• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 01 April 2020

     

     
    Home   »  Gaya Hidup
     
    Natal dan Pemberian Diri
    YOHANES L. BILLY. | Selasa, 31 Desember 2013 | 11:07 WIB            #GAYA HIDUP

    Natal
    Dok/Web

     

    You, too, come to Christ... Don’t think of the long journeys... One reaches Him, the omnipresent One, through love, not by seafaring.–St. Augustine

     

    Natal selalu merupakan akhir dan permulaan. Waktu mengulum dan kemudian merekah lagi. Masa Adven meretas, mekar, berlalu, dan masa Natal-pun tiba bersama dengan kegembiraannya, diselimuti kenangan-kenangan, dan kemudian datang Epifany (Hari Raya Penampakan Tuhan), dan seterusnya, Natal berlalu, dan kita memasuki Tahun Baru. Sering keseluruhan musim ini tampak seperti angin puyuh, dipenuhi dengan berbagai macam persiapan. Kita tidak pernah berhenti.

     

    Nampaknya kita perlu berhenti dan hening sejenak. Kita perlu merefleksikan arti sejati Natal. Apa sesunggunya arti Natal itu? Natal bukan berarti membeli hadiah. Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh sama sekali membeli hadiah Natal karena itu hanya mendatangkan kekecewaan di antara anak-anak! Tetapi yang hendak dikatakan di sini adalah membeli hadiah Natal bukanlah inti perayaan Natal.

     

    Apa sebenarnya inti Natal? Jawabannya mudah. Kristus. Kristus adalah pusat dari Natal, arti dari Natal itu sendiri. Kita semua mengetahuinya. Dan itu berarti pada masa Natal, kita semua keluar, seperti orang-orang Majus, mencari Yesus. Di mana kita dapat menemui-Nya? Di Gereja? Pada pesta-pesta liburan? Di lagu-lagu Natal? Di mana?

     

    Santo Agustinus mengingatkan kita semua, seperti terdapat pada kutipan di atas, bahwa kita dapat menjumpai-Nya “through love, not by seafaring”,  lewat kasih, tidak perlu berlayar menyeberangi lautan untuk bertemu dengan-Nya.Kita dapat berjumpa dengan Kristus melalui kasih.

     

    Paus Emeritus Benediktus XVI menjadikan pemikiran ini pusat dari ensiklik pertamanya, Deus Caritas Est, (“God Is Love”, “Allah Adalah Kasih”). Dengan mengatakan Allah adalah kasih berarti siapa saja yang mengasihi memiliki kontak dengan Allah, sedang berjumpah dengan Allah, dan telah menemukan Allah. “’Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia’ (1 Yoh 4:16). Kata-kata dari Surat Yohanes Yang Pertama ini mengekspresikan dengan sangat jelas dan mengagumkan jantung iman Kristen.”

     

    Tetapi apa itu kasih? Bagaimana kita mengasihi? Paus Emeritus Benediktus XVI menulis: “Love is not merely a sentiment. Sentiments come and go. A sentiment can be a marvelous first spark, but it is not the fullness of love.” Cinta bukan semata-mata perasaan sentimental. Perasaan sentimental datang silih berganti. Perasaan sentimental dapat merupakan percikan pertama yang luar biasa, tetapi itu bukan kasih yang utuh.

     

    Kalau begitu, apa itu kasih yang “utuh”? Paus Emeritus Benediktus XVI mencatat: Yang paling menonjol diantara para orang kudus adalah Maria, Bunda Tuhan dan cermin dari semua kekudusan. Dalam Injil Lukas kita tahu bahwa Maria bermurah hati kepada sepupunya, Elizabeth, dengan tinggal di rumah Elizabeth selama ‘kira-kira tiga bulan’ (1:56) supaya bisa membantu saudarinya itu pada fase terakhir masa kehamilannya. ‘Magnificat anima mea Dominum,’ kata Maria pada waktu kunjungannya, ‘My soul magnifies the Lord’, ‘Jiwaku memuliakan Tuhan’ (Lk 1:46). Melalui kata-kata ini Maria menyatakan seluruh rencana hidupnya.

