• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 29 Oktober 2020

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Bendahara BPBD Sikka Diduga Palsukan Tanda Tangan
    VICKY DA GOMEZ | Rabu, 07 Januari 2015 | 06:22 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Bendahara
    Lusia Yetty Susanti didampingi kuasa hukum Viktor Nekur memberi keterangan kepada wartawan di Mapolres Sikka

     

     

    Maumere, Flobamora.net - Lusia Yetty Susanti, penyedia jamban untuk pengungsi Rokatenda mengaku kaget mengetahui terdapat enam lembar kuitansi yang ditandatangani dirinya.

     

    Merasa tidak pernah membubuhkan tanda tangan, Yetty pun menuding Bendahara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maria Berginta yang telah memalsukan tanda tangannya.

               

    Kesal dengan tindakan manipulatif itu, Yetty melaporkan kasus ini ke Polres Sikka. Pada Selasa (6/1) pagi, Yetty yang didampingi kuasa hukumnya Viktor Nekur melaporkan Maria Berginta dengan dugaan manipulasi tanda tangan.

     

    Laporan Yetty diterima oleh aparat polisi bernama Rusyudi Managge, yang nantinya diteruskan ke Satuan Reskrim Polres Sikka untuk diproses lebih lanjut.

               

    Menurut Yetty, awalnya dia mendapat pekerjaan dari BPBD Sikka untuk menyediakan jamban sebanyak 251 paket bagi pengungsi Rokatenda yang sudah direlokasi ke Kelurahan Hewuli Kecamatan Alok Barat Kabupaten Sikka. Dari pekerjaan ini dia dibayar sebesar Rp 184.500.000. Uang tersebut sudah dia terima dari Maria Berginta.

               

    Pada September 2014 lalu, Yety sempat diklarifikasi oleh auditor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan NTT. Dari klarifikasi itu, dia baru mengetahui adanya kejanggalan terkait pengadaan jamban yang dikerjakannya.

     

    Kejanggalan itu yakni terdapat tanda tangannya pada enam kuitansi, di mana dia sendiri mengaku tidak pernah membubuhkan tanda tangan. Kejanggalan lain bahwa akumulasi pengadaan jamban dari 6 kuitansi yang ada yaitu Rp 405.900.000, padahal dia mengerjakan jamban hanya dengan Rp 184.500.000.

               

    “Saya sudah klarifikasikan ini ke pihak BPKP NTT. Dan hari ini, saya didampingi kuasa hukum melaporkan tindakan manipulatif ini ke polisi. Biarlah polisi yang bekerja mendalami persoalan ini,” terang Yetty di Ruang SPK Polres Sikka. ***

     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.