• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 13 Juli 2020

     
    Home   »  Opini
     
    Pribadi Berkarakter Baik, Bagaimana Caranya?
    YOHANES LANGGAR BILLY | Minggu, 19 Januari 2014 | 23:51 WIB            #OPINI

    Pribadi
    Dok/Web

     

     

    KITA  semua dilahirkan untuk menjalani hidup yang berhasil tetapi kondisi kita membuat kita gagal. Kita dilahirkan untuk menang tetapi kita dikondisikan kalah. Kita sering mendengar pernyataan seperti, orang ini sungguh beruntung, apa saja yang dia kerjakan pasti berhasil atau orang ini sungguh malang, apa saja yang dikerjakannya selalu tidak membuahkan apa-apa. Ini tidak benar.

     

    Jika Anda analisa, orang berhasil selalu melakukan dengan benar dalam setiap tindakannya sedangkan orang gagal selalu melakukan kesalahan yang sama dalam setiap tindakannya. Perfect practice makes perfect. Apa saja yang ada latihkan akan menjadi permanen kalau Anda melakukannya berulang-ulang. Sebagian orang terus melakukan kesalahan yang sama dan mereka menjadi sempurna dengan kesalahan mereka. Kesalahan mereka tidak hanya sempurna tetapi otomatis.

     

    Para profesional membuat segala sesuatu tampak mudah karena mereka telah menguasai dasar-dasar dari apa saja yang mereka lakukan. Banyak orang kerja keras karena mereka ingin dipromosi. Tetapi sebenarnya orang yang menjadikan pekerjaannya sebuah kebiasaan yang layak dipromosi.

     

    Mengolah suatu kebiasaan ibarat membajak sawah. Butuh waktu lama dan harus keluar dari hati. Kebiasaan menghasilkan kebiasaan lain. Inspirasi membuat orang melakukan sesuatu, motivasi membuat dia selalu berada pada jalurnya dan kebiasaan membuatnya otomatis.

     

    Selalu kuat dalam penderitaan, bertahan dalam pencobaan, bahagia dalam kesakitan, berkarakter dalam keputusasaan, melihat kesempatan dalam rintangan, ini bukan sifat-sifat diri yang muncul secara kebetulan; sifat-sifat ini ada sebagai hasil latihan yang terus menerus dan konsisten baik fisik maupun psikis. Dalam menghadapi kesulitan, perilaku kita yang muncul adalah perilaku yang sudah sering kita praktikkan, baik itu perilaku positif atau negatif.

     

    Bila kita mempraktikkan sifat-sifat negatif seperti misalnya ketidakjujuran dalam peristiwa-peristiwa kecil dan mengharapkan kita akan mampu menangani peristiwa-peristiwa besar secara positif, harapan ini tidak akan pernah terwujud karena bukan sifat-sifat positif yang menjadi bahan latihan kita.

     

    Sekali kita berbohong, mudah bagi kita untuk melakukannya untuk yang kedua kalinya, ketiga kali dan seterusnya dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan. Sukses terletak pada filosofi keberlangsungan dan penarikkan diri. Pertahankan apa yang perlu dilakukan dan hindari diri dari hal yang merusak sampai hal ini menjadi kebiasaan. Manusia cenderung lebih emosional dari pada rasional. Kejujuran dan integritas, kedua-keduanya merupakan hasil dari praktik dan sistem keyakinan kita.

     

    Apa saja yang kita praktikan dalam kurun waktu yang cukup lama, tertanam dalam sistem kita, dan menjadi kebiasaan. Seseorang yang selalu bersikap jujur pada hampir setiap kesempatan, akan langsung ketahuan tidak jujur pada waktu dia mencoba untuk tidak jujur untuk pertama kalinya. Demikian sebaliknya. Bersikap jujur dan tidak jujur baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain, kedua-keduanya akan berkembang menjadi kebiasaan.

     

    Pola berpikir kita menjadi kebiasaan. Kita membentuk kebiasaan dan kebiasaan membentuk karakter. Sebelum kita menyadari bahwa kita memiliki kebaisaan, kebiasaan sudah lebih dahulu mencengkram kita. Oleh karena itu kita perlu membentuk kebiasaan berpikir benar.

     

    Seseorang pernah berkata, “Pikiran kita mengarahkan kita kepada tindakan, tindakan kepada kebiasaan, dan kebiasaan membentuk karakter.” Karakter menuntun kita kepada nasib.

     

    Membentuk kebiasaan-kebiasaan baik

     

    Kebanyakan perilaku kita adalah kebiasaan. Kebiasaan ini terjadi secara otomatis tanpa pikir. Karakter merupakan total jumlah kebiasaan-kebiasaan kita. Jika seseorang memiliki kebiasaan-kebiasaan positif, dia akan dianggap berkarakter positif. Seseorang dengan kebiasaan-kebiasaan negatif dinilai berkarakter negatif. Kebiasaan jauh lebih kuat dari berpikir logis.

     

    Kebiasaan muncul pada waktu kita terlalu lemah merasakannya, dan berakhir dengan menjadi terlalu kuat untuk bisa ditinggalkan. Kebiasaan dapat dikembangkan secara otomatis atau dengan determinasi. Seperti yang dikenang Shiv Khera, penulis buku You Can Win tentang apa yang dikatakan orang tuanya kepadanya, “Sebaiknya kamu selalu membentuk kebiasaan-kebiasaan baik karena kebiasaan-kebiasaan baik akan berkembang menjadi karakter.” Semoga kitapun selalu mau membentuk kebiasaan-kebiasaan baik dalam hidup ini kalau kita ingin dikenal sebagai pribadi berkarakter baik. Semoga.You Can Win / Shiv Khera


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.