• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 21 Oktober 2020

     
    Home   »  Nasional
     
    Diancam Bakal Lapor Ahok, Masalah Air Kampung Deret Petogogan Beres
    ANA DEA | Minggu, 12 Oktober 2014 | 06:32 WIB            #NASIONAL

    Diancam
    Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (kiri) dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama meninjau pembangunan kampung deret di Petogogan, Jakarta Selatan, Kamis (27/2/2014). KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADO

     

     
    JAKARTA, FLOBAMORA.NET - Pembangunan kampung deret Petogogan, Jakarta Selatan, memang sudah selesai. Rumah berderet berwarna oranye ini pun sudah dialiri listrik dan air. Namun, masalah air kerap dikeluhkan warga.
     
    "Tapi airnya masih suka keruh dan mati," keluh Wiwin, salah satu penghuni kampung deret Petogogan, Jakarta Selatan, Sabtu (11//2014),
     
    Menurut dia, sekali waktu air PAM yang mengaliri rumah-rumah tersebut mati seharian. Ketua RT 10, Sugino, pun membenarkan hal ini. 
     
    "Memang pernah mati seharian waktu empat hari sebelum Lebaran, tapi kata orang Dinas, stasiun air di Pondok Labu kerendem," kata Sugino.

    "Waktu itu malahan saya sampai bilang, kalau tak diberesin juga, saya bakal lapor pak Ahok atau pak Jokowi sekalian. Setelah itu baru selesai," kisahnya.
     
    Kini, masalah tersebut diakuinya sudah selesai. Air PAM tak lagi mati seharian. Hanya saja, air PAM ini seringkali kotor dan keruh. Parahnya, air keruh ini biasanya keluar di pagi hari pukul 07.00-08.00 WIB. "Nggak lama sih, paling lima menitan," katanya.
     
    Namun, dalam waktu lima menit, debit air keruh yang keluar cukup banyak. Air ini tak bisa dipakai untuk mandi ataupun keperluan lainnya. Mau tak mau air ini harus dibuang. 
     
    "Ujung-ujungnya airnya dipakai untuk siram tanaman, sayang kalau dibuang," urainya.
     
    Masalah air keruh ini, dikatakan dia, akan mulai didata dan diurus oleh Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) setempat untuk dilaporkan ke dinas terkait. "Setiap bulannya kami bayar sekitar Rp 120.000, ya kami juga mau airnya bersih," ucapnya bijak.

     


    Sumber: Kompas.com
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.