• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 25 November 2020

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Aksi Nekad Warga Kotabaru
    ELN | Senin, 16 Maret 2015 | 22:17 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Aksi
    Warga Kotabaru yang nekad melintasi ruas jalan di Desa Tomberabu, Sabtu (14/3)

     

     

    Ende, Flobamora.net – Longsoran yang terjadi di ruas jalan trans Flores, Minggu (8/3) lalu, tepanya di Kampung Lianggere 17 Km arah Timur Kota Ende , membuat sejumlah warga mencari jalan alternatif agar bisa ke kota kabupaten itu.

     

    Tidak jarang kenekadan yang memacu adrenalin bahkan menantang bahaya pun dilakukan warga. Seperti beberapa aparatur sipil negara (ASN) asal Kecamatan Kotabaru yang hendak ke Ende untuk sebuah urusan penting.

     

    Kalau kebanyakan warga memilih jalur alternatif yang sangat dikenal baik selama ini yakni Roa -  Saga – Puutuga – Aekipa - Ende, dengan lima buah motor, Sabtu (14/3) beberapa warga asal Kotabaru itu  banting setir di KM 19  mendaki puncak bukit melintasi jalan di Desa Tomberabu II menuju Raburia selanjutnya ke arah KM 15, persis di samping rumah tinggal Leo Liti.

     

    Philipus Ngasu, salah seorang warga Kotabaru yang turut melintasi jalur tersebut mengatakan, kondisi jalan yang mereka lewatin sangat beresiko, licin, miring, menanjak dan harus melintasi hutan.

     

    “Kami terpaksa lewat jalan itu untuk urusan di Ende yang tidak bisa ditunda. Mau bagaimana lagi, ketimbang harus lewat Roa Saga - Aekipa dengan  jarak tempuh hampir 25 KM. Itupun belum ada jaminan bisa berjalan mulus,” katanya.

     

    Dia mengisahkan, melewati jalur ini hanya memerlukan waktu satu jam lebih melingkari wilayah Desa Tinabani menuju Tomberabu I. Selanjutnya menurun ke arah KM 15.

    Setelah melewati jalan yang cukup menantang dan menguras adrenalin, dia bersama kawan-kawannya sempat beristirahat sejenak di KM 14 sambil membersihkan pakaian dan sepatu yang terkena lumpur.

     

    Mengenai ruas jalan itu, salah seorang warga Tomberabu, Mathias Mbani mengatakan, kalau musim panas, jalan lingkar tersebut cukup aman. Namun pada musim hujan akan sangat berbahaya karena licin.

     

    “Kalau mereka lewat saat musim panas, tidak apa-apa. Tapi kalau musim hujan, sebaiknya tidak usah dipaksakan. Sangat beresiko dan berbahaya,  kata Mathias.

     

    Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Ende, Frans Lewang yang dihubungi pada kesempatan terpisah mengatakan, pihaknya sudah melakukan survei beberapa hari lalu terhadap ruas jalan tersebut untuk dijadikan jalan alternatif.

     

    Dari aspek kelayakan, tambahnya, masih jauh dari harapan, bila dibandingkan dengan jalur jalan alternatif Aekipa-  Puutuga – Saga – Roa, yang sering digunakan masyarakat jika ada longsor di ruas jalan antara KM 14 – KM 19.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.