• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 27 Januari 2022

     
    Home   »  Travel
     
    Taman Ziarah Terindah Itu Bernama Yesus Maria Oebelo (1)
    YOSS GERARD LEMA | Rabu, 13 Agustus 2014 | 13:01 WIB            #TRAVEL

    Taman
    Puncak Kapel John Paul II di Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo

     

     

    KUPANG,nama yang dipahat diatas batu karang. Nama yang kenyal dengan kegersangan, terik menyengat, ilalang kecoklatan, rumah reyot, pepohonan lontar  dan kepulan asap yang membubung. Miriiis. Secuil keindahan seolah hanya ada pada bentangan bibir pantaiLasiana nan kusam. Pantai renta tempat seantero warga biasa melepas kepenatan hidup.

     

    Itu dulu.Sebab sekitar 15 km dari jantung kota Kupang atau 5 km dari bibir Pantai Lasiana sebuah Taman Ziarah Terindah kini mencuri perhatian.Taman ziarah itu berada pada suatu titik ketinggian yang istimewa. Siapapun yang berada di titik ketinggian ini akan menikmati suatu panorama alam yang takjub. Karenanya, keberadaan Kapela John Paul II di puncak titik ketinggian tersebut seolah mempertegas betapa Tuhan telah menciptakan alam raya ini dengan sangat indahnya.

     

    Berdiri terpaku dibalkon lantai tiga bangunan Kapela John Paul II kita seolah berada dekat dengan langit, tempat Tuhan bersemayam. Awan berarak diatas kepala, burung-burung terbang melintas, angin menampar lembut dan  Patung Yesus berjubah putih berselempang merah di bubungan dengan tangan terentang keatas membuat hati bergetar, nurani terbuka, sungguh suatu keindahan tak terbantah. 

     

    Lalu lihatlah ke sekeliling, pepohonan lontar tumbuh di seantero pebukitan seperti tentara sorga berbaju zirah mengepung, menjaga takhta Tuhan. Indah nian mendapati barisan pepohonan lontar yang melingkari seantero taman ziarah. Dan di kejauhan, bola mata nanar berbinar-binar mendapati suatu panorama bagai lukisan kanvas.

     

    Tuhan melukis pemandangan di depan Kapela John Paul II begitu sempurna. Petakan sawah, ladang didominasi warna kekuningan.Disana ada ruas jalan aspal membelah di tengah-tengah. Di sebelahnya lautan luas biru membentang menghadirkan sebuah sketsa nan sedap. Laut itu bagai danau sebiru  cinta membujur diantara dua sayap pulau Timor yang merentang bagai bukit barisan di kiri dan kanannya. 

     

    Akh, betapa elok Tuhan mengarsitek bumi gersang ini.Apalagi ketika senja menjemput, bundar bola matahari seperti nyiru besar berwarna benderang berkekuatan diatas sejuta volt tepat berada diatas pebukitan di kejauhan.

     

    Bundar bola benderang itu perlahan berubah menjadi pijaran sunset merah jingga di ufuk barat sangat menyentuh kalbu.Betapa melankolisnya ketika sang surya kembali ke peraduan. Lalu hari berganti malam, hamburan jutaan bintang di langit menyadarkan kita betapa kecilnya manusia di hadapan Sang Ilahi.

     

    Sungguh Fascinorum

     

    Itulah Taman Ziarah Rohani Yesus Maria Oebelo di Kupang, Nusa Tenggara Timur.Taman ini dibangun oleh Yang Mulia Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang.Ketika diresmikan pada hari Senin, tanggal 25 Nopember 2013 oleh Kardinal Stanislaw Rylco yang datang dari Tahkta Suci Roma, sekitar 30.000-40.000-an umat katolik memadati seluruh areal taman. Sang Kardinal yang sudah sepuh dan para undangan VVIP yang datang dari KWI-Jakarta terkagum-kagum pada letak tamannan istimewa.

     

    “Ini taman ziarah terindah yang pernah saya kunjungi,” ucap Kardinal Stanislaw Rylco dalam bahasa Inggris di hadapan Uskup Agung Kupang dan petinggi gereja lainnya saat berada diatas balkon Kapela John Paul II pada malam sebelum misa peresmian. Panorama malam itu begitu gemerlap dengan hamburan kembang api di langit Oebelo dan nyala  10.000 lilin di sepanjang lintasan jalan salib menjadikan taman itu bagai firdaus yang hilang.

     

    Dinamakan Taman Ziarah sebab taman ini bukan hanya untuk umat katolik semata. Seluruh insan manusia dengan latar belakang agama dan budaya apapun boleh mengunjungi taman ini. Dalam proses pembangunan berbagai pihak ikut membantu.

     

    Saat peresmian pun umat dari beberapa agama ikut ambil bagian. Tarian Barongsay dari agama Kongfuchu, tari Pendet dari umat Hindu Bali, Vocal Group dari umat Kristen Protestan dan tarian Qasidah dari umat muslim menggenapi kemegahan dan kemeriahan misa kudus peresmian yang menghadirkan gemuruh suara sorga dari koor berkekuatan 1200 Orang Muda Katolik (OMK) dengan Elias Djoka sebagai komponis dan dirigennya.

