• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 21 Oktober 2020

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    Pemkab Nagekeo akan Tutup Tiga Saluran Sekunder di DI Mbay
    ALBERTO | Rabu, 18 Juni 2014 | 07:52 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    Pemkab
    Ilustrasi

     

     

    Mbay, Flobamora.net – Pemerintah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) menurut  rencana mulai  1 Juli - 1 Oktober 2014  akan menutup tiga saluran sekunder di Daerah Irigasi (DI) Mbay, menyusul menurunnya produksi padi di daerah itu karena serangan hama dan penyakit.

     

    “Penutupan tersebut karena pertimbngan teknis dan masyarakat semakin mengerti tentang perubahan pola tanam. Langkah ini untuk memutuskan mata rantai penyebaran hama dan penyakit padi adalah dengan mengeringkan air,” kata Bupati Nagekeo, Elas Djo yang dihubungi dari Kupang, Rabu (18/6).     

     

    Menurutnya, sesuai kebijakan yang diambil,  mulai tanggal 1 Oktober 2014 mendatang para petani baru mulai bekerja kembali setelah tiga saluran sekunder itu dibuka.

     

    Sebetulnya, sambungnya,  tidak ada masalah dengan kebijakan tersebut, karena membantu masyarakat mengatasi hama dan penyakit yang menyerang padi beberapa tahun belakangan ini.

     

    Dia menyebiutkan, produksi padi petani DI Mbya, sebelum terserang hama dan penyakit rata-rata setiap kali panen 4,7 ton per hektare. Setelah serangan hama dan penyakit menurun menjadi 3,8 ton per hektare. Bahkan pada spot – spot tertentu tidak sampai satu ton.

     

    “Waktu penutupan saluran air dan guna mengisi kekosongan itu setiap P3A akan mendapatkan dana untuk memperbaiki saluran tertier secara swakelola dan mereka mendapatkan upah dari pekerjaan tersebut,” jelasnya.

     

    Dia menyebutkan hama dan penyakit yang menyerang padi di DI Mbay beberapa waktu belakangan ini antara lain hama penggerek batang, hama penggerak akar, tungro dan kepi hitam. Guna membatasi penyebarannya, mulai tahun depan pola tanam bagi petani di Mbay akan diubah dengan tanaman selanya adalah jagung diantara tanaman padi.

     

    Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTT, Johanis Tay Ruba yang dikonfirmasi pada kesempatan terpisah mendukung  langkah itu  dalam rangka perbaikan pola tanam untuk petani di DI Mbay.

     

    Kata dia, dengan waktu pengeringan air beberapa bulan, ada kesempatan patini untuk membenahi saluran yang ada sekaligus membersihkan lahan dari perkembangan hama penyakit.

     

    “Pemerintah pusat juga sudah mengalokasikan dana sebesar Rp 2 miliar lebih untuk membantu petani memperbaiki saluran tertier yang ada dan kepada mereka akan diberi  upah,” tuturnya.***

     


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.