• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 02 Desember 2020

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Konflik di Lembata Tidak Terkait SARA
    VICKY DA GOMEZ | Senin, 18 Agustus 2014 | 13:56 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Konflik
    Ilustrasi

     

     

    Lewoleba, Flobamora.net - Bentrok warga dua desa di Kecamatan Wulandoni Kabupaten Lembata pada Minggu (17/8), tidak ada kaitannya dengan sentimen suku, agama dan ras (SARA). Konflik yang terjadi adalah murni persoalan batas desa.

               

    Maxi, salah seorang sumber Flobamora.net yang waktu itu berada di Wulandoni, mengatakan penagasan tersebut disampaikan Pastor Paroki Wulandoni Romo Gabriel Jogo Baluk, menanggapi simpang-siur informasi yang seolah memprovokasi dan memperkeruh situasi.

     

    Dia berharap semua pihak menahan diri untuk tidak ikut larut dalam konflik.

               

    “Semua orang harus paham bahwa ini bukan masalah SARA. Ini murni masalah tanah, masalah batas tapal desa yang tidak pernah diselesaikan oleh pemerintah. Saya harap kita semua tenang dan jangan ikut memprovokasi keadaan ini. Serahkan persoalan ini kepada pemerintah dan aparat keamanan,” jelas Maxi mengutip pernyataan Romo gabriel Jogo Baluk.  

               

    Kepala Desa Wulandoni, Servas Sidu di Pastoran Paroki Wulandoni, Minggu (17/8) malam,  menjelaskan konflik ini berawal dari adanya proyek pembangunan talud oleh PNPM di Desa Pantai Harapan. 

     

    Pembangunan talud tersebut direncanakan sampai ke wilayah Desa Wulandoni. Karena melingkupi dua desa, maka Gabriel Kilok Ketua Badan Koordinasi Antardesa (BKAD) dan Valentinus Bakior Ketua Badan Permusyawaratan Desa Wulandoni yang juga Sekretaris BKAD Valentinus Bakior, Sabtu (16/8) ke Kantor Desa Pantai Harapan untuk membicarakan soal pembangunan talud tersebut.

     

    Namun sesampai di Kantor Desa Pantai Harapan, kedua orang ini malah dipukul oleh warga Pantai Harapan. Informasi tenang pemukulan ini langsung terdengar oleh warga masyarakat Desa Wulandoni. Sebelum muncul reaksi polisi pun langsung bertindak cepat menangani pertikaian tersebut.   

               

    Pada Sabtu (16/8), warga masyarakat Desa Pantai Harapan langsung memasang pilar di sebelah Kantor Desa Wulandoni. Aksiini memicu amarah warga Desa Wulandoni. Namun Servas Sidu berhasil menenangkan warganya dan meminta warganya untuk tidak bertindak kontra.

     

    Servas Sidu mengatakan suasana mulai panas usai apel bendera peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-69, Minggu (17/8). Saat itu puluhan sepeda motor yang dikendarai warga Desa Pantai Harapan lalu-lalang dalam kampung sambil membawa barang tajam.

     

    Mereka pun mencari warga Desa Wulandoni dan berupaya menyerang. Warga Desa Wulandoni pun langsung menyelamatkan diri ke Pastoran Wulandoni. Konflik pun tidak dapat terhindarkan.

     

    Akibat konflik ini, Kristinus Lanang Manuk, warga Desa Wulandoni meninggal dunia. Dia dibunuh di samping Kantor Pospol Wulandoni. Sementara Yosef Ketoj dan beberapa lainnya mengalamai luka yang cukup parah.

     

    Sampai tadi malam suasana masih mencekam. Warga dua desa yang bertetangga ini, masih saling bertahan di desa masing-masing. Mereka memegang peralatan perang dan senjata tajam. Pihak kepolisian meningkatkan keamanan dan ketertiban untuk mengantisipasi konflik susulan.***

     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.