• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 27 Januari 2022

     
    Home   »  Travel
     
    Kure, Prosesi Paskah Tradisional di Noemuti
    ALBERTO/ RISKY R | Sabtu, 12 April 2014 | 08:42 WIB            #TRAVEL

    Kure,
    Ritual Sef Mau atau Membuang Sial

     

     

    Flobamora.net – UMAT Katolik di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)  memiliki dua tempat bersejarah sekaligus menjadi titik awal penyebaran agama Katolik di daerah tersebut. Kedua bukti sejarah itu adalah adalah Prosesi Jumat Agung di Larantuka, Kabupaten Flores Timur dan Prosesi Kure - Prosesi Paskah Tradisional di Noemuti Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) .

     

    Selama ini banyak orang mengenal Prosesi Jumat Agung,yang melegenda di Flores Timur. Ternyata, ada sebuah tradisi yang juga masih dipertahankan hingga saat ini oleh masyarakat Noemuti, di Kabupaten Timor Tengah Utara, yaitu Prosesi Paskah Tradisional yang lazim dengan sebutan Kure.

     

    Kedua ritus yang syarat dengan nilai religius ini menjadi dapat menjadi pilihan bagi umat Katolik untuk merayakan Tri Hari Suci sekaligus sebagai wahana memperdalam  iman umat.

     

    Daerah ini merupakan salah satu titik sejarah dan cikal bakal hadirnya agama Katolik di pulau Timor. Menurut sejarah, wilayah Kote-Noemuti, 224  kilo meter  arah Timur Kota Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada masa penjajahan, menjadi wilayah kekuasaan Belanda. Namun kemudian,wilayah ini  diduduki Portugis karena ditukar dengan Maukatar, salah satu daerah di Timor Leste sekarang,yang lebih dikenal dengan Oecusee,  sebagai wilayah kekuasaan portugis yang diduduki Belanda pada tanggal 1 November 1916.

     

    Tentara Portugis (Topasis) yang saat itu datang bersama para imam Katolik  Fransiskan kemudian memperkenalkan dan menyebarkan agama Katolik yang mereka anut ke penduduk Kote-Noemuti. Salah satu peninggalan para imam Fransiskan dalam misi penyebaran iman katolik adalah dengan menempatkan patung-patung kudus dan benda-benda devosional pada rumah-rumah adat (ume mnasi)  yang ada di Kote-Noemuti.

     

    Penempatan patung-patung para kudus dan benda-benda devosional ini diikuti dengan sebuah tradisi penumbuhan iman, doa bergilir dari satu rumah adat ke rumah adat (ume usi neno)  saat tri hari suci paskah  Tradisi doa bergilir (kulture religi) memasuki Tri Hari Suci bagi umat Katolik dilaksanakan pada malam Kamis  Putih dan Malam Jumad Agung sebagai rangkaian memperingati Hari Raya Paskah ini disebut tradisi Kure. Prosesi yang terus diwarisi umat katolik di Paroki Hati Kudus Yesus Noemuti ini meliputi beberapa tahapan yakni :

     

    TREBLUMAN /DOA PENGOSONGAN DIRI

     

    Prosesi  Kure  diawali  dengan ritual pengosongan diri/boe nekaf pada hari Rabu satu hari  sebelum memasuki Tri Hari Suci yakni ritual Trebluman. Semua rumpun suku ume uis neno berkumpul bersama-berdoa, merenung dan menyesali  dosa – to’as, nek  amle’ut  polin- untuk siap memasuki minggu sengsara . Tempat tinggal- ume uis neno sebagai tempat awal  memulai segala karya dan tempat kembali membawa suka dan duka juga harus dikosongkan dari pengaruh roh jahat.  Utusan ume  uis  neno bersama umat   berdoa bersama di gereja.

     

    Dengan menyalakan 13 lilin berbentuk kerucut mengelilingi altar yang melambangkan Yesus dan 12 rasul . Di setiap  akhir  lagu dipadamkan  2 lilin secara berturut-turut sampai lilin ke-12.  Sedangkan lilin yang ke 13  yang dibiarkan bernyala disimpan di bawah  altar, pada aat yang bersaaman lampu gereja dipadamkan dan lonceng gereja dibunyikan 3  kali.

     

    Sala satu tahapan yang penting juga adalah tahapan pengusiran roh jahat. Bersamaan dengan dibunyikan lonceng yang ke-tiga, umat  dalam gereja bertepuk tangan. Lampu-lampu   pada semua rumah di Kote dipadamkan. Biasanya pemadaman ini dilakukan oleh semua ume usi neno. Bunyi-bunyian dengan bertepuk tangan dan memukul dinding rumah  sambil menyerukan poi  ri rabu- enyahlah  roh jahat”…!!!

     

    Tradisi ini dilakukan   secara bersama oleh  penghuni  ume usi neno. Salah satu amnasit  kemudian memanggil /menyebut  nama   rumpun sukunya masing-masing. Ritual ini dilakukan kurang lebih  5 menit kemudian lonceng gereja dibunyikan sekali lagi dan semua lampu dinyalakan kembali. Dengan demikian, Ritual Trebluman selesai.

     

    PROSESI  TANIU UIS NENO /SOET OE

     

    Ritual taniu uis neno dilaksanakan pada Kamis Putih yang merupakan ritual pembersihan dan penyerahan diri kepada Sang Khalik sekaligus  ungkapan rasa syukur  atas nikmat dan berkat yang diperoleh dalam satu tahun perjalanan hidup. Dan ungkapan kebersamaan – nek mese ansaof mese semua rumpun suku setiap ume mnasi, ditandai dengan upacara pembersihan patung relegi /benda devosi dan pengumpulan persembahan hasil  usaha  berupa buah -buahan  di ume mnasi oleh  setiap anggota suku ume mnasi  (bua pa’) dan pengumpulan buah-buahan ke ume mnasi lainnya yang masih memiliki ikatan kekerabatan (bua lo’et).

