• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 01 Juni 2020

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Produksi Padi di Mbay Alami Fluktuasi
    ALBERTO | Minggu, 22 Juni 2014 | 14:38 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Produksi
    Ilustrasi

     

    Mbay, Flobamora.net - Produksi padi  di Daerah Irigasi (DI) Mbay Kanan dalam tiga tahun terakhir mengalami fluktuatif dengan kisaran 3,5 ton – 4,35 per hektare, yang dipicu oleh sejumlah faktor, antara lain menurunnya tingkat kesuburan tanah.

     

    Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Alex Djata, kepada Flobamora.net, Sabtu (21/6) mengatakan, secara umum dari luas lahan persawahan di DI Mbay Kanan 3.426 Ha tahun 2011 sebanyak  16,159 ton, 2012  25,627 ton dan tahun 2013  28,096 ton.

     

    Menurutnya, selain faktor kesuburan tanah, penyebab fluktuatifnya produksi padi juga lantaran pola tanam monokultur atau padi saja  dengan tidak ada pergiliran tanaman, penanaman padi secara kontinyu, penggunan pupuk dan obat-obatan yang tidak sesuai anjuran yang menyebabkan terjadinya polusi atau pencemaran pada tanah.

     

    “Faktor lain adalah kelembagaan petani masih lemah, infrastruktur masih minim, serangan hama penyakit, budi daya padi tidak sesuai anjuran, benih unggul kurang tersedia, terbatasnya modal usaha dan sanitasi lingkungan sawah buruk,” jelasnya.

     

    Dia mengakui, pencemaran lahan oleh pupuk dan pestisida juga ikut menjadi faktor pemicu menurunnya produksi. Di samping itu, banyak pohon kelapa dan pisang yang jarang dibersihkan, banyak ternak peliharaan yang berkeliaran di area persawahan, saluran tersier  jarang dibersihkan dan  anomali iklim.

     

    Yang  lebih memprihatinkan, lanjut Alex,  dalam tiga tahun terakhir persawahan di DI Mbay diserang hama dan penyakit, antara lain Kepik hitam dengan luas lahan 1.617,75 hektare,  Tungro 1.190.85, Penggerak Batang 141,50, Hama Putih 621,45, Bercak Coklat 597,70, Walang Sangit 466,25,  dan Kresek 173,75 hektare.

     

    “Di musim tanam tahun 2014  ini pun serangan hama dan penyakit masih juga terjadi. Misalnya Kepik Hitam  pada lahan seluas enam hektare, Tungro 69,70, Penggerak Batang 141,50, Hama Putih 73,25, dan Walang Sangit 82,75 hektare,” paparnya.

     

    Dia menuturkan, sebagai salah satu daerah produksi beras di NTT, DI Mbay Kanan masih memiliki peluang untuk ditingkatkan produksinya dengan solusi sebagai antara lain pergiliran tanaman, misalnya padi – jagung atau acang-kacangan  – padi. 

     

    Kemudian, tambahnya, pergiliran varietas padi dengan menggunakan benih unggul, pemberian pupuk dan obat-obatan berimbang, tepat jenis, tepat mutu, tepat waktu, tepat tempat, tepat cara, tepat dosis, budi daya padi sesuai dengan anjuran, perbaikan sanitasi, perbaikan infrastruktur, pengaturan tata guna air selama jangka waktu tertentu.*** 

     


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.