• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 06 Juli 2020

     
    Home   »  Internasional
     
    Terpisah 25 Tahun, Pria India Temukan Lagi Ibu Kandungnya
    ANA DEA | Kamis, 26 Juni 2014 | 19:34 WIB            #INTERNASIONAL

    Terpisah
    Saroo Brierlye berhasil bertemu lagi dengan ibu kandungnya setelah terpisah selama 25 tahun. Daily Mail

     

     
    NEW DELHI, FLOBAMORA.net - Seorang pria India yang terpisah dari orangtuanya sejak berusia empat tahun saat naik kereta api dan kemudian diadopsi sebuah keluarga Australia, berhasil menemukan kembali keluarga aslinya setelah 25 tahun.

    Saroo Brierley, yang kini tinggal di Hobart, Tasmania, Australia, dulu adalah bocah miskin yang tinggal di pedesaan India.  Saat tengah mengemis bersama kakaknya, Saroo yang kelelahan tertidur di sebuah stasiun kereta api.

    "Saat saya membuka mata saya tak melihat kakak saya namun saya melihat sebuah kereta api yang pintunya terbuka. Entah mengapa saya mengira kakak saya berada di atas kereta api itu," kenang Saroo.

    Saroo lalu naik ke atas kereta api itu yang kemudian menutup pintunya dan berjalan meninggalkan stasiun tersebut. Sebuah keputusan yang mengubah hidup Saroo selamanya.

    Di atas kereta api, Saroo tak menemukan kakaknya dan dia kemudian terbawa kereta api itu dari Khandwha, Madya Pradesh menuju kota Kalkuta.

    Saroo mengenang selama sebulan pertama dia berada di Kalkuta dia mencoba untuk mencari jalan pulang. Dia bahkan nyaris tenggelam di Sungai Gangga dan hampir diculik sekelompok pria yang ingin menjualnya sebagai budak.

    Akhirnya Saroo harus mengemis untuk bertahan hidup sebelum ditampung sebuah panti asuuhan dan kemudian diadopsi pasangan suami istri asal Australia.

    Sejak saat itu, Saroo tumbuh besar di Australia dan hidup sukses di negeri yang mengadopsinya itu. Meski demikian, Saroo bertekad untuk menemukan kembali kampung halamannya yang "hilang".

    "Saya tetap menyimpan suasana kota kecil tempat saya lahir, jalanan tempat saya pernah berkeliaran dan wajah keluarga saya," kata Saroo kepada harian Tasmanian Mercury.

    Bertekad untuk menemukan kembali keluarga aslinya Saroo menghabiskan waktu memeriksa berbagai peta untuk mencari tanda-tanda dan lokasi yang diingatnya semasa kecil, sebelum dia menemukan Google Earth.

    Saroo mengingat dia naik kereta api selama 14 jam menuju Kalkuta dengan kecepatan rata-rata 80 kilometer per jam, maka Saroo memperkirakan kampung halamannya berjarak sekitar 1.600 kilometer dari Kalkuta.

    Saroo lalu membuat sebuah lingkaran di atas sebuah peta dengan kota Kalkuta sebagai pusat lingkaran itu. Lalu Saroo memeriksa satu demi satu kota-kota di dalam lingkaran tersebut.

    "Saya harus mencari sungai tempat saya bermain dengan saudara saya, lalu air terjun dan gedung-gedung khas yang sering saya kunjungi waktu itu," ujar Saroo menjelaskan metodenya mencari kampung halamannya yang hilang itu.

    "Saat saya menemukannya, saya memperbesar gambarnya dan kota itu muncul. Saya menemukan semuanya dari air terjun hingga jalanannya," tambah Saroo kepada BBC.

    Meski yakin dengan temuannya itu, Saroo masih membutuhkan waktu beberapa bulan untuk merencanakan perjalanan demi membuktikan kebenaran pencariannya.

    Dan, betapa kagetnya Saroo saat tiba di kota kelahirannya Ganesh Talai, ketika mendapati kediaman keluarganya kosong melompong. "Saya hanya terpikirkan hal terburuk yaitu semua orang meninggal dunia, keluarga saya meninggal dunia semuanya," kata Saroo.

    Beruntung, sejumlah warga setempat kemudian mendekatinya dan menanyakan kepentingannya di kota itu. Saroo kemudian memberitahu namanya, nama ibunya dan nama saudara-saudaranya. Dan dengan segera dia menemukan orang untuk menolongnya.

    "Saat itu orang keempat datang dan meminta saya untuk menunggu. Dalam 10 menit mereka kembali dan mengajak saya menemui ibu," lanjut Saroo.

    Dia lalu mengikuti orang itu dan di ujung jalan terlihat tiga orang perempuan berdiri di pintu rumah. Salah seorangnya adalah ibu kandung Saroo, Fatima.

    "Saya melihat ke arah perempuan kedua dan butuh beberapa detik sebelum saya bisa menggambarkan wajahnya dulu dalam benak saya. "Dia terlihat lebih pendek dari yang saya ingat saat berusia empat tahun," kata pria ini.

    "Dia lalu berjalan menghampiri saya, demikian pula saya. Lalu emosi dan air mata kami tumpah, jelas ada hubungan antara kami. Semua meledak seperti fusi nuklir," tambah Saroo.

    Reuni Saroo dan ibu kandungnya terjadi pada 2012 dan menjadi pembicaraan luas. Kini Saroo menuangkan kisahnya dalam sebuah buku "A Long Way Home" yang terbit pekan ini.

     


    Sumber: Daily Mail
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.