• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 29 Oktober 2020

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    Lima Kabupaten belum Minta Pupuk
    RISKY ALBERTO | Sabtu, 14 Februari 2015 | 09:21 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    Lima
    Ilustrasi Pupuk

     

     

    Kupang, Flobamora.net – Di tengah tingginya permintaan petani akan pupuk, masih ada lima kabupaten di NTT yang belum mengajukan rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) kepada Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) setempat untuk membeli pupuk bersubsidi.

     

    Lima kabupaten tersebut yakni Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Flores Timur, Lembata, Sumba Tengah, dan Kabupaten Malaka.

     

    “Mungkin prosesnya masih di kabupaten. Tapi RDKK dari lima kabupaten itu  belum masuk di provinsi  sampai sekarang,” kata Kepala Distanbun NTT Anis Tay Ruba yang dikonfirmasi, Sabtu  (14/2).

     

    Menurutnya, cepat atau lambatnya proses ini sangat tergantung dari pengajuan RDKK oleh kelompok. Apabila sudah ada pengajuan, tak ada alasan untuk tertahan di pengecer, PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan), maupun Dinas Pertanian kabupaten.

     

    Anis mengemukakan, RDKK untuk permintaan semua jenis pupuk yang sudah masuk ke Distanbun NTT  hingga saat ini yakni Urea sebanyak 33.762 ton dari kuota 24.000 ton, SP36  : 12.000 ton dari kuota 5.000 ton, ZA : 4.900 ton dari kuota 2.960 ton, NPK : 47.800 ton dari dari kuota 11.000 ton, dan 85.700 ton dari kuota 5.000 ton.  

     

    Namun, lanjutnya,  RDKK  yang sudah masuk ke Distanbun belum semuanya divalidasi. Pihaknya sedang melakukan verifikasi untuk segera dilakukan proses lebih lanjut ke produsen, dan diharapkan dalam waktu dekat akan  disalurkan langsung ke kelompok.


    Terhadap permintaan yang melebihi kuota, Anis mengatakan, akan dilakukan realokasi dari kabupaten yang permintaan di bawah kuota ke kabupaten yang permintaan melebih kuota. Hal yang sama juga dilakukan di tingkat nasional untuk provinsi yang permintaannya di bawah kuota dengan di atas kuota. 

     

    “Kalau tidak dilakukan realokasi antarkabupaten, kita bisa minta penambahan kuota ke Pusat. Ini sangat tergantung permintaan,” katanya.


    Meski demikian, pihaknya tetap meminta kabupaten yang belum memasukkan RDKK untuk segera mengirimnya ke provinsi. Menurutnya, permintaan pupuk ini untuk musim tanam tahun ini belum terlambat.  Selaian itu, alokasi pupuk bersubsidi disiapkan dari Januari hingga Desember.


    Berdasarkan koordinasi dengan produsen, ungkap Anis, tidak ada kelangkaan pupuk bersubsidi. Ketersedian semua jenis pupuk bersubsidi saat ini cukup melayani permintaan masyarakat.

     

    Disinggung adanya dugaan permainan harga pupuk di tingkat pengecer, dia menegaskan, harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi sudah ditentukan pemerintah. Untuk membedakan pupuk bersubsidi dan nonsubsidi, bisa dilihat dari warnanya.

     

    “Lihat saja warnanya. Kalau pupuk bersubsidi warnanya pink. Kalau nonsubsidi, warnanya putih. Yang jual subsidi dengan harga nonsubsidi, itu penyimpangan,” tandasnya.

     

    Dia mengatakan, penyimpang pupuk bersubsidi bisa terjadi dari segi harga dan tempat. Khusus untuk tempat, penjualannya untuk kelompok masyarakat di suatu tempat, tidak boleh dialihkan ke tempat lain. Hal ini karena permintaan untuk setiap kelompok, sudah ditetapkan berdasarkan wilayah masing-masing. ***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.