• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 04 Juni 2020

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Di NTT, Anak Korban Tindak Kekerasan Bebas Biaya Perawatan
    ALBERT R. | Selasa, 17 Desember 2013 | 19:47 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Di
    Kepala Biro PP Setda NTT, Yovita Anike Mitak

     
    Kupang,Flobamora.net - Pemerintah Provinsi Nusa Tengggara Timur (NTT) mulai tahun 2013 ini membebaskan biaya perawatan kesehatan bagi anak korban tindak kekerasan,khususnya yang mengalami luka- luka baik dalam rumah tangga maupun lingkungan sosial termasuk di sekolah.

    Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Setda Provinsi NTT, Yovita Anike Mitak kepada wartawan di Kupang, Selasa (17/12) mengatakan, di NTT kekerasan terhadap anak masih didominasi oleh kekerasan seksual.

    Menurutnya, langkah lain yang diambil pemerintah untuk anak korban kekerasan adalah memfasilitasi penegakan hukum dan pendampingan dalam rangka pemulihan psikologis. Sehingga anak yang bersangkutan bisa melupakan peristiwa yang dialaminya dan bisa percaya diri dalam menatap masa depan.

    "Pemprov NTT telah mengalokasikan dana untuk mengatasi anak korban kekerasan tersebut, melalui Biro Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang dikelola oleh P2TP2A dan Rumah Sakit W. Z. Johannes Kupang. Dana yang dikelola oleh P2TP2A sebesar Rp 200 juta. Dana yang sama juga dikelola rumah sakit untuk pembebasan biaya medis," jelasnya.

    Dia mengatakan, jumlah anak korban tindak kekerasan di NTT, menunjukkan trend meningkat. Pada tahun 2012 lalu, jumlah anak korban tindak kekerasan mencapai angka ribuan anak.Walaupun  pada semester pertama tahun 2013 belum dilakukan perekapan, tetapi datanya terus meningkat.

    Tentang upaya yang telah dilakukan untuk menekan angka kekerasan terhadap anak di NTT, dia mengatakan, pihaknya terus melakukan upaya penyadaran dalam bentuk sosialisasi. Karena kekerasan terhadap perempuan dan anak itu, bukan saja terjadi di lingkungan rumah tangga tapi juga di lingkungan sosial termasuk sekolah- sekolah.

    "Prinsipnya, pemenuhan hak sipil anak yang termarginalkan terus dikampanyekan.Kita berkomitmen untuk menyiapkan anak- anak penerus bangsa dan daerah yang lebih potensial, terbebas dari tindak kekerasan,” tegasnya.*** (AR)

     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.