• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Selasa, 02 Juni 2020

     

     
    Home   »  Nasional
     
    Wapres Minta Telusuri Aliran Dana Asing ke Pendukung ISIS di Indonesia
    ANA DEA | Rabu, 25 Maret 2015 | 12:58 WIB            #NASIONAL

    Wapres
    Pasukan milisi syiah yang mendukung militer Irak menembakkan meriam howitzer dari sebuah desa di dekat kota Tikrit. Militer Irak menggelar operasi besar untuk merebut kota yang kini diduduki ISIS itu. AHMAD AL-RUBAYE / AFP

     

    JAKARTA — Wakil Presiden Jusuf Kalla mengaku belum memperoleh laporan mengenai temuan PPATK terkait aliran dana asing untuk membiayai pengikut Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) atau ISIS di Indonesia. Meskipun demikian, Kalla menilai, dugaan aliran dana ini harus ditelusuri lebih jauh.

     

    "Kita harus mencari tahu, itu uang untuk apa, dari mana, harus jelas juga. Namun, jangan sampai nanti ada transfer ke luar negeri langsung dicurigai juga, nanti berbahaya untuk ekonomi kita," kata Kalla di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Rabu (25/3/2015).

     

    Wapres juga menilai, aliran dana asing untuk membiayai pengikut ISIS di Indonesia adalah hal yang memungkinkan. Pasalnya, gerakan ini melibatkan jaringan internasional. (Baca: Tifatul: Blokir Situs ISIS Enggak Bakalan Mempan...)

     

    "Itu kan memang jaringan internasional, tentu saling membantu, pasti. Jumlahnya saya tidak tahu. Memang saya baca ada dari Australia, macam-macam, itu memang jaringan internasional, sejak dulu begitu," ujar dia.

     

    PPATK menemukan dugaan aliran dana ke organisasi masyarakat dan individu pendukung ISIS. Dana tersebut ada yang digunakan untuk merekrut pendukung atau memberangkatkan pengikut ISIS ke Irak dan Suriah.

     

    Menurut Wakil Kepala PPATK Agus Santoso, seperti dikutip Tribunnews.com, dana yang ditemukan mencapai sekitar Rp 7 miliar di rekening-rekening tersebut. (Baca: BNPT: Lebih dari 10 Organisasi di Indonesia Dukung ISIS)

     

    "Itu jaringan, jaringannya sudah masuk ke bisnis, jualan herbal, jual buku, malah yang bahaya itu kami tengarai masuk ke usaha kimia," kata Agus beberapa waktu lalu.

     

    Agus menyebut, sebagian rekening juga diketahui menerima aliran dana dari luar negeri, termasuk salah satunya dari Australia. Data tersebut saat ini tengah didalami oleh pihak kepolisian. Pemerintah Indonesia juga merangkul Pemerintah Australia terkait temuan tersebut.


     


    Sumber: Kompas.com
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.