• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Minggu, 20 Oktober 2019

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    29 Persen Balita di NTT Alami Masalah Gizi
    ALBERTO | Rabu, 11 Juni 2014 | 21:21 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    29
    Balita Gizi Buruk (Ilustrasi)

     

    Kupang, Flobamora.net -  Riset kesehatan daerah tahun 2013 memperlihatkan, sebanyak 29 persen balita di NTT yang mengalami masalah soal gizi. “Hanya lima kabupaten dari 21 kabupaten/kota di NTT yang tidak punya masalah.

     

    “Kelima kabupaten itu yakni Nagekeo, Manggarai Timur, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Sabu Raijua,” kata  Lindawati Wibowo, peneliti bidang gizi anak, pada acara desiminasi hasil penelitian tentang kebijakan gizi nasional pemberian makan bayi dan anak yang diselenggarakan Wahana Visi Indonesia (WVI) di Kupang, Rabu (11/6) sore.

     

    Lindawati menyebutkan, pada tahun 2012, bayi dan anak NTT yang memiliki masalah gizi hanya sebesar 14, 1 persen. Hanya Kabupaten Belu yang masalah gizinya dengan kategori sangat tinggi yakni sebesar 30 persen. Sebanyak lima daerah dengan tinggi yakni Kota Kupang (20, 1 persen), Kabupaten Kupang (28, 3 persen), Lembata (21, 6 persen), Sikka (22, 4 persen), Sabu Raijua (24, 9 persen).

     

    Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan NTT, Mindo Sinaga mengakui, ada sejumlah masalah yang dihadapi berkaitan dengan gizi. Itu antara lain, tenaga kesehatan terutama tenaga gizi hingga saat ini masih kurang. Bahkan ada puskesmas yang tidak memiliki tenaga gizi. Tugas dan peran tenaga gizi dijalankan oleh bidan.

     

    Menurut Mindo, kemampuan tenaga kesehatan masih standar yang harus disegarkan kembali. Koordinasi menjadi hal penting yang harus dilakukan ke depan. Angka bayi pendek di NTT masih sangat tinggi, bahkan tertinggi secara nasional.“Pemberian makan tambahan bagi anak sangat diperlukan dalam rangka mengurangi masalah gizi,” ujarnya.

     

    Kata dia, ada dua aspek yang menjadi penyebab kematian bayi yakni sesak nafas, dan masalah gizi. Karena itu asupan gizi bagi bayi terutama sejak kehamilan mesti harus mendapat perhatian serius. Pemerintah NTT melalui APBD, lebih banyak mengalokasikan dana untuk pemberian makan tambahan bagi anak, sedangkan penanganan gizi masih minim.

     

    “Apapun masalah yang berkaitan dengan gizi, yang paling penting adalah ketersediaan pangan di rumah tangga dalam jumlah cukup,” paparna.

     

    Dominikus Minggu Mere dari Spadu Bappeda NTT menuturukan, ada tiga variabel utama yang berkaitan dengan gizi yakni ketersediaan pangan, distribusi, dan konsumsi.

     

    Ketiganya terkait satu sama lain, kata dia, tidak bisa hanya intervensi saja aspek saja. Karena kecukupan pangan tidak sama dengan kecukupan gizi. Pasalnya, kecukupan gizi berarti di dalamnya mencakup sejumlah aspek, seperti kalori dan mineral.

     

    Mantan Sekda Ende ini menyampaikan, ada sejumlah aspek penyebab kematian ibu hamil, yakni pendarahan yang berkaitan dengan anemia, keracunan kehamilan, eklampsia, dan ibu yang panggulnya kecil. Untuk itu, aspek gizi menjadi hal penting yang harus dipenuhi oleh seorang ibu hamil.

     

    “Peraturan gubernur (Pergub) Nomor 42/2009 tentang Revolusi Kesehatan Ibu- Anak (KIA), perlu ditinjau kembali dengan menambah aspek gizi. Sehingga menjadi revolusi KIA dan Gizi. Dengan demikian, sasaran pemberian gizi yakni pada ibu hamil dan balita,” imbuhnya.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.