• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 19 November 2018

     

     
    Home   »  Internasional
     
    Pakar: Insiden AirAsia QZ8501 Kemungkinan seperti Tragedi Air France AF447
    ANA DEA | Senin, 29 Desember 2014 | 10:50 WIB            #INTERNASIONAL

    Pakar:
    Citra cuaca MTSAT menunjukkan adanya awan tebal (warna merah) di sekitar lokasi AirAsia QZ8501 terakhir terdeteksi, antara Belitung Timur dan Kalimantan. Lapan

     
    LONDON — Pakar penerbangan, Geoffrey Thomas, berpendapat, insiden hilang kontak pesawat AirAsia berkode penerbangan QZ8501 sama seperti tragedi jatuhnya pesawat Air France berkode penerbangan AF447 pada 2009.

    Menurut Thomas, pilot QZ8501 kemungkinan menerbangkan pesawat dengan kecepatan terlalu rendah ketika bertemu dengan cuaca buruk yang ekstrem.

    "Para pilot berkeyakinan, kru (QZ8501) dalam upaya menambah ketinggian untuk menghindari badai, entah bagaimana menyadari bahwa mereka terbang terlalu lambat," ujar dia.

    "Dengan kecepatan itu, mereka tertarik ke aerodynamic stall, seperti yang terjadi dalam hilangnya Air France AF447 pada 2009," lanjut Thomas, seperti dikutip dari AAP.

    Pada 2009, Air France AF44 jatuh ke Samudra Atlantik dalam perjalanan dari Rio de Janeiro, Brasil, menuju Paris, Perancis.

    Thomas memperkirakan, kecepatan AirAsia QZ8501 sekitar 100 knot, setara sekitar 160 kilometer per jam. "Terlalu lambat. Saat itu ketinggiannya juga sangat berbahaya," ujar dia.

    Menurut Thomas, Airbus A320-200 yang dipakai dalam penerbangan ini merupakan pesawat canggih. Dengan pemikiran tersebut, dia berpendapat bahwa pesawat ini hilang kontak karena faktor cuaca ekstrem semata.

    "Pesawat ini 'tertangkap' oleh tarikan udara ke atas atau sesuatu semacam itu, sesuatu yang sangat tidak beres," ujar Thomas.

    Prinsip situasinya, papar Thomas, pesawat tersebut terbang dengan kecepatan terlalu lambat untuk ketinggiannya saat itu, dan udara terlalu tipis sehingga sayap tidak mampu lagi menopangnya. "Pesawat pun stall. Aerodynamic stall."

    Meski sudah menyebut A320 sebagai pesawat canggih, Thomas mengatakan, radar di pesawat tersebut bukan produk terbaru. Menurut dia, radar yang terpasang di A320 kadang-kadang bermasalah ketika berada di lingkungan berbadai. "Ada kemungkinan pilot tertipu oleh kondisi itu."

    Radar terbaru yang penggunaannya dipelopori oleh Qantas pada 2002, sebut Thomas, memiliki kemampuan pembacaan yang lebih lengkap dan akurat terhadap badai. Namun, radar baru ini belum tersertifikasi untuk bisa dipakai di A320 sebelum 2015.

    "Ketika Anda tak punya alat yang disebut dengan multi-skilled radar itu, Anda harus mencermati data radar itu secara manual. Anda harus melihat ke dalam badai, berapa intensitas kelembaban dan hujan di dalamnya, lalu Anda membuat keputusan seberapa buruk itu. (Secara) manual, bisa jadi ada kesalahan, dan itu yang terjadi."

     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.