• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 13 Juli 2020

     
    Home   »  Siapa & Siapa
     
    Maria Geong, Pejuang Pemberantasan Rabies
    ALBERTO | Minggu, 14 Desember 2014 | 13:04 WIB            #SIAPA & SIAPA

    Maria
    Dr.Maria Geong

     

     

    TEGAS dan lugas gaya bicaranya. Itulah kesan yang terekam dari sosok Dr. Maria Geong,  yang dianugerahi penghargaan sebagai Tokoh Pejuang Pemberantasan Rabies, oleh Kementerian Kesehatan Indonesaia, pada tanggal 9 Oktober 2012 lalu, bertepatan dengan puncak peringatan World Rabies Day tingkat nasional di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
     
    Sejak tahun 2000, atau tiga tahun setelah kasus rabies pertama terjadi di Kabupaten Flores Timur pada tahun 1997, Maria sudah terlibat aktif dalam upaya pemberantasan rabies di daerah tersebut, baik secara pribadi maupun sebagai staf pada Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur.
     
    “Secara pribadi saya merasa terpanggil untuk ikut terlibat dalam upaya pemberantasan penyakit rabies. Betapa sangat tidak manusiawinya kita, jika membiarkan sesama saudara, mati sia-sia karena penyakit itu,” tandasnya saat ditemui di Kupang, beberapa waktu lalu.
     
    Sulit dibayangkan, katanya, sejak terjadi kasus rabies pertama tahun 1997 di Kabupaten Flores Timur hingga 2012, kasus  rabies di Flores dan Lembata telah mencapai  32. 740 kasus gigitan dengan jumlah korban  yang meninggal dunia sebanyak 228 orang.
     
    Maria menuturkan, awal keterlibatannya dalam upaya pemberantasan penyakit rabies, karena ia melihat ada kebijakan yang salah dilakukan pemerintah daerah waktu itu dalam upaya pemberantasan rabies. Gerakan eliminasi total terhadap hewan penyebab rabies terutama anjing , menjadi pilihan utama dan dikampanyekan secara luas, sementara  upaya lain seperti melakukan vaksinasi diabaikan pemerintah.
     
    Dia merasa miris, ketika harus berhadap dengan Surat Keputusan Gubernur NTT,  tahun 1998, yang isinya menyebutkan, pemberantasan rabies di Flores, harus dilakukan dengan eliminasi total atau pembunuhan massal terhadap anjing dan kera serta hewan sebangsanya yang bisa tertular rabies..
     
    Tak pelak, ia berjuang mati-matian agar pola eliminasi total harus ditinggalkan, dan mengedepankan program vaksinasi terhadap hewan penyebab rabies. Untuk maksud itu, ia harus berjuang lewat Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia  dan dukung penuh oleh sababat-sahabat para dokter hewan.
     
    “Saya merasa tertantang untuk berbuat lebih, demi memberantas penyakit rabies. Saya tak pernah bosan melakukan advokasi kepada pemerintah daerah, agar meninggalkan kebijakan eliminasi dan beralih ke cara yang lebih baik yakni melakukan vaksinasi,” jelas alumni  Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta tahun 1985 ini.
     
    Dia mengakui, setelah lebih dari sepuluh tahun, upaya untuk memerangi rabies di daratan Flores dan Lembata berjalan lamban. Jika mencermati perkembangan penyebaran rabies di Flores, dari tahun 1997 – 2000, tidak ada vaksinasi. Dalam waktu sekitar tiga tahun, rabies datang dari Flores Timur, menyebar dari satu desa ke desa lainnya, sampai ke Kabupaten Manggarai Barat. Perkembangannya sangat cepat dan mengikuti  pergerakan anjing. Anehnya, setiap kali ada program vaksinasi, masyarakat selalu menyembunyikan anjing miliknya dan tidak mau mengikuti program tersebut. Masyarakat  menanggap vaksinasi mirip dengan eliminasi, dan anjing bisa mati. Akibatnya, vaksinasi tidak bisa mencapai target.
     
    “Kita belum bisa menurunkan prevalensi rabies. Kasus itu masih ada, secara insidentil  walaupun masih bisa dikontrol dibawah 0,6 %. Yang menggembirakan, sejak tahun 1997, rabies hanya menyebar di Flores dan Lembata, tidak sampai ke Timor, Sumba dan Alor,” ujarnya.
     
    Menurutnya, rendahnya target vaksinasi, karena sangat tergantung pada kebijakan keuangan atau financial support. Anggaran dari daerah untuk membeli vaksin jelas-jelas sangat terbatas.

