• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Sabtu, 21 September 2019

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Penyakit Kulit Aneh Serang Petani Rumput Laut di Kupang
    ALBERTO | Jumat, 02 Mei 2014 | 10:01 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Penyakit
    Petani Rumput L:aut di Kupang

     
    Kupang, Flobamora.net - Puluhan petani rumput laut di Desa Tablolong, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), diserang penyakit kulit aneh yang dapat mengakibatkan kematian jika tidak segera ditangani.

    Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) Ferdi Tanoni kepada wartawan di Kupang, Jumat (2/5) mengatakan, sebetulnya penyakit kulit tersebut sudah terjadi sejak tahun 2010 lalu.

    "Kami menduga penyakit ini muncul pascatragedi meledaknya Kilang Minyak Montara di tahun 2009 lalu, karena karena perairan di sekitar Laut Timor ikut kena imbas dari kejadian tersebut," paparnya.     

    Menurutnya, berdasarkan hasil penelitian dari sejumlah ahli di Australia, kilang minyak Montara milik operator minyak PTTEP Australasia dari Thailand itu tidak hanya memuntahkan minyak mentah ke Laut Timor, tetapi juga disertai dengan zat beracun lainnya yang ikut menghancurkan ekologi serta ekosistem laut di sekitarnya yang merupakan habitatnya ikan-ikan dasar.

    Kata dia, kondisi ini diperparah lagi dengan aksi penyemprotan dispersant oleh Otorita Keselamatan Maritim Australia (AMSA) untuk menenggelamkan tumpahan minyak ke dasar laut.

    "Atas dasar itu, saya menduga kuat bahwa penyakit gatal-gatal yang dialami para petani rumput laut di Kupang Barat dan daearah-daerah lain nya di Nusa Tenggara Timur saat ini merupakan dampak langsung dari petaka Montara yang telah mencemari Laut Timor dan Laut Sabu  yang sampai saat ini belum juga ditangani secara serius oleh pemerintah Australia dan Indonesia," ujarnya.

    Salah seorang petani rumput laut, Maria Liman Mulik menuturkan, penyakit gatal-gatal tersebut mulai dirasakan sejak 2010, padahal usaha budidaya rumput laut itu sudah dilakukan sejak 2002.

    Dia menjelaskan, sebelum tahun 2010, petani rumput laut tidak pernah mengalami kulit gatal-gatal seperti sekarang ini dan masyarakat petani begitu bergairah untuk membudidayakan rumput laut karena panenannya sangat fantastis sampai membangun rumah engan hasil dari penjualan rumput laut.

    "Biasanya kami berobat di puskesmas pembantu Lifuleo, dan menurut para medis, penyakit gatal-gatal tersebut akibat terkena air laut yang kotor di sekitar wilayah budidaya rumput laut," tambah warga Desa Lifuleo ini.

    Namun, katanya, setelah 2010 masyarakat sudah tidak bergairah lagi untuk membudidayakan rumput laut, karena tanaman "emas hijau" itu terus diserang penyakit sampai mengakibatkan para petani rumput laut juga terserang penyakit gatal-gatal.***

     
    BERITA TERKAIT
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.