• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Sabtu, 31 Oktober 2020

     
    Home   »  Internasional
     
    Prosesi Jumat Agung di Larantuka
    ALBERTO/ RISKY R | Jumat, 18 April 2014 | 11:31 WIB            #INTERNASIONAL

    Prosesi
    Salah Satu Rangkaian Kegiatan Semana Santa (Foto : Google.co.id)

     

     
    LARANTUKA , ibu kota Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT), hari ini diselimuti kabut duka. Perayaan Jumat Agung di kota yang terletak di bawah kaki Gunung Ile Mandiri, wilayah Keuskupan Larantuka itu, berbeda dengan perayaan di tampat lain.

    Diawali dengan perarakan Arca Yesus (Tuan Meninu) lewat laut dari Kota Rewindo menuju Pante Kuce di depan istana Raja Larantuka. Inilah awal dari Prosesi Jumat Agung yang tersohor itu dan bertahan hingga lebih dari 500 tahun.  

    "Prosesi lewat laut ini untuk memaknai Yesus sebagai inti, sedangkan Bunda Maria adalah pusat perhatian, Bunda yang bersedih, Bunda yang berduka cita (Mater Doloroso)," kata Pewaris Raja Kedua Kerajaan Larantuka, Don Emanuel Patigolo DVG, yang dihubungi, Jumat (18/4).

    Menurutnya, prosesi laut dengan melawan arus kencang di selat sempit Gonzalo antara Pulau Adonara dan Flores Timur daratan itu, akan berakhir di Pante Kuce, depan istana Raja Larantuka untuk selanjutnya diarak guna ditakhtakan pada armida Tuan Meninu di Pohon Sirih.

    Pada sore harinya, lanjut dia, patung Bunda Maria (Tuan Ma) yang telah dinobatkan sebagai pelindung Kota Reinha Rosari - sebutan khas untuk Kota Larantuka - diarak dari kapela-Nya menuju Gereja Katedral di jantung Kota Larantuka.

    Setelah Patung Tuan Ma dan Tuan Meninu tiba di Katedral, barulah dilanjutkan dengan prosesi mengelilingi Kota Larantuka dengan menyinggahi delapan armida (perhentian), yakni Armida Missericordia, Armida Tuan Meninu (armada kota), Armida St Philipus, Armida Tuan Trewa, Armida Pantekebi, Armida St Antonius, Armida Kuce dan Armida Lohayong.

    Dia menjelaksna, urutan armida itu menggambarkan seluruh kehidupan Yesus Kristus mulai dari ke AllahNya (Missericordia), kehidupan manusiaNya dari masa Bayi (Tuan Meninu), masa remaja (St Philipus) hingga masa penderitaanNya sambil menghirup dengan tabah dan sabar seluruh isi piala penderitaan sekaligus piala keselamatan umat manusia.

    "Prosesi tersebut akan berlangsung dan diperkirakan berakhir pada Jumat tengah malam atau Sabtu dini hari, karena diikuti ribuan peziarah Katolik yang datang dari berbagai daerah di NTT, nusantara dan manca negara," tambahnya.

    Keluarga Fernandez dalam Prosesi Jumat Agung tahun ini, bertindak sebagai "mardomu". Kata "mardomu" berasal dari bahasa Latin--maior dan domus--yang berarti rumah besar. Mardomu disebut juga tuan pesta.

    Mardomu atau nazar agung (permesa) ini dilakukan seseorang atau sebuah keluarga yang dengan segala ujudnya, menanggung tanpa pamrih segala kebutuhan untuk keperluan prosesi sebagai wujud melayani Tuhan, berbasis di Kapela Tuan Ma (Bunda Maria).***

     
      TAG:
    • khas
    •   
    •   
    •   
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.