• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Minggu, 29 Maret 2020

     

     
    Home   »  Internasional
     
    Selesaikan Masalah Pencari Suaka, Australia Harus Tempuh Cara Diplomasi
    ALBERT R. | Sabtu, 25 Januari 2014 | 08:44 WIB            #INTERNASIONAL

    Selesaikan
    Ferdi Tanoni (Foto : Dok)

     
    Kupang, Flobamora.net  - Peraih Civil Justice Award 2013 dari Aliansi Pengacara Australia, Ferdi Tanoni mengharapkan Perdana Menteri Australia Tony Abbott dapat menempuh cara-cara diplomasi dengan Indonesia dalam upaya menyelesaikan masalah perahu pencari suaka yang tengah menghangat saat ini.

    "Jika (Tony) Abbott tetap arogan dan mengganggap remeh Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat dalam menyelesaikan persoalan pencari suaka dengan mengesampingkan cara-cara diplomasi yang santun, dapat berakibat fatal terhadap hubungan bilateral kedua negara," kata Tanoni di Kupang, Sabtu (25/1).

    Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) menyampaikan pandangannya tersebut setelah melihat armada kapal perang milik TNI-AL mulai bergerak menuju wilayah perbatasan kedua negara di Laut Timor, pascapengakuan Australia pada pekan lalu bahwa beberapa kapal AL Australia telah secara tidak sengaja memasuki perairan Indonesia.

    Kata dia, Australia telah meminta maaf tanpa syarat kepada Indonesia setelah terungkap terjadinya beberapa penyusupan angkatan laut Australia ke perairan Indonesia di bawah rencana operasi perlindungan perbatasan yang dirancang untuk memerangi perahu pencari suaka.

    Tanoni yang juga mantan agen imigrasi Kedutaan Besar Australia itu menilai PM Abbott terlalu percaya dengan bisikan Menteri Imigrasi Scott Morrison, sehingga mengesampingkan cara-cara diplomasi dalam menyelesaikan setiap persoalan dengan negara tetangga.

    "Langkah sombong yang ditunjukkan PM Abbott dalam menyelesaikan perahu pencari suaka itu sangat tidak santun, karena tindakan tersebut bisa berakibat fatal terhadap hubungan bilateral kedua negara bertetangga ini," ujar penulis buku "Skandal Laut Timor, Sebuah Barter Ekonomi Politik Canberra-Jakarta" itu.

    Sementara itu, pengamat hukum internasional dari Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana Kupang, Wilhelmus Wetan Songa menilai langkah yang diambil TNI-AL tersebut bukan merupakan sebuah "show of forces", tetapi hal biasa yang dilakukan oleh negara mana pun untuk menjaga keamanan di wilayah perairan perbatasan dengan negara lain.

    "Tindakan penyusupan yang dilakukan oleh kapal-kapal perang Australia itu memang tidak dibenarkan dengan alasan apa pun, namun kita masih terima dengan kepala dingin atas tindakan pelanggaran kedaulatan tersebut," ujarnya.

    Menurut dia, Indonesia lebih mengedepankan cara-cara diplomasi dalam menyelesaikan masalah antarnegara, sehingga Australia pun diharapkan menggunakan cara-cara yang santun pula dalam membangun komunikasi politik dengan Indonesia, terkait dengan upaya penyelesaian masalah pencari suaka tersebut.

    Sebagaimana diketahui, Kapal perang Indonesia (KRI), antara lain Torpedo dan kapal rudal, telah dipindahkan ke perbatasan dengan Australia menyusul pengakuan Australia pekan lalu bahwa beberapa kapal AL Australia telah secara tidak sengaja memasuki perairan Indonesia. ###

     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.