     

    Air  hasil pembersihan patung-benda religi digunakan untuk membasuh wajah dada kaki dan tangan sebagai lambang pembersihan diri dan  membawa kedamaian- manikin oe tene.Prosesi selanjutnya adalah Doa Pengambilan  Air / Soet  Oe  oleh pastor. Usai doa, semua umat berarak ke sungai yang terletak didekat gereja untuk  mengambil air / soet oe  dan  dua batu pipih yang akan digunakan membersihkan patung/benda. Dua batu pipih digunakan untuk menghaluskan tebu sebagai alat pembersih patung-benda relegi kemudian berarak kembali ke gereja untuk pemberkatan air.

     

    Dari gereja  masing-masing  kembali ke ume  uis neno untuk membersihkan patung/ benda  religi. Air dari pembersihan  patung digunakan untuk membasuh wajah-dada –kaki dan tangan setiap anggota rumpun suku  perlambang pemberihan diri dan  pembawa damai. Pada siang hari mulai jam 14.00 sampai 16.00,  setiap anggota rumpun suku ume mnasi mengumpulkan dan mempersembahkan buah-buahan (bua lo’et)  ke ume mnasi masing-masing, dilanjutkan dengan pengumupulan buah-buhan dan sirih pinang (mamat)  ke ume mnasi yang  memiliki kekerabatan- bua pa’

     

    KURE

     

    Setelah misa Kamis Putih dan Jumad Agung umat secara berkelompok melakukan Kure dari satu  UMe Uis Neno ke UMe Usi neno lainya. Terdapat 27 Ume Mnasi di Kote yang melaksanakan Kure. Kure Adalah tugas pemeliharaan Iman umat yang diembankan kepada tetua adat pada umemnasi-uume mansi dimana bila tidak ada gembala umat untuk melaksnakan tugas pelayanan numat.

     

    Sebagaimana arti kata Kure yang di serap dari kata Perancis-Cure; sebutan bagi orang yang bertugas  untuk menangani urusan memeliharaan rohani umat beriman dalam wilayah tertentu. Umat katolik di Noemuti terus memperingati prosesi masuknya agama Katolik dengan terus memeliara tradisi kuno itu hingga kini.

     

    Prosesi religius yang kaya akan nuansa iman ini dilakukan di Paroki Hati kudus Yesus, Kecamatan Noemuti  Kabupaten Timor Tengah Utara. Para penganutnya juga terus mengenang saat pendudukan Tentara Portugal atas Belanda di Noemuti. Kala itu Tentara Portugis (Topasis) yang datang bersama para imam Katolik  Fransiskan mulai menyebarkan misi iman Katolik ke pulau Timor lewat pintu masuk Noemuti.

     

    Misi mulia ini mendapat simpati dan terus dikenang hingga sekarang. Sebagai perwujudannya, alat-alat perang diganti dengan buah-buahan dimana  tebu dijadikan sebagai senapan, jeruk  dan buah-buah lainnya sebagai pelurunya sementara sagu/uk sebagai upaf / mesiu. Usai dilakukan misa Inktulurasi buah-buahan itu dibagikan kepada umat sebagai tanda damai. Tanda syukur atas kemenangan perang diganti dengan damai.

     

    SABTU ALELUYA

     

    Setelah misa  Sabtu Alleluya dilaksanakan, umat setempat merayakannya dengan pesta tradisi dan berbagi sukacita. Menggelar tarian Bonet bersama di paroki sebagai ungkapan syukur akan kebangkitan Kritus. Perayaan sukacita ini juga terus berlanjut hingga keesokan harinya pada Perayaan Paskah. Kemeriahan pesta paskah dipastikan terus menyelimuti umat setempat dengan aneka tarian gong, bidut dan lain sebagainya. Pesta ini digelar usai Misa Hari Raya Paskah

     

    SEF MAU

     

    Salah satu tahapan dalam prosesi Kure di Kote Noemuti yang harus dijalankan adalah upacara pembersihan kembali patung/benda-benda kudus usai perayaan Paskah yakni Sef Mau. Pada upacara ini, hiasan ume uis neno maupun buah-buhan dan air serta minyak memandikan/membersihkan patung/benda devosional dikumpulkan lalu dibawa ke sungai selanjutnya dihanyutkan sebagai tanda melepaskan noda dosa karena telah diselamatkan oleh kebangkitan Kristus dan  menjadikan mereka manusia baru.

     

    Pada prosesi ini,  masing-masing ume uis neno dengan mengarak kabi buset menuju ke gereja mengawali ritual sef mau. Imam menerima sapaan adat dan kabi buset dipersembahkan dalam gereja, dilanjutkan dengan melepaskan ma putu-ma lala di sungai.  Perarakan kabi buset di mulai dari ume Salem ke pendopo gereja- berarak menuju ume uis neno hanoe lalu menuju ke sungai. 

     

    Tutur adat dilakukan sebelum pelaksanaan ritus sef mau di sungai kemudian penanggalan selimut dan membuang sisa-sisa bahan treb-loet, hiasan/dekorasi ke sungai. Selanjutnya peserta ritus sef ma’u membasuh tangan-muka sebagai tanda kemenangan bala telah ditinggalkan dan kembali mendapat kesejukan-kebersihan manikin oe tene.***

     


     
      TAG:
    • khas
    •   
    •   
    •   
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2022 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.