTT kata dia, aliran serupa juga ada di Sumba yang disebut Merapu, di Timor ada Boti, dan
    di Sabu ada Jingitiu. Ini " agama suku" yang harus dilindungi. Dira Tome mengatakan, dahulu
    ketika semua ritual Jingitiu dijalankan dan dipelihara dengan baik, apapun yang diharapkan
    para tetua adat akan jadi.

    Dia mencontohkan, jika hujan tak kunjung datang maka mereka lakukan ritual untuk memanggil
    hujan, dan akan datang hujan.

    Saat ini, aliran Jingitiu kurang dilindungi dan difasilitasi oleh pemerintah dan elemen
    masyarakat lain. Bahkan, di tengah persoalan kemiskinan dan keterbatasan yang dialami para
    penganut Jingitiu akan berdampak pada lunturnya daya magis dari sebuah ritual.

    Hingga kini, jumlah masyarakat Sabu Raijua yang menganut aliran Jingitiu semakin berkurang.
    Diperkirakan sekitar 10 persen dari jumlah penduduk Sabu Raijua. Hal itu, menurut Dira Tome
    lantaran ada kebijakan masa lalu yang keliru. Selain itu, ada kegiatan upacara adat yang
    tidak bisa diabaikan karena aliran Jingitiu penuh dengan ritual dan prosesi adat. Bahkan,
    dari bulan ke bulan ada ritual yang wajib dilakukan oleh kepercayaan Jingitiu.

    Bagi Dira Tome, melestarikan budaya termasuk memelihara aliran Jingitiu di Sabu merupakan
    ciri orang bermartabat . Langkah perlindungan yang ditempuh itu selain sebagai tujuan promosi
    pariwisata budaya juga untuk memberikan perlindungan dan penghormatan kepada agama suku ini
    agar tetap ada.

    “Kita tidak dipaksakan untuk percaya dengan aliran itu, tetapi mari kita menghormatinya
    sebagai budaya dan harus dilestarikan. Orang Sabu Raijua akan rugi besar kalau aliran ini
    dipaksa untuk punah," paparnya.

    Dia menambahkan, Jingitiu adalah kekuatan dahsyat yang akan diangkat  ke permukaan agar
    dijual sebagai kekayaan besar bidang pariwisata. Pemerintah ingin agar Sabu Raijua menjadi
    destinasi karena ada kebudayaannya sebagai kekuatan utama.*** 

     
    BERITA TERKAIT
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.