• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Sabtu, 16 Januari 2021

     
    Home   »  Travel
     
    Taman Ziarah Terindah Itu Bernama Yesus Maria Oebelo (3-habis)
    YOSS GERARD LEMA | Jumat, 15 Agustus 2014 | 13:39 WIB            #TRAVEL

    Taman
    Penulis bersama putrinya Johanzillen Juliet Petra Pieta Lema, berpose di Taman Ziarah Yesus Maria Obelo

     

     

    BUKIT lapuk itu kini telah berubah.Oebelo,nama yang mengingatkan kita akan belutnya yang licin.Belut dari kali Oebelo begitu terkenal.Belut, kepiting, siput, gurita, ikan, udang adalah segenggam hasil yang menjadi tumpuan hidup rakyat Oebelo.Tanahnya yang merah dan liat telah menjadikan Oebelo identik dengan Bumi Bata Merah. Sepanjang ruas jalan dari arah kota Kupang sebelum memasuki Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo terlihat tumpukan bata merah. Bata merah  diproduksi dari tungku pembakaran dijual dengan harga bervariasi tergantung ukurannya.

     

    Selain bata merah ada juga garam.Garam Oebelo sangat terkenal di seantero Kupang.Sepanjang satu kilometer, kiri kanan ruas jalan dijajakan garam dalam sokal anyaman yang terbuat dari daun lontar.Begitu khas dan artistik.Diantara kendaraan yang hilir mudik ada saja yang berhenti untuk membeli garam Oebelo sebagai ole-ole.Oebelo, bumi seasin keringat warganya yang didominasi etnis Rote, Timor, ada juga suku Sabu, Flores , Sumba, Alor, bahkan warga eks Timor Timor. 

     

    Kini nama Oebelo kian cemerlang. Orang-orang membicarakan Oebelo, menceritrakan keindahan panorama yang terekam dari bukitnya.Bukit yang pada puncaknya terdapat Kapela John Paul II. Bukit yang menjadi saksi bisu ribuan anak manusia datang dari berbagai penjuru untuk merenungi hidup. Dari bukit ini pula dapat dilihat dengan mata telanjang rumah-rumah warga Oebelo yang berada dibawah pohon lontar.Rumah dengan atap berwarna karat, lusuh dan sepuh. Rumah sederhana itu berpencar di sekitar taman yang kini menjadi buah bibir di seantero jagad.

                                                                                         

    Souvenir Asin

    Bukan kebetulan Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang menentukan pembangunan taman ziarah di Oebelo. Bukan kebetulan pula bila taman itu berada di sekitar area tempat produksi dan penjualan garam. Apa jadinya masakan jika tanpa garam. Tawaaar. Asam di gunung, garam di laut, bertemu dalam belanga. Nafas taman ziarah dan nafas warga Oebelo seharusnya menyatu dalam rasa asinnya garam.

     

    Garam yang asin itu kenapa tidak menjadi souvenir khas taman ziarah. Dalam keyakinan katolik garam adalah penawar atau penangkal.Sejumlah imam biasa menggunakan garam  yang dicampur air sebagai sarana mengusir setan. Banyak keluarga katolik dan non katolik pun percaya akan hal ini. Doa penuh iman akan membuat air garam memiliki kekuatan menyembuhkan. Itulah realita tentang garam selain sebagai penyedap rasa sebuah racikan makanan.

             

    Oleh karena itu, Dewan Pastoral Paroki Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo suka atau tidak suka mesti memikirkan pentingnya aneka souvenir bagi para peziarah. Benda-benda kudus dengan ciri Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo mesti segera disediakan. Sebab banyak peziarah selalu merasa ada yang belum lengkap ketika kembali dari Oebelo.

     

    Mengunjungi Gua Maria Sendang Sono di Jawa Tengah selalu ada souvenir khas yang bisa dibeli untuk dibawa pulang. Begitu juga ketika mengunjungi tempat-tempat suci lainnya seperti Lordes, gereja St. Petrus di Roma, selalu ada tempat yang menjual aneka souvenir.Tempat-tempat lainnya pun sama, tersedia sovenir sebagai kenangan. 

             

    Pada simpul inilah garam Oebelo mesti menjadi souvenir khas. Harus dibangun kerjasama yang dilandasi cinta dan kasih sayang dengan warga penjual garam yang setiap hari menjajakan produknya di bibir ruas jalan negara antara Kupang-Atambua.   Himpun mereka, bicara dengan mereka dari hati ke hati, memakai hati. Biarkan hati yang bicara, biarkan mereka menjadi pemasok yang menyediakan garam bagi peziarah.

             

    Iman akanmemberkati garam itu pada saat misa kudus. Garam yang telah diberkati kemudian dimasukan dalam wadah khusus yang menampilkan kekhasan taman ziarah Oebelo. Sokal anyaman daun lontar dengan tanda atau gambar khas taman ziarah bisa menjadi pilihan. Atau wadah lain terbuat dari  bambu  yang telah diukir simbol khas taman ziarah Oebelo. Wadah berisi garam ini harus terlihat manis, praktis, modis, cukup  bagusbila diletakan di meja doa atau tempat khusus lainnya.

             

    Jalinan kerjasama ini merupakan bagian penting dari kehadiran taman ziarah di Oebelo. Taman ziarah harus memberi dampak positip terhadap warga di sekitarnya, baik secara ekonomi maupun nilai-nilai kehidupan. Mudah-mudahan rintisan kerjasama ini akan membuka jalinan kerjasama untuk banyak hal lainnya demi kemajuan taman ziarah dan meningkatnya kesejahteraan warga di sekitarnya.