     

    Ia tidak menjadikan dirinya pusat, tetapi memberikan ruang bagi Allah, yang bisa kita temukan baik dalam doa dan pelayanan kepada sesama—hanya dengan demikian dunia penuh dengan kebaikan. Keagungan Maria terpancar melalui kenyataan bahwa ia ingin memuliakan Allah, bukan dirinya. Ia sederhana. Hasratnya adalah bahwa ia hanya ingin menjadi hamba Tuhan (cf. Lk 1:38, 48). Maria tahu bahwa kontribusinya terhadap keselamatan dunia akan terjadi jika ia berserah secara utuh pada inisiatif-inisiatif Allah, bukan dengan melaksanakan apa yang ia maui.”

     

    Kekristenan mengajarkan bahwa berkat manusia adalah berada dalam keadaan terberkati dan kebahagiaan manusia yang sejati adalah bila kita berada dalam kesatuan kasih dengan Allah. Tetapi bagaimana kita bisa memperoleh berkat atau penyatuan dengan Allah?

     

    Kita dipersatukan dengan Kristus melalui iman di mana Roh Kristus tinggal di dalam kita. Roh Kristus adalah rahmat Kristus itu sendiri.  Dengan kata lain kasih atau love atau dalam Bahasa Latin caritas-lah yang mendiami hati kita melalui Roh Kudus. Maka, jika kita bertindak tanpa dilandasi kasih, kita bertindak di luar Roh Kristus. Sebagaimana yang ditulis oleh Joseph Ratzinger dalam disertasinya mengenai Santo Agustinus, “Tindakan kasih yang tulus dari setiap orang Kristen, semua pekerjaan kasih dalam pengertian yang riil dan otentik adalah sungguh merupakan perayaan sacrificium christianorum, “pengorbanan Kristen” yang satu dan hanya satu-satunya. Tidak ada yang lain lagi”.

     

    Setiap usaha pribadi atau setiap pengorbanan moral yang kita perbuat, setiap tindakan kasih kita terhadap orang tua kita, pasangan hidup kita, saudara-saudari kita, anak-anak kita, sahabat-sahabat berakar dari Roh Kristus, Roh yang sama yang hadir dalam setiap perayaan Ekarisiti.

     

    Santa Teresa dari Avila menulis dalam buku spiritualitasnya, The Way of Perfection (1556). “Bukti sederhana tentang kasih adalah pada saat kita berjuang melakukan tugas-tugas rumah tangga agar membantu meringankan beban kerja orang lain. Kita juga berusaha sekuat tenaga menyenangkan Tuhan bila dengan berbuat baik beban orang lain menjadi lebih ringan. Semoga hal-hal seperti ini menggembirakan Sang Maha Raja karena kasih ini terus ada.”

     

    Demikian juga pencarian kita mengenai arti sejati Natal. Natal berarti kembali ke rumah kita sendiri. Di rumah kita sendirilah kita berkesempatan “berjuang melakukan tugas-tugas rumah tangga untuk meringankan pekerjaan orang lain”, seperti misalnya mencuci piring, mencuci dan melipat pakaian, menyapu lantai, menyiapkan dan membersihkan meja makan, membuang sampah. Hal-hal seperti di atas adalah bukti sederhana perbuatan kasih.

     

    Oleh karena itu, jika Anda ingin berada dekat dengan Kristus pada perayaan Natal, tidak perlu melakukan perjalanan jauh untuk bertemu dengan-Nya. Cukuplah dengan melihat di sekitar Anda. Hadiah yang Anda bisa berikan sebagai hadiah Natal bukanlah sesuatu yang Anda beli melainkan diri Anda sendiri, waktumu, energimu, kasihmu. Dan siapa saja yang menerima pemberian dirimu sebagai tanda kasih akan bergembira dan memuliakan Tuhan karena adanya peningkatan mutu hidup yang mereka saksikan dalam diri Anda. Hanya dengan demikianlah, dunia akan penuh dengan kebaikan. Selamat Natal.


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.