• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 03 Juni 2020

     

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang Berbenah Menuju RS Rujukan Terbaik NTT
    ALBERTO | Selasa, 12 Mei 2015 | 13:21 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    RSUD
    RSUD Johannes Kupang

     

    RUMAH Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof.Dr.W.Z.Johannes Kupang adalah sebuah rumah sakit Tipe B Non Pendidikan (SK Menkes RI : No.94 Menkes/SK/95). Ditilik dari sejarah berdirinya, RSUD Johannes Kupang tahun ini semestinya merayakan Pesta INTAN (Peringatan HUT ke-75, red). Usia yang boleh dikatakan sudah uzur bila disejajarkan dengan usia hidup seorang insan manusia. Cikal bakal lahirnya RSUD ini dimulai sejak zaman penjajah Belanda dan Jepang pada tahun 1941-1942. Penjajah kala itu membangun Rumah Sakit Darurat Kecil di kawasan SD Negeri 1 Bakunase dan kemudian dipindahkan ke Naikoten. Tujuannya adalah memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Kupang dan pemerintah penjajah.

     

    Dikepalai dr. Habel - seorang warga Belanda, rumah sakit darurat itu terus dikembangkan dan pada tahun 1952 melalui residen Mr. Amalo rumah sakit itu dipindahkan lagi ke Oetete (lokasi saat ini, red) dengan nama Rumah Sakit Kuanino. Baru pada tahun 1959 Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit dan rumah sakit itu diambil alih oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur dan mulai mendapat bantuan dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pada bulan Nopember 1970, nama rumah sakit itu diganti dengan nama seorang pahlawan NTT yang berkecimpung dibidang kedokteran yakni Prof. Dr. W.Z. Johannes dan terpatri hingga saat ini.

     

    Kini ditahun 2015, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr.W.Z. Johannes Kupang dipandang sebagai satu rumah sakit tertua dan terlengkap dari segi fasilitas dan aspek pelayanannya di propinsi NTT. Jutaan orang berbondong-bondong memeriksa kesehatan dan telah mendapat pelayanan dari rumah sakit Johannes. Sebagai rumah sakit milik pemerintah, maka Visi yang diusung saat ini sangat optimistis yakni sebagai Rumah Sakit Unggulan dan Terpercaya Masyarakat Nusa Tenggara Timur. Adapun misi yang diemban yakni meningkatkan produk layanan rumah sakit yang berorentasi pada keselamatan pasien; mengembangkan SDM rumah sakit; meningkatakan kepercayaan pelanggan serta meningkatkan kualitas pendidikan, pelatihan dan penelitian yang menunjang pelayanan kesehatan prima.

     

    Beralamat di Jalan Moch Hatta No.19 Kupang, lokasi rumah sakit ini dipandang sangat strategis dijantung Kota Kupang yang juga adalah ibukota propinsi NTT. Berdiri diatas areal seluas 5 hektar lebih, RSUD Johannes Kupang terus dilengkapi berbagai fasilitas gedung dan outlet pelayanan kesehatan. Ada kurang lebih 13 fasilitas unggul sudah dimiliki rumah sakit ini diantaranya fasilitas Pelayanan Rawat Jalan, Pelayanan Rawat Inap, IGD, Kamar Operasi (bedah sentral), ruang Endoskopi, Klinik VCT, Klinik Tumbuh Kembang, Klinik TB DOTS, Klinik edukasi Diabetes Melitus, Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan (medical check-up), pelayanan PKT, pelayanan Kemotherapy dan pelayanan Echo Kardiografi. Untuk jenis Pelayanan Rawat Jalan, RSUD Johannes memiliki 13 poliklinik antara lain poliklinik Interna, poliklinik kesehatan anak, poliklinik kulit kelamin, poliklinik mata, poliklinik syaraf, poliklinik THT, poliklinik gigi dan mulut, poliklinik bedah, poliklinik kebidanan dan kandungan, poliklinik jiwa, poliklinik psikologi, poliklinik medical check up, poliklinik jantung dan 1 unit hemodialisa. Sementara untuk Pelayanan Rawat Inap RSUD Johannes memiliki fasilitas kelas utama/pavilion, kelas I,II dan III, kelas perawatan bedah, kamar bersalin, dan kamar perawatan intensif (ICU,HCU, ICCU dan NICU) dengan total bed atau tempat tidur pasien sebanyak 365 buah. Sebentar lagi manajemen akan mengoperasikan sebuah gedung baru yakni Pusat PONEK (Pelayanan Obsterti Neonatal & Emeregency Komprehensif) sebagai sebuah fasilitas pendukung layanan kegawatdaruratan dan anak.

