• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 24 Oktober 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    DPRD NTT Ajak Masyarakat Perangi Kejahatan Perdagangan Orang
    ALBERTO | Minggu, 28 September 2014 | 10:49 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    DPRD
    Anggota DPRD NTT, Yucundianus Lepa

     

    Kupang, Flobamora.net- Kalangan DPRD NTT mengajak semua komponen masyarakat untuk memerangi praktek perdagangan orang yang dilakukan sejumlah oknum yang tidak bertanggungjawab karena merupakan kejahatan terhadap manusia.

    Ketua Fraksi PKB DPRD NTT, Yucundianus Lepa kepada wartawan di Kupang, Sabtu (27/9)  menjelaskan, para korban perdagangan orang direkrut oleh para calo atau sejumlah pihak yang mengatasnamakan perusahaan pengerah jasa tenaga kerja secara orang perorangan.

     

    Menurutnya, untuk memuluskan kegiatan perekrutan, data diri dan dokumen lain yang dibutuhkan berkaitan dengan ketenagakerjaan, terpaksa dimanipulasi. Pemberangkatan tenaga kerja secara ilegal dengan berbagai manipulasi data tersebut, tentunya merugikan tenaga kerja bersangkutan. Lebih banyak korban perdagangan orang adalah perempuan.


    “Perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang melakukan praktek perdagangan orang, izin usahanya harus dicabut dan dihukum sesuai aturan yang berlaku, termasuk para calo yang melakukan manipulasi data calon tenaga kerja,” katanya.


    Pada kesempatan itu wakil rakyat asal daerah pemilihan Sikka, Ende, Nagekeo dan Ngada ini menggugah moralitas para calo atau PJTKI yang merekrut dan mengirim tenaga kerja secara ilegal. Jika mereka berpikir bahwa mereka dilahirkan oleh seorang ibu dan punya saudara perempuan, semestinya perekrutan tenaga kerja secara ilegal yang bermuara pada pergangan orang tidak terjadi.

     

    Kata dia, ada informasi yang berkembang bahwa, setelah sampai di Jakarta mereka dialihkan menjadi pekerja seks komersial. Padahal saat rekrut, calon tenaga kerja disampaikan akan bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan standar gaji yang cukup besar yakni sekitar Rp3 juta/bulan.


    “Pengalihan kerja tenaga kerja dari pembenatu rumah tangga menjadi pekerja seks tersebut berdasarkan informasi yang kami dapat dari para pihak yang berkompeten di Jakarta,” ujarnya.

     

    Dia menyatakan, perekrutan dan pengiriman tenaga kerja asal NTT secara ilegal terus menunjukkan trend meningkat. Setidaknya ada dua kasus terakhir yang mencuat, yakni di Kupang dan Jakarta.

     

    Dia menuturkan, dua pekan lalu, sebanyak 23 orang calon tenaga kerja wanita (TKW) asal Sumba digrebek oleh polisi di salah satu tempat penampungan. Sedangkan di Jakarta, sebanyak 119 orang calon TKW korban perdagangan orang yang diamankan dari berbagai tempat penyekapan, kini sedang berada di tempat penampungan milik Kementerian Sosial di Bambu Apus Jakarta. Dari jumlah TKW dimaksud, sebanyak 22 orang masih dibawah umur. Kondisi mereka sangat memprihatinkan.


    Dia mengakui, untuk memberantas praktek perdagangan orang dibutuhkan komitmen semua pihak karena jaringannya sangat rapih, bahkan melibatkan aparat keamanan. Persoalan TKW ilegal harus menjadi kepedulian bersama, karena kasusnya terus saja terjadi.

     

    “Mereka diberangkatkan menggunakan trasportasi laut dan udara. Motivasi para TKW bekerja di luar negeri sangat sederhana karena diiming- iming memperoleh upah yang cukup besar yakni sebesar Rp3 juta/bulan. Tentunya ini erat kaitannya dengan aspek ekonomi,” tambahnya.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.