• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Jumat, 04 Desember 2020

     
    Home   »  Travel
     
    Mencumbui Pesona Puncak Gunung Iya (2)
    MINCE ANGGO | Rabu, 04 Juni 2014 | 08:13 WIB            #TRAVEL

    Mencumbui
    Sebagian Kota Ende dari Puncak Gunung Ia (Foto : Ferdinand)

     

     

    Sebuah Optimisme yang Membuncah

      

    MATAHARI masih merangkak dari balik bukit Pupui, ketika kami tiba di tempat start pendakian, yaitu lembah antara Gunung Ia dan Bukit Pupui; sebuah bukit yang selalu hijau bagai bentangan permadani di kala musim hujan, tetapi sebaliknya bagai bentangan kain hitam kala musim kemarau, karena dibakar tangah-tangan usil.

     

    Pukul 06.30, kami memulai pendakian. Dengan bantuan tongkat di tangan, kami berusaha menyibak rerumputan liar di hadapan kami sebelum melangkahinya. Jalan setapak yang pernah dibuka para pendaki terdahulu sudah kembali dibalut rerumputan, karena jarang dilewati. Di hadapan kami, hampir tidak tampak tanaman kayu keras. Hanya hamparan rerumputan liar nan hijau.

     

    Jalan pun terus menanjak. Saya mulai merasa ngos-ngosan. Tetapi, Om Gasim dan Mr. Oskar tampak terus melaju tanpa bantuan tongkat di tangan. Saya berjalan sambil menggerutu, memrotes jalur pendakian yang dibuka menanjak lurus. “Mengapa tidak dibuat berkelok untuk mengurangi tanjakan?” protesku.

     

    Semakin tinggi mendaki, hamparan laut lepas, Pulau Ende, dan Kota Ende di belakang kami tampak makin jelas dan seakan meneriakkan sorak yang memacu semangat kami untuk terus mendaki.  

     

    Namun, setelah satu jam berlalu, tenagaku terasa sudah tak tersisa. Jantungku pun berdenyut amat cepat. Sementara pergelangan kaki terasa seperti memelas meminta memisahkan diri dari badan dan menggelinding sendiri kembali ke kaki gunung dan selanjutnya pulang ke rumah untuk istirahat. Rasa-rasanya aku sudah kehabisan tenaga, padahal kami membutuhkan waktu satu jam lagi untuk mencapai puncak Ia.

     

    Ferdinand, aku, dan Ayu saling menatap, mengirim isyararat untuk berkompromi, mau melanjutkan pendakian atau menyerah sampai di sini. Dr. Ayu lalu membuka mulut, “Bagaimana kalau kita tunggu Mr. Oskar dan Om Gasim di sini saja?”

     

    Pertanyaan Ayu tak langsung kami iyakan, pun membahasnya. Namun, yang pasti, kami bertiga sadar bahwa kami memang tak bisa menyamakan diri dengan si Bule Oskar dan Om Gasim yang sudah biasa mencumbu puncak Ia tiga kali seminggu.

     

    Dalam kebingunan antara melanjutkan pendakian atau berhenti dan beristirahat, tiba-tiba hand phone Ferdinand berdering. Mr. Oskar memantau posisi kami dan menyemangati kami untuk menyusul.

     

    Pendakian kami pun dilanjutkan. Dengan tenaga yang masih tersisa, kami mulai beranjak penuh optimisme. Dan, sungguh mengejutkan, belum seberapa jauh kami berlangkah, tampaklah bagi kami rimbunan cemara gunung dan kembang-kembang anggrek tanah di sisi kiri kanan jalur pendakian.

     

    Keindahan itu bagai suplemen yang mengembalikan energi yang hilang dan meneguhkan optimisme kami. Bahkan, seperti seketika kehilangan rasa letih dan capek, kami bertiga mulai mengabadikan kembang-kembang anggrek tanah itu dengan kamera hand phone kami masing-masing.

     

    Lebih memesonakan lagi, semakin tinggi mendaki, suguhan keindahan dari pelbagai sisi semakin nyata. Jauh di belakang kami, hamparan laut dan Pulau Ende, kota tua, serta gunung-gemunung tampak bagai sebuah karya imajinatif seorang pelukis yang sangat profesional. Sungguh mengagumkan. 

     

    Semua kehindahan itu terasa melecut semangat kami untuk terus melanjutkan pendakian. Jauh di bawah kaki Ia, samar terdengar suara-suara manusia. “Ada pendaki lain yang menyusul kita?” tanyaku spontan kala mendengar suara itu. “Itu suara penambang,” jawab Ferdinand singkat.***(Bersambung)


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.