     

    Soal kesiapan SDM di RSUD Johannes Kupang boleh dikatakan cukup memadai. Ratio paramedis (dokter/perawat), ketersediaan fasilitas layanan kesehatan dengan angka kunjungan pasien ke RSUD ini nampak seimbang. Jumlah paramedis yang bertugas di RSUD Johannes Kupang saat ini sebanyak 1255 orang terdiri dari dokter umum 60 orang, dokter gigi 8 orang, dokter spesialis dasar dan specialis penunjang 45 orang, tenaga magister kesehatan 9 orang, apoteker dan kefarmasian 60 orang, tenaga keperawatan 423 orang, tenaga kebidanan 139 orang, tenaga non keperawatan 113 orang dan tenaga non kesehatan 400 orang.

     

    Adapun banyak kegiatan penunjang medis yang dilakukan di rumah sakit ini yakni pelayanan laboratorium, rehabilitasi medis, radiodiagnostik, CT-scan, USG 3 dimensi dan 4 dimensi, mammografi. Sementara kegiatan penunjang non medis meliputi pelayanan konsultasi gizi, kefarmasian, laundry, pemulasaran jenazah dan pelayanan K3 RS.

     

    Pertanyaanya, seberapa sinergis manfaat yang dirasakan masyarakat yang adalah sasaran dari hadirnya fasilitas pelayanan kesehatan super-lengkap yang disiapkan pemerintah itu? Apakah paramedis yang demikian handal berbanding lurus dengan kualitas pelayanan yang dirasakan pasien? Badan Akreditasi Rumah Sakit Kemenkes RI pada tahun 2009 lalu telah memberikan Akreditasi untuk 12 standar pelayanan kesehatan yang ada di RSUD Johannes Kupang. Pengakuan pusat melalui Akreditasi ini diharapkan linear dengan kualitas pelayanan kesehatan yang mesti berpihak pada masyarakat. Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang diluncurkan pemerintah untuk mengkover segala jenis kebutuhan masyarakat akan askes layanan kesehatan yang murah dan memadai menjadi tantangan tersendiri dalam penerapan standar pelayanan prima. Hal ini karena pasien pemegang kartu BPJS kuotanya lebih banyak dibandingkan dengan pasien umum. Disisi lain, posisi RSUD Johannes Kupang sebagai RS Rujukan sebagaimana aturannya hanya diperbolehkan melayani pasien rujukan yang telah mendapat rekomendasi dari fasilitas layanan kesehatan satu tingkat dibawahnya.

     

    Terkait pasien rujukan dari puskesmas, dokter praktek dan dari rumah sakit lain ke RSUD Johannes Kupang memperlihatkan angka yang fluktuatif dalam empat tahun belakangan. Tahun 2010 misalnya pasien rujukan berjumlah 54.086 orang meningkat menjadi 146.984 orang pada tahun 2012; namun memasuki akhir tahun 2014 menurun lagi menjadi 97.143 orang. Dipenghujung tahun 2014, peningkatan justru terjadi pada pasien yang memanfaatkan fasilitas ICU sebanyak 1.972 orang, hemodialisa sebanyak 6.041 orang, Khemotherapy 206 orang, endoscopy 72 orang dan pasien cardiografi sebanyak 22 orang.

     

    Trend kunjungan pasien ke RSUD Johannes Kupang dalam 4 tahun terakhir menunjukan pergerakan yang relatif fluktuatif. Hal ini bisa dilihat dari grafik kunjungan Pasien Rawat Jalan dimana pada tahun 2010 hanya berkisar 89.915 meningkat pada tahun 2012 sebanyak 116.909 orang namun pada akhir 2014 turun menjadi 97.143 orang. Untuk Pasien Rawat Inap justru memperlihatkan penurunan significant dari tahun 2010 mencapai 22.555 orang namun pada akhir 2014 hanya mencapai 14.171 orang. Hal ini berbeda dengan grafik Pasien Meninggal melaju pada angka yang cukup dramatis; selama 4 tahun belakangan jumlah pasien yang meninggal kurang dari 48 jam meningkat dari 29% ditahun 2010 menjadi 47% ditahun 2014. Hal ini menunjukan bahwa pasien tidak bisa tertolong sembuh dari penyakitnya padahal aneka fasilitas pelayanan kesehatan yang disiapkan semakin membaik. Sementara itu, grafik kunjungan pasien IGD selama 4 tahun belakangan juga mengalami fluktuasi dimana pada tahun 2010 sebanyak 30.847 naik menjadi 45.001 pada tahun 2012 namun turun kembali pada tahun 2014 sebanyak 26.314 orang.

