• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Jumat, 30 Oktober 2020

     
    Home   »  Gaya Hidup
     
    Dikira Kena Angin Duduk, Pasien Jantung Koroner Sering Telat Ditangani
    ANA DEA | Sabtu, 29 November 2014 | 11:34 WIB            #GAYA HIDUP

    Dikira
    Ilustrasi

     

     
    JAKARTA - Gejala penyakit jantung koroner seperti nyeri di dada kiri, di ulu hati, bahkan merambat sampai ke punggung kerap diabaikan. Akibatnya, saat mendapat penanganan terlambat, pasien pun sudah tidak bisa diselamatkan.

    Pada dasarnya, dikatakan Dr dr Iwan Dakota SpJP(K), MARS, penyakit jantung koroner terjadi karena adanya penyempitan pembuluh darah yang bertugas 'memberi makan' jantung. Maka dari itu, timbul gejala seperti nyeri dada kiri, di ulu hati lalu merambat ke belakang. Nyeri timbul saat beraktivitas di mana makin aktif maka makin terasa nyeri.

    "Lamanya maksimal 5 menit. Tapi kalau serangan berat lebih dari 30 menit dan sesak napas, keringat dingin. Dulu disebut angin duduk," kata dr Iwan ditemui di RS Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, Jakarta, seperti ditulis Sabtu (29/11/2014).

    "Jika memang serangan jantung berat lebih dari 30 menit sakitnya, keringat dingin sebesar jagung, mual, muntah, itu bisa meninggal mendadak jika penyempitan terjadi di pembuluh utama karena otot jantung tidak bisa bergerak," lanjut dr Iwan.

    Untuk itu, dr Iwan menyarankan lakukanlah skrining guna mencegah timbulnya gejala jantung koroner yang sudah parah. Sebab, semakin dini terdeteksi adanya penyumbatan pembuluh darah, akan lebih mudah dilakukan penatalaksanaan. Terutama, skrining diperlukan lebih awal bagi mereka yang punya riwayat keluarga dengan sakit jantung.

    "Pria 50% berisiko lebih tinggi kalau ada keturunan sakit jantung. Selain skrining, kalau ada gejala-gejala yang mencurigakan, segera datang ke puskesmas. Di Jabodetabek sudah ada kan yang namanya Jakarta Cardivascular Networking System," kata dr Iwan.

    Dalam sistem ini, RSJPD Harapan Kita bekerja sama dengan 48 puskesmas di Jabodetabek dan 5 RSUD. Sejak beberapa tahun lalu RSJPD Harapan Kita menyediakan layanan 24 jam dalam 7 hari bagi puskesmas atau RSUD yang berkonsultasi saat ada pasien yang diduga mengalami serangan jantung.

    "5 menit kita pelajari datanya. Kalau memang indikasi jantung kita sarankan rujuk ke RSUD atau justru harus dibawa ke sini. Atau kalau bukan jantung cukup diberi obat saja," kata dr Iwan.

    RSJPD Harapan Kita juga berfungsi sebagai pusat pelatihan, pendidikan, dan penelitian terkait bidang kardiovaskular. Kini, tengah diadakan penelitian yang diharapkan bisa membuat Indonesia mampu membuat stent jantung sendiri.

    "Dengan begitu biaya akan lebih murah. Sekarang saja untuk pasang stent paling murah 8 juta, kalau butuh satu orang beberapa stent kan sudah berapa biayanya," ucap dr Iwan.

     


    Sumber: health.detik.com
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.