• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Minggu, 29 Maret 2020

     

     
    Home   »  Travel
     
    Ende, Kota dalam Kepungan Tiga Gunung (Bagian Ketiga) Pancasila City di Dada Gunung Meja
    ALBERT R. | Rabu, 22 Januari 2014 | 11:27 WIB            #TRAVEL

    Ende,
    Rumah Tempat Tinggal Soekarno di Ende

     

    Oleh: Yoss Gerard Lema

     

    KITA tak boleh tinggalkan Ende sebagai Bumi Pancasila. Ibukota yang selayaknya dijuluki PANCASILA CITY. Kota yang seharusnya dihiasi monumen Pancasila terhebat. Kota yang semestinya dihijaukan dengan pohon sukun. Sukun, di mana-mana sukun. Di rumah-rumah penduduk, perkantoran, lembaga pendidikan, ruas jalan, terminal, dermaga, kampus, pasar, pertokoan, rumah sakit, bibir pantai, taman kota, hutan kota, dll. Seisi dunia mesti tahu, ada Sukun Pancasila, pohon ilham dan inspirasi Indonesia.

     

    Kenapa? Karena greget Pancasila harus merasuk dalam diri setiap insan yang mengaku sebagai orang Indonesia. Pancasila adalah jati diri kita. Kitalah akar sukun yang merambat dalam perut bumi, kitalah rahim yang mengandung. Bung Karno yang melahirkan untuk Indonesia, untuk kebesaran, kehebatan dan keagungan negeri ini. Pancasila adalah jantung, denyut nadi Indonesia.

     

    Karena itu, Ende dengan segenap pemerintahan dan manusia yang ada didalamnya seharusnya menjadikan Pancasila sesuatu yang hidup. Sebab ketika dibuang ke Ende oleh Belanda, Bung Karno di setiap detak jantungnya  senantiasa menyatu dengan adat budaya kita. Teman pergaulannya sungguh-sungguh rakyat jelata yang kesehariannya hidup sebagai nelayan dan buruh pelabuhan. Tercatat ada 91 orang yang menjadi pengikut Bung Karno. Mereka inilah yang mendukung pementasan berbagai naskah drama karya Bung Karno di gedung Imaculata yang berada di ketinggian jalan Katedral.

     

    Selain mementaskan drama Bung Karno sering mengajak para pengikutnya untuk berdiskusi. Berbagai topik dibahas. Mereka bicara dari hati ke hati, Bung Karno pun mendengar pikiran para pengikutnya. Bung Karno juga mempunyai teman diskusi dari kalangan pastor dan tokoh. Interaksi dengan para pengikut, serta para pastor telah melahirkan sejumlah pertanyaan serius.

     

    Konon, dalam suatu diskusi tentang negara Indonesia yang dicita-citakan Bung Karno mendapat lontaran pertanyaan sangat kritis. Bila kelak Anda  merdekakan Indonesia,di manakah Anda akan tempatkan Ibumu yang berasal dari Bali dan beragama Hindu. Di manakah pula akan Anda tempatkan orang-orang katolik didalam negara yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Pertanyaan ini membuat Bung Karno terdiam. Sejak saat itu Bung Karno mulai sering merenung di bawa pohon sukun. Seorang diri dia di sana, menatap laut lepas, mendengar bisikan alam dan menyarikan wahyu dari Yang Kuasa.  

     

    Secuil ceritra ini menjadi bukti betapa dalam jejak Bung Karno di Ende. Ada begitu banyak kisah yang pantas untuk dirangkai kembali. Riwayat tentang naskah-naskah drama berikut peristiwa pementasannya adalah harta yang tak ternilai. Kisah tentang tongkat berkepala monyet, tentang kucing-kucing piaraannya, tentang ayam yang patuh pada perintahnya, juga tentang duka yang dialamikarena seorang anggota keluarganya meninggal dalam pembuangan di Ende adalah mutiara tak ternilai bagi rakyat Ende. 

     

    Kedekatan Bung Karno dan orang Ende dibuktikan dengan kesetiaan para pengikutnya menyimpan benda-benda milik Bung Karno yang dilelang sebelum berangkat ke Bengkulu. Mereka yang membeli barang-barang Bung Karno menyimpannya dengan baik, bahkan menjadikan benda-benda tersebut sebagai barang keramat.Ketika diminta untuk dikumpulkan kembali agar  disimpan di situs Bung Karno semua menyerahkannya dengan senang hati.

     

    Situs Bung Karno, banyak yang menganggapnya keramat. Lihat saja tingkah laku para petinggi negeri jika berkunjung ke situs ini.  Ada yang berdoa secara khusuk di ruangan di dalam rumah itu. Yang lain langsung menimba air dari sumur yang ada di situs tersebut lalu membasuh tubuhnya. Bahkan ada yang membawa pulang air dari sumur tersebut karena yakin akan ada berkah baginya.  

     

    Itulah empat hari berada di Ende, cuma secuil kisah sebagai oleh-oleh. Sebab selain mendatangi Lapangan Perse saya juga bertandang ke Monumen Pancasila yang ada di perempatan pintu keluar dari Bandar Udara Hassan Aroeboesman. Sebuah monumen yang memampang sila-sila Pancasila. Terlalu sederhana. Kendati demikian beberapa wisman terlihat asyik mengambil gambar.