                                                                                         

    Jalan Salib

    Bila garam Oebelo telah menjadi souvenir, apalagi yang kurang? Banyak peziarah mengharapkan agar dibangun 14 stasi jalan salib. “Mungkin baik jika di taman ini ada  ziarah jalan salib. Ini penting agar peziarah bisa menjalani masa pra paskah dengan khusuk disini,” tutur Wienda seorang peziarah dari pulau Flores.

     

    Wienda mengaku sempat mengikuti jalan salib pada masa pra paskah yang lalu.Karena belum ada stasi jalan salib maka jalan salib dilakukan dengan berpatokan pada gambar-gambar yang dibawa sendiri.“Suasananya begitu sakral, semua peziarah mengikuti dengan penuh iman, apalagi medan yang dilalui benar-benar menantang,” tambah Wienda serius.

     

    Damyan Godho, Ketua Pantia Pembangunan Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo membenarkan rencana pembangunan rute jalan salib di tamanziarah ini. “Kita akan bangun 14 stasi di area bagian kanan.Stasi pertama akan berada di belakang  Aula Terbuka. Stasi lainnya akan diletakan pada lokasi yang menanjaki pebukitan  terjal hingga ke puncak tempat kapela John Paul II berdiri,” beber suami dari Ibu Dorce Godho ini.

     

    Jalan salib mengingatkan kita akan film Poisson yang menguras air mata. Merenung kisah sengsara Kristus, sesungguhnya kitalah para pendosa, orang-orang berdosa, para imam dan ahli Taurat yang telah menangkap Yesus di Taman Getzemani. Kita pula yang telah mendakwanya di depan Pilatus dengan aneka sumpah palsu. Kita pula yang telah meneriakan dengan suara lantang: Salibkan Dia…Salibkan Dia…Salibkan Dia. Kita pula sebagai tentara Romawi yang menjadi  algojo, menyiksa dan menderaNya dengan bengis.

     

    Dalam suatu kesaksian kepada orang suci Yesus menjelaskan bahwa jumlah serdadu yang dipersenjatai ada 150, yang menghelaNya dalam keadaan dibelenggu ada 23, algojo-algojo pengadilan ada 83, penamparan ke kepalaNya sebanyak 108 kali, dicambuki pada dadaNya sebanyak 6666 kali, dipalu pada kepalaNya sebanyak 110 kali, didorong dengan keras pada jam 12.00, rambutNya dijambak, kepala ditekan dengan duri dan janggutNya ditarik sebanyak 24 kali, mendapatkan luka di kepala sebanyak 20, luka karena cambukan kawat 72, luka karena duri di kepala 1110, luka karena duri di dahi ada 3, kemudian dilucuti dan dikenakan pakaian sebagai Raja Palsu, bilur-bilur di badanNya ada 1000, serdadu-serdadu yang menggiringNya ke Kalvari ada 608 dan yang memperhatikanNya dengan sungguh-sunggu ada 3, yang menghinaNya ada 1008 dan tetesan darahNya yang hilang terbuang ada 28.430.

     

    Selain itu,  kepadabiarawati suci Santa Maria Magdalena, Yesus juga membeberkan 15 rahasia penyiksaan terhadap diriNya. Secuil penderitaan itu terurai jelas pada siluet film Poisson yang merajam bathin.Tubuh Kristus dicambuk dengan simpul besi hingga daging tubuh terburai, pembuluh darah pecah, darah mengucur dari seluruh pori-pori. KepalaNya ditancapkan mahkota berduri, wajah Tuhan bermandikan darah.Pukulan dan tendangan, injakan pada dadaNya adalah Jalan Salib yang sangat menggetarkan. Umat katolik mengenang perjalanan itu dengan berlinangan air mata.Empat belas stasi bermandi darah Yesus Kristus.Darah itulah yangmenyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa. .

     

    Oleh karena itu, di Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo yang indah ini wajib hukumnya untuk melengkapi dengan ziarah jalansalib.Biarkan semua peziarah menjiwai kisah sengsara Kristus dengan perasaan mendalam. Sebab tobat seharusnya meluap dari sumur kesadaran akan nilai-nilai hidup.

     

    “Kita akan bangun stasi jalan salib dan berbagai fasilitas lainnya.Tentu kita butuh danayang tidak sedikit. Tapi saya percaya selalu ada tangan yang dititipkan Tuhan untuk menolong. Tuhan akan mengetuk hati setiap orang pilihan untuk  memberi bagi penyelesaian pembangunan taman ziarah ini,” ucap Damyan apa adanya. 


    Demikianlah kisah tentang taman ziarah Yesus Maria Oebelo di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Taman yang indah, terberkati dan penuh rahmat. Tahukah anda bahwa kadang lonceng di Kapela John Paul II berdentang sendiri pada saat tengah malam? Tahukah anda bahwa ada banyak peziarah yang mengalami jamahan Tuhan? Selamat datang di Taman Ziarah Terindah Yesus Maria Oebelo.Bagi peziarah dari luar Kota Kupang bisa menghubungi Pater Selestianus (081227570874) atau Pater John (081290870591).Kita jumpa disana yuuuk. Salam dan doa….!!! ***

     


     




    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2021 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.