• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 24 Januari 2022

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    Mbay, Lokasi Terbaik untuk Garam Industri di Indonesia
    ALBERTO | Minggu, 16 November 2014 | 15:03 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    Mbay,
    Dirut PT Cheetam Salt Indonesia, Arthur Tanjujaya

     

     

    Kupang, Flobamora.net - Direktur Utama PT. Cheetam Salt Indonesia, Arthur Tanjujaya mengatakan, hasil penelitian yang dilakukan pihaknya terhadap pengembangan garam industri di Indonesia membuktikan Mbay, di Kabupaten Nagekeo, menjadi lokasi terbaik dari sekian banyak lokasi yang sudah diteliti.

     

    “Pertimbangan kami memilih Mbay karena lahan yang tersedia cukup luas, air laut dan curah hujan yang siginifikan. Sementara di lokasi lain, misalnya di Teluk Kupang, curah hujan paling tinggi pada periode Desember - Maret  setiap tahun,” kata Arthur di Kupang, Sabtu (15/11).

     

    Menurutnya, PT. Cheetam Salt Indonesia sudah empat tahun dua bulan hadir di Nagekeo. Namun, yang menjadi kendala serius adalah masalah lahan.

     

    Dia menjelaskan, pihaknya membutuhkan lahan sekitar 1000 hektar  guna mengembangkan garam industri, karena  selama ini pemenuhan garam Industri di Indonesia didatangkan dari Australia, 2 juta ton per tahun.

     

    “JIka kepastian lahan di Mbay sudah clear, kami sudah siap mengembangkan tambak dan industri garam dengan produksi awal 250 ribu ton per tahun, sehingga bisa mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap garam impor,” ujarnya.

     

    Dia menuturkan, khusus untuk pengembangan garam industri di Mbay, pihaknya optimistis akan terealisasi tahun 2015 mendatang. Sedangkan dari sisi teknis akan dikembangkan model industri kelas dunia serta melibatkan banyak aspek termasuk teknologi dan masyarakat.

     

    PT. Cheetam Salt Indonesia, kata dia, memulai di Mbay karena lokasinya yang terbaik untuk garam industri sama seperti di Australia. Tekad ini ditandai dengan MoU pada 17 Juni 2010 lalu.

     

    “Untuk masalah angkutan, jika sudah siap beroperasi, kami akan membangun jeti sendiri dengan kemampuan angkut 10 - 15 ribu ton per hari. Ini lantaran dermaga yang ada saat ini di Pelabuhan Marapokot tidak mungkin diganggu.

     

    Menjawab tantangan terkait masalah lahan, Bupati Nagekeo, Elias Djo mengatakan, sebetulnya lahan yang dibutuhkan untuk lahan garam industri  seluas 1.013 hektar. Dari jumlah itu 231 hektar bermasalah.

     

    Dari luas lahan tersebut, paparnya, ada 770 hektar HGU PT. Nusa Anoa. Tetapi rencana  investasinya tidak terealisasi. Sehingga BPN pusat sudah  mencabut HGU-nya pada lahan seluas 545 hektar. Ternyata, masih ada tanah  pemda seluas 231 hektar, namun masuk landreform agraria.

     

    “Saya masih teliti keberadaan lahan tersebut. Masyarakat yang mana dapat tanah itu. Masalahnya akan saya selesaikan dalam tahun 2014 ini, sehingga tidak ada kendala untuk PT. Cheetam Salt Indonesia,” tandasnya.

     

    Dia menambahkan, jika industri garam itu resmi beroperasi di Mbay, garam menjadi salah satu komoditi unggulan di Nagekeo.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2022 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.