     

    Sebagai rumah sakit milik pemerintah RSUD Johannes Kupang melayani pasien dengan 3 kategori pembiayaan yakni pasien umum, asuransi/jamkesmas dan pasien gratis. Data menunjukan pasien IGD dengan dengan bayaran umum mencapai 25,14%, menggunakan asuransi 74% dan gratis 1,35%. Jumlah ini sama dibandingakan dengan pasien rawat jalan yakni pemakai asuransi sebanyak 82,98%, umum 16,47% dan gratis 1%. Sementara untuk pasien rawat inap didominiasi mereka yang menggunakan asuransi sebanyak 92% dan pasien umum 8%.

     

    Merujuk pada data dan trend pergerakan rumah sakit ini dari waktu ke waktu maka tidak ada alasan bagi siapapun untuk harus melakukan evaluasi secara berkala. Berinovasi dan terus menata fasilitas dan kualitas layanan kesehatan menjadi urgen untuk menggapai visi besar menjadikan RS Johannes sebagai RS Rujukan Terbaik di propinsi NTT.

     

    Di pundak Plt. Direkur RSUD Johannes Kupang, Ny. Carolina Maria Arizona  Ondok, manajemen Rumah Sakit Johannes Kupang harus dibenahi dan didandani secara masif. Naluri perempuan pemimpin sekaligus birokrat pelayan yang ada dalam diri Arizona harus digenjot untuk mengobati kerinduan rakyat NTT akan hadirnya sebuah manajemen pelayanan RSU yang hakiki, manusiawi dan empati. Dari aspek fisik, psikis pelayanan dan penatalaksanaan rumah sakit perlu sentuhan fresh. Relokasi, pembenahan fisik gedung yang mulai termakan usia, penyegaran SDM paramedis yang bermental pelayan serta penataan fasilitas pendukung lainnya menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar dan harus ada dalam benak sang Direktris. Hal ini dilakukan bukan saja karena keluhan pasien yang terus membumi di Rumah Sakit Johannes Kupang tetapi karena tuntutan kebutuhan akan sebuah pelayanan kesehatan yang lebih layak, nyaman dan ramah lingkungan.

     

    Banyak harapan ada dipundak Ari Ondok dan seluruh team work-nya. Dukungan semua staf yang bermental pelayan sangat dibutuhkan. Memfokuskan lanjutan penataan pelayanan yang membaik saat ini jauh lebih penting daripada terus berpikir untuk mengocok jabatan sang calon direktur baru. Revolusi mental semua pihak komponen dibutuhkan saat ini. Butuh proses karena tuntutan perubahan tidak mungkin semudah membalik telapak tangan.

     

    “Ibu Ari Ondok orangnya komunikatif, familiar, ramah tetapi tegas dalam prinsip. Kita sangat salut dengan manajemen yang saat ini dikendalikan oleh Ibu Ari. Ada kerja nyata. RSU Yohanes semakin rapih, bersih, tertib dan mulai tertata. Bagi saya bukan soal siapa direkturnya. Bukan juga soal dokter atau non dokter tetapi kecakapan manajemen dan kemampuan komunikasi dengan semua pihak termasuk DPRD itu yang menjadi kunci sukses mengelola sebuah instansi pelayanan publik seperti ini,” papar Wakil Ketua komisi V DPRD NTT Muhammad Ansor soal rencana fit and proper test Direktur Definitif RSUD Johannes Kupang.

     

      

    Plt. Direktur RSUD W.Z Johannes Kupang, Carolina Maria Aizona Ondok

     

    Menurut Ansor, mengurus rumah sakit itu yang terpenting adalah pemimpin yang memiliki rasa empati dengan masyarakat/pasien. Manajemen harus mampu menampilkan model pelayanan publik yang memberi rasa sejuk kepada pasien dan keluarga pasien. Itu soal kemampuan manajerial dan tidak harus dokter. Siapa saja bisa yang penting punya hati dan siap berkorban untuk masyarakat. Tetapi sekali lagi katanya itu hanya harapan karena semuanya adalah kewenangan gubernur untuk mempercayakan siapa direktur gubernur yang baru.