     

    Saya juga mencicipi masakan di sejumlah rumah makan. Dengan sengaja saya menanyakan menu khusus dari  bahan buah sukun. Ternyata tidak ada. Sukun hanya ada dalam kereta gorengan pada sore hari. Tapi gagasan melahirkan aneka menu masakan dari buah sukun sebagai konkritisasi menghadirkan Ende sebagai Bumi Pancasila belumlah terlihat.

     

    Ende butuh kreativitas yang terfokus pada Pancasila. Sebab saat ini begitu banyak wisatawan dalam dan luar negeri datang bertandang. Mereka saya jumpai pada beberapa lokasi. Di pasar tradisional Potulando, kawasan pertokoan, bandara, dermaga, dll. Yang lain bertebaran di hotel-hotel. Dan hotel Ikhlas tempat saya menginap menjadi salah satu hotel yang menjadi pilihan para wisatawan. Hotel ini kesannya bersih, pelayannya ramah, tarifnya tak menguras kantong. 

     

    Di ruang tengah hotel Ikhlas sejumlah wisman terlihat asyik berbincang di beberapa meja. Ada yang bicara dalam bahasa Inggris, ada pula dalam bahasa yang tak dimengerti, bahkan ada yang dalam bahasa Tetun Portu yang sedikit-sedikit saya pahami. 

     

    Ami hosi Dili.....Ende kepas be, hau gosta....ami foin here Bung Karno nian uma,” ucap gadis molek, Nina namanya. Wanita muda berbusana mini ini mengaku menyukai Ende dan tertarik pada kisah Bung Karno yang terlihat di situsnya.

     

    Se bele hau hakarak toba iha Bung Karno nian uma,” Nina mengaku ingin nginap di rumah Bung Karno di jalan Perwira. Wanita cantik blasteran Timor dan Portugis yang selama belasan tahun bermukim di Australia berharap akan kembali mengunjungi Ende.

     

    Mary dari Belanda dan Peter dari Italia justru terkesan pada keramahan masyarakat Ende. Pasangan suami isteri beda negara ini selama dua pekan  berkeliling ke kampung-kampung di Lio. Mereka akhirnya paham soal peran mosalaki (tetua adat). Bahkan sempat pula mengikuti acara  adat, menari gawi, rokatenda dan menikmati makanan adat bersama masyarakat.

     

    “Luar biasa budaya masyarakat disini. Kami senang, tahun depan  akan datang lagi,” kata keduanya sambil menunjuk beberapa foto yang memperlihatkan keduanya dalam balutan lawo dan ragi mite.Lawoadalah kain adat yang biasa dikenakan para wanita, sedangkan ragi mite adalah kain tenun ikat warna hitam yang dikenakan kaum pria.

     

    Sesungguhnya banyak ceritra yang dilontarkan para wisatawan. Masing-masing dengan pandangannya. Secara umum mereka terkesan, namun bukan berarti tanpa koreksi. Danny dari Roma, Italia yang datang bersama rombongan mengagumi danau tiga warna Kelimutu dan kawasan pantai di Ende. Namun mereka agak kecewa karena pantai-pantainyakotor. Sampah berserakan dimana-mana.

     

    “Semua pantai indah, tapi kenapa dibiarkan kotor. Itu tidak bagus,” kata Danny dengan jidat berkerut.

     

    Nyatanya yang kotor bukan hanya bibir pantai. Di pasar tradisional pemukiman penduduk, kawasan pertokoan, lembaga pendidikan, tempat-tempat pelayanan publik, dll  semua menampilkan wajah buruk. TPS (Tempat Pembuangan  Sementara) juga mengenaskan. Sampahnya berserakan di sekeliling TPS.

     

    Inilah catatan kecil untuk Bupati dan Wakil Bupati terpilih Ir. Marsel Petu dan Drs. Djafar Achmad, MM yang akan memimpin Kabupaten Ende lima tahun ke depan (2014-2019). Bila Bung Karno selalu merenung di bawa pohon sukun, seharusnya para pemimpin Ende pun mau melakukan hal yang sama. Dalam permenungan, apalagi di bawah pohon sukun, semoga akan diperoleh kejernihan gagasan untuk membangun daerah dalam rekatan tali persaudaraan yang harmonis. 

     

    Tak terasa pesawat sudah tinggal landas. Dari jendela pada ketinggian terukur saya sekali lagi melihat kearah gunung Meja. Sekiranya di dada gunung itu tertulis dengan huruf raksasa: PANCASILA CITY seperti halnya  tulisan HOLLYWOOD di Amerika Serikat.  Dan di puncak gunung meja saya bayangkan berdiri PATUNG BUNG KARNO terbesar dan tertinggi di dunia. Saya memang cuma bisa bermimpi.

     

    Bung Karno adalah pemimpin cerdas, pemimpi, pemberani. Pemimpin Ende seharusnya juga cerdas, pemimpi dan pemberani. Pengecut..., silahkan mundur. Ndoe ko.......!!! (Tamat )

     


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.