    Pemerintah daerah masih bergantung pada dukungan pemerintah pusat, sementara pemerintah pusat harus mengurus daerah baru yang tertular rabies seperi Maluku Tenggara, Nias dan Bali. Namun, dari sekitar 1 juta lebih vaksin yang disiapkan pemerintah pusat, sekitar 75 % diberikan untuk daerah Flores.
     
    Dia menambahkan, pada tahun 2012 perhatian pemerintah terhadap upaya pemberantasan penyakit rabies semakin baik. Pemerintah menyiapkan vaksin sebanyak 267.000 dosis atau sudah melampaui jumlah populasi anjing  di Flores dan Lenbata  sekitar 206.543 ekor.

    Selain itu, pemerintah juga menyiapkan dana operasional  untuk vaksinasi.  Dengan begitu , target vaksinasi massal putaran pertama hingga bulan sepetember sudah mencapai 60 %.  Sedangkan putaran kedua akan dilaksanakan pada bulan November – Desember mendatang.
     
    Meskipun demikian, doktor tamatan School of Veterinary and Biomedical Sciences, Murdoch University, Perth, Australia Barat, tahun 2000 ini, merasa perjuangan untuk memerangi penyakit rabies di daratan Flores dan Lembata, belum maksimal. Ia terus-menerus meminta perhatian pemerintah daerah, tokoh agama,tokoh masyarakat dan LSM serta pejuang yang peduli rabies, untuk bisa menyatukan tekad dan keseriusan guna membebaskan daerah ini dari masalah rabies yang telah menelan banyak korban.
     
    “Sebuah ironi lain, yang menjadi tantangan tersendiri dalam upaya  pemberantasan rabies. Di tengah masih tingginya penyeberan rabies, di daratan Flores dan Lembata, baru satu daerah yaitu Kabupaten Sikka yang  memiliki Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, yang secara khusus mengurus masalah peternakan dan kesehatan hewan. Maunya semua kabupaten memiliki institusi ini,” katanya.
     
    Menurut perempuan, kelahiran Ruteng, Manggarai, 21 November 1957 ini, garda terdepan untuk memberantas rabies adalah kepedulian. Rabies adalah penyakit yang  bisa dicegah. Untuk memberantas penyakit itu, pemerintah daerah juga perlu bekerja sama dengan  para tokoh agama di daratan Flores. Hal ini sudah dipelopori Pemerintah Kabupaten Sikka dengan Uskup  Maumere, Mgr. Kherubim Pareira,SVD.
     
    Dia memuji sikap responsif Uskup Maumere, yang sangat tanggap dan peduli terhadap upaya memberantas rabies. Uskup Maumere, melibatkan pastor paroki dalam pemberantasan rabies. Misalnya, Pastor Wilfried Valiance, Pastor Paroki Nelle, yang sangat peduli pada pemberantasan penyakit rabies, di wilayah pastoralnya.
     
    Pastor Wilfred, tambahnya, berhasil menggalang warga atau umatnya lewat Kelompok Umat Basis, untuk memvaksinasi anjing agar tidak tertular rabies. Karena sukses menggerakkkan umatnya memvaksinasi anjing,  Pastor Wilfried diundang Kemenkes untuk mempresentasikan keberhasilannya pada rapat koordinasi rabies tingkat nasional di Semarang beberapa waktu lalu.
     
    “Saya sudah punya agenda, akan menemui para tokoh agama lain di Flores untuk membicarakan masalah tersebut. Saya yakin, lewat suara para tokoh agama kesadaran masyarakat  untuk ikut terlibat dalam pemberantasan rabies bisa terwujud,” tuturnya.
     
    Selain menemui para tokoh agama, lanjutnya, ia telah menyiapkan peta rancangan (roadmap) pembebasan rabies dengan target 2017, Flores dan Lembata bebas rabies.

    Langkah ini dianggap sangat penting dan strategis, sehingga target  Flores dan Lembata bebas rabies bisa tercapai, karena mewujudkan sebuah wilayah bebas rabies, adalah kerja besar dan harus melibatkan semua komponen masyarakat.
     
    “Roadmap yang ada, harus didukung  dengan program vaksinasi. Jika vaksinasi terus- menerus dilaksanakan, dalam analisa saya daerah Flores dan Lembata benar-benar akan bebas rabies pada tahun 2020. Artinya tidak ada lagi orang  yang mati sia-sia karena rabies,” tambah Maria, yang sudah purna tugas dengan jabatan terakhir  Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Hewan, Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur.***


     
      TAG:
    • khas
    •   
    •   
    •   
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.