     

    Sekretaris Daerah NTT, Frans Salem,kepada wartawan di ruang kerjanya belum lama ini mengatakan relokasi RSUD W.Z Yohanes Kupang menjadi sebuah keharusan dan sifatnya mendesak untuk peningkatan pelayanan dan memberi rasa aman bagi pasien. Lokasi yang kini jadi pilihan pembangunan rumah sakit W.Z. Yohanes yang baru adalah di kawasan Manulai II Kota Kupang. Di atas lahan pemerintah provinsi seluas 20 hektar itu, semua fasilitas gedung dan sarana prasarana pelayanan kesehatan akan dibangun guna mengoptimalkan rumah sakit Yohanes sebagai rumah sakit (RS) rujukan tingkat propinsi. Tahun 2015 RS ini akan mulai dibangun dengan dana multiyears dan diharapkan sudah bisa digunakan dalam waktu yang tidak lama lagi.

     

    Frans Salem berharap dengan status sebagai RS rujukan maka pasien-pasien yang mengalami gangguan kesehatan yang sifatnya masih bisa ditangani difasilitas pelayanan kesehatan terdekat seperti Puskemas, Rumah Sakit Umum Daerah tingkat Kabupaten/Kota tidak harus langsung berobat ke RS Yohanes. Tujuanya agar tidak terjadi penumpukan di RS rujukan yang berdampak pada berkurangnya pelayanan yang diberikan. Rumah sakit ini kata dia harus benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan pasien rujukan yang tentu membutuhkan pelayanan yang lebih intensif dengan fasilitas pelayanan yang lebih memadai.

     

    Mulai Dari Hal-Hal Kecil

     

    Plt. Direktur RSUD Yohanes Kupang, Carolina Maria Arizona Ondok baru enam bulan menjabat sebagai pelaksana tugas. Tangan dinginnya memimpin RS mulai kelihatan. Sebagai seorang perempuan, ia  bertekad mengembalikan hal-hal prinsip yang menjadi nilai dasar dari sebuah instansi yang bergerak dibidang pelayanan publik. Komunikasi, ramah dan empati itu prinsip dasarnya. Sejak dirinya memimpin Ari Ondok menempatkan komunikasi diatas segalanya. Dengan staf dan mitra kerjanya termasuk mitra DPRD, dia selalu nampak fresh dan intens membangun komunikasi dua arah. Tujuanya agar persoalan pelik yang kian menjadi keluhan publik bisa ditekan. Baginya permasalahan pelayanan RS menjadi tanggungjawab bersama.

     

    Harapan akan sosok PNS sebagai pelayan bisa ditampilkan oleh semua staf dan paramedis ketika berhadapan dengan pasien yang adalah keluarga sendiri. Dalam berbagai arahnya dia selalu menekankan pentingnya pelayanan prima dan rasa empati kepada pasien. Paramedis (dokter/perawat) sebagai tulang punggung diminta menerapkan standar pelayaan prima dan melayani pasien dengan hati.

     

    Itulah yang kelihatan dari sosok seorang Ari Ondok dalam enam bulan pertama kepemimpinannya. Saat ini ditengah beredarnya rencana fit and proper test calon direktur definitif, Ari nampak santai membenahi hal-hal kecil yang selama ini dilupakan. Penataan pos satpam yang baru, papan penunjuk arah yang jelas, urusan kebersihan lingkungan RS dan menghadirkan sebuah papan informasi elektronik (videotron) serta fasilitas audio yang menghubungkan sentral informasi ke masing-masing ruangan saat ini tengah dirancang. Pengaturan dan penerapan jam besuch yang teratur menjadi target pembenahan diawal kepemimpinannya.

     

    “Kita ingin tata halaman depan RS yang lebih tampan, pos satpam yang baik, menempatkan satpam yang berjiwa humanis serta memberlakukan jam buka tutup untuk besuch yang teratur demi kenyamanan pasien. Kita juga rencana  pasang audio yang menghubungkan semua ruangan ke sentral infromasi sehingga dapat mengarahkan pasien, pengunjung dan  keluarga pasien untuk lebih tertib. Ini semua hal kecil yang saya rencanakan bersama teman-teman dari bidang pelayanan. Harapan saya, visi besar menjadikan RSUD Johannes sebagai RS Rujukan terbaik di NTT bