Warning: ob_start(): output handler 'ob_gzhandler' conflicts with 'zlib output compression' in /home/flobamor/public_html/media.php on line 2
Masyarakat Kota Kupang Beralih ke 3T


  • LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Jumat, 24 Mei 2019

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Masyarakat Kota Kupang Beralih ke 3T
    ALBERTO | Senin, 02 Februari 2015 | 14:02 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Masyarakat
    Telur Ayam

     

    Kupang, Flobamora.net - Beredarnya ikan berformalin di Kota Kupang, dalam sepekan terakhir, menyebabkan masyarakat di ibu kota provinsi NTT itu beralih mengkonsumsi telur, tahu atau tempe (3T).

     

    Laurensius, warga Kelurahan Penfui kepada wartawan di Kupang, Senin (2/2) mengatakan, pilihan mengkonsumsi  telur, tahu atau tempe tersebut untuk menghindari kemungkinan terburuk dari mengonsumsi ikan segar yang diduga mengandung formalin.

     

    “Masuknya ikan berformalin dari luar Kota Kupang, juga membuat masyarakat harus lebih waspada dan teliti sebelum membeli ikan. Pasalnya, ikan yang kelihatan segar ternyata mengandung formalin,” katanya.

     

    Dia menjelaskan, berdasarkan informasi dari Balai POM Kupang, ikan berformalin yang dikonsumsi secara spontan akan membuat mual-mual hingga muntah.

     

    Sedangkan untuk jangka panjang, katanya, akan mengganggu hati dan ginjal serta saluran pencernaan manusia. Formalin itu mengandung zat karsonigenik yang diketahui sebagai pemicu penyakit kinder.

     

    Beralihnya masyarakat mengkonsumsi telur, tahu atau tempe membawa dampak kepada para penjual ikan segar yang setiap hari menyambangi pemukiman penduduk.

     

    “Sudah beberapa hari ikan yang saya jual banyak yang tidak laku. Pembeli tidak mau membeli ikan tembang (lamuru) yang dijual karena mereka takut mengandung formalin,” kata Johny Benu seorang penjual ikan segar.

     

    Hal senada juga disampaikan Nong, penjual ikan segar lainnya. Menurutnya, meski mereka sudah meyakini ikan yang dijual bebas formalin, namun masyarakat tetap tidak mau membeli.

     

    “Beberapa hari ini beta rugi antara Rp 100.000 – Rp 200.000, karena ikan yang dijual tidak laku. Beta terpaksa bawa pulang ikan ke rumah,” tuturnya.***

     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.