• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Minggu, 29 November 2020

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    Fary Djemi Francis : Bangun Pelabuhan Sesuai Konsep Tol Laut
    ALBERTO | Rabu, 11 Maret 2015 | 10:40 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    Fary
    Ketua Komisi V DPR RI, Fary Djemi Francis (Foto : Web)

     

     

    Kupang, Flobamora.net - Ketua Komisi V DPR RI, Farry Djemi Francis mengatakan, pembangunan infrastruktur pelabuhan dan jalan harus dilakukan secara terpadu antara Kementerian Perhubungan dan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera).

     

    “Pembangunan yang mensinergikan dua kementerian itu sesuai konsep Tol Laut yang diusung Presiden Joko Widodo,” kata Fary di Kupang,Selasa (10/3).

    Menurutnya, konsep ini menekankan pada konektivitas antarpulau sehingga arus barang dan penumpang mulai dari Sumatera sampai Papua dan Sangihe Talaud sampai Rote tidak terhambat.

     

    Dia mengatakan, asas keterpaduan juga mengantisipasi dermaga atau pelabuhan yang dibangun tidak dihubungkan dengan jalan raya. Akan tetapi persoalan selalu muncul terkait status jalan yang terhubung ke pelabuhan tersebut. Status jalan daerah ditingkatkan menjadi jalan strategis nasional. Hendaknya pembangunan pelabuhan akan diikuti pula pembangunan jalan.



    Dia menjelaskan, tahun ini tersedia dana untuk membiayai peningkatkan infrastruktur, namun harus dalam bingkai konektivitas. Adapun program pembangunan kementerian yang di bawah Komisi V DPR cocok dengan kondisi di NTT yaitu pembangunan ketahanan pangan, perbatasan antarnegara, dan infrastruktur wilayah.


    “Selain itu, pembangunan pelabuhan di Tanah Air ternyata masih tertinggal jauh dari negara lain di Asia. Faktanya, Indonesia memiliki panjang garis pantai sekitar 95.000 kilometer, namun baru ditemukan satu pelabuhan dalam radius antara 3.000-3.500 kilometer. Beda dengan kondisi di Jepang, jarak antarpelabuhan hanya 15 kilometer, dan di Thailand, jarak satu pelabuhan dengan lainnya hanya terpaut 50 kilometer,” paparnya.


    Persoalan lainnya, kata dia, terkait bongkar muat di pelabuhan yang perlu dibenahi. Di Nusa Tenggara Barat misalnya aktivitas bongkar muat mencapai 10 hari, dan di NTT rata-rata mencapai tujuh hari.

     

    Di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, tambahnya, bongkar seharusnya hanya dua hari sama persis di Singapura, namun kenyataan berlangsung selama empat hari karena tersita pengurusan administrasi yang ternyata membutuhkan waktu sampai dua hari.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.