• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 16 September 2019

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Suasana Malam Natal di Kupang, Seperti di Medan Perang
    ALBERTO | Rabu, 24 Desember 2014 | 23:35 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Suasana
    Ilustrasi kembang api

     

    Kupang, Flobamora.net - Dentuman kembang api dan petasan yang saling beradu membela kesunyian malam. Suasana natal di Kota Kupang seperti berada di medan perang.

     

    Bagimana tidak. Berbagai jenis bunyi, seperti bunyi tembakan maupun dentuman meriam, begitu nyata di seantero penjuru Kota Kupang menghujam langit malam yang pekat.

     

    Orang seperti mati rasa. Padahal, malam Natal adalah malam yang kudus, saat umat Kristiani mengenang kelahiran Yesus Kristus Sang Imanuel, juru selamat manusia.

     

    Suasana ini terjadi dalam lima tahun belakangan dan sudah menjadi seperti tradisi ketika perayaan Natal tiba. Jika beberapa tahun silam, jenis bunyi ”meriam” tersebut hanya buatan lokal dengan bahan baku bambu maupun kaleng kosong, saat ini sudah semakin canggih dengan hadirnya mercon dan petasan dengan berbagai merek dan jenis.

     

    Bagi warga yang tidak suka dengan bunyi yang memekakkan telinga ini tentu akan marah. Namun hal ini tidak pernah digubris. Bahkan banyak warga yang melaporkan kepada polisi untuk merazia penjual mercon atau mengamankan para pemain petasan, namun hal ini seperti tidak berhasil.

     

    “Kita ini sudah sama seperti hidup di daerah perang saja. Bedanya kalau di daerah perang, itu bunyi senjata yang ada peluru tapi disini hanya bunyinya saja,” kata Mezak Tuan, warga Kelurahan Sikumana, Rabu, (24/12).

     

    Menurutnya, ada perubahan perilaku umat Kristen dalam menyambut Hari Natal. “Natal adalah peristiwa yang harus dihayati dengan iman sehingga membutuhkan waktu yang tenang dan khusuk. Bagaimana orang yang sedang khusuk berdoa lalu di sekitar rumahnya ada bunyi yang membuat mereka marah, ini sesuatu yang tidak benar dan semua harus sadar itu,” katanya.

     

    Dulu menurut Mezak, ketika Natal tiba, semua orang sibuk menghias gereja dan di mana-mana hanya ada kidung natal baik yang dinyanyikan langsung oleh paduan suara maupun lewat tape recorder.

     

    “Sekarang kalau malam Natal orang buat tempat joget lalu mabuk-mabukan. Ini perayaan Natal yang seperti apa,” kesalnya.

     

    Hal berbeda diungkapkan Ayub Luan, dia berpendapat bahwa yang mengais untung dari bisnis mercon dan petasan adalah pengusaha.

     

    “Bayangkan ada berapa ratus juta rupiah yang terbakar percuma dalam bentuk petasan maupun mercon. Coba uang untuk beli barang seperti itu digunakan untuk menolong orang yang susah, kan mendapat berkat,” katanya.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.