• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Minggu, 20 Oktober 2019

     

     
    Home   »  Nasional
     
    Gubernur Ahok: Sejak Zaman Nabi Ada Prostitusi, Saya Bingung Cara Menghilangkannya
    ANA DEA | Senin, 11 Mei 2015 | 10:05 WIB            #NASIONAL

    Gubernur
    Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menaiki motor gede/ KOMPAS.COM/KURNIASARI AZIZAH

     
    JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku tidak terkejut mengetahui terungkapnya kasus prostitusi oleh artis seksi AA dengan tarif yang tinggi. Sebab, lanjut Basuki, kegiatan prostitusi itu ada di sekeliling masyarakat. Bahkan, kegiatan tersebut sudah ada sejak lama dan sulit diberantas. 

    "Prostitusi mah dari saya masih ngompol, sudah ada, Bos! Cuma kita munafik saja pura-pura enggak tahu," kata Basuki, di Balai Kota, Senin (11/5/2015). 

    Basuki juga mengaku tidak terkejut mengetahui banyaknya pejabat yang menggunakan jasa pekerja seks komersial (PSK). Pejabat itu banyak yang menyalahgunakan uang rakyat untuk membayar tinggi tarif PSK serta memuaskan nafsu mereka.

    Pria yang akrab disapa Ahok itu mengakui hingga kini sulit meminimalisir maupun memberantas banyaknya PSK yang tersebar di Jakarta.

    "Banyak oknum pejabat bisa bayar mahal, mereka pakai duit korup bisa pakai (jasa PSK) tuh. Tolong tanya juga sama (pihak) yang melarang-melarang prostitusi, kasih tahu saya bagaimana caranya. Karena saya dari kecil, dari zaman Nabi sudah ada prostitusi, saya juga bingung caranya (minimalisir prostitusi)," kata Basuki. 

    Sebelumnya, Polres Metro Jakarta Selatan menangkap RA yang merupakan mucikari artis seksi AA yang diduga terlibat kasus prostitusi online, pada Jumat (8/5/2015) malam. AA ditangkap bersama RA, di sebuah hotel bintang lima di kawasan Jakarta Selatan. RA dijerat dengan Pasal 296 jo Pasal 506 tentang Prostitusi.

    RA diduga secara sengaja menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul oleh satu pihak dengan pihak lain. Ancamannya pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah.

    Selain Pasal 296, RA juga terancam jeratan Pasal 506 dengan ancaman pidana kurungan paling lama satu tahun. Sebab, RA diduga mengambil keuntungan dari pihak lain menggunakan modus prostitusi. RA bertugas meminta uang muka atau down payment (DP) kepada pelanggan sebesar 30 persen dari harga, kisaran Rp 80-200 juta.

    Praktik prostitusi yang dilakukan RA tergolong sangat privat karena hanya menggunakan layanan BlackBerry Messenger (BBM) dan WhatsApp untuk menawarkan PSK.

     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2019 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.