     

    Toleransi nan indah,  hidup, mekar, berbunga-bunga di taman ziarah. Saling memberi dan menerima diantara semua umat beragama, saling mengagumi dan menautkan hati sebagai sedaging-sejiwa sesama insan ciptaan Tuhan.

     

    Dalam beberapa berkesempatan mengunjungi taman ini sejumlah umat bukan katolik terlihat berada di area taman. Ada yang hanya berfoto-foto selfy bersama teman-teman atau keluarga, ada yang sekedar duduk-duduk dibawah pohon rindang dan yang lain bercengkrama di bawah lopo yang berada persis di sebelah kiri Kapela John Paul II.

     

    “Pilihan lokasinya sangat tepat.Titik tertinggi tempat kapela berdiri seperti sumbu pada jari-jari sepeda.Kapela ini berada di tengah-tengah, tepat di puncak, saya sangat terharu, apalagi ketika berada di balkon lantai tiga.Ya, ini tempat yang pas bagi siapa saja yang hendak merenungi hidup. Setiap kita harus memiliki ruang waktu untuk merenung dan melihat kedalam diri dan saya merasakan inilah lokasi yang luar biasa,” ucap Luther seorang pengunjung taman.

     

    Ya, hidup ini indah.Ada tawa, terkadang air mata.Setiap orang memiliki warna-warni kehidupan, ada cerah, cemerlang, ada pula buram bahkan gelap bersimbah air mata.Merenungi hidup merupakan sebuah jedah yang penting, mengosongkan jiwa membiarkan suara hati  berkata-kata. Permenungan terindah di tempat terindah membuat hati menjadi jernih, kekaguman akan mencahayakan rasa takut akan Tuhan nan utuh, volume suara Tuhan lebih jelas terdengar. Bening di hati, tanda Roh Kudus menuntun, ilham dan inspirasi bermunculan di dalam jiwa. Gagasan terbaik dan kudus diletakan Tuhan di relung hati terdalam dan akal tak perlu mencerna, apalagi mengkalkulasi. Sebab denyut suara Tuhan itulah yang terbaik bagi kehidupan di bumi fana, maupun kebahagian jiwa di akhirat nanti.Permenungan menghadirkan gambar wajah Tuhan yang semakin jelas dan itulah   kompas arah kehidupan terindah.

     

    “Ada rasa damai dan ketenangan di tempat ini dan semoga tempat suci ini akan terus berkembang sebagai tempat untuk lebih banyak orang memperoleh kedamaian,pencerahandan ketenangan,” tulis Mari Elka Pangestu, Menteri Perdagangan RI pada buku tamu ketika berkunjung ke taman tersebut pada 29 Juli 2014 silam.

     

    “Tempat  ziarah yang baik, yang kembali mengingatkan umat kristiani tentang peristiwa-perisriwa penting dalam Alkitab, terutama buat orang-orang muda. Semoga dengan anak-anak kami lebih menggugah, sehingga keimanan mereka dapat bertumbuh,” tulis Pendeta Mercy Kapioru Patikawa, STh ketika mendampingi peserta katekasasi Jemaat Maranatha Oebufu saat mengunjungi taman tersebut pada 23 Pebruari 2014 lalu.

     

    Begitu pula dengan Ustad Junaedy Ahmad yang berziara ke taman itu bersama murid-muridnya dari SMPN5 Kupang Tengah pada 15 April 2014 silam. “Bisa menjadi jalan kebersamaan antar ulama dan umat,” tulisnya didalam buku tamu.

     

    Belum genap setahun diresmikan sudah tak terbilang jumlah peziarah yang bertandang ke tempat ini. Pater Selestinus Panggara, CMF dan Pater Yohanes Jeramu, CMF dari Ordo Klarisian yang bertugas menjaga taman ini mengaku beberapa buku tamu sudah penuh. Ada begitu banyak orang, tua muda, laki perempuan, anak-anak, datang sebagai sebuah keluarga, kelompok atau rombongan, dari berbagai latar belakang agama dan budaya.Mereka menulis berbagai kesan mendalam.

     

    “Kebanyakan peziarah mengaku pulang dari taman ini membawa pulang perasaan kelegaan yang mendalam,” ucap kedua Pastor muda ini. 

     

    “Ya….jiwaku memuliakan Tuhan.Melihat tempat ziarah yang indah ini dari segi lokasi (bukit) dan dari sisi artistik jiwaku mengucapkan magnificat….jiwaku memuliakan Tuhan.Semoga bukit ini menjadi tempat dimana umat Allah menemui Tuhan lewat Maria. Sungguh Fascinorum (sungguh mengagumkan). Proficiat kepada Uskup dan umat Keuskupan Agung Kupang,” tulis Uskup Pangkalpinang Uskup Hilarius M. Nurak, SVD yang mengunjungi taman ziara pada 23 Maret 2014 silam.

     

    Realita itukah yang mendorong orang berbondong-bondong ke taman ziarah ini? Keindahan sajakah yang menjadi daya tariknya?Atau adakah sesuatu yang belum terkuak ke permukaan? Mukjizatkah itu? Selamat mengikuti edisi kedua dari tiga tulisan mengenai  taman ziarah yang luar biasa ini. (Bersambung) ***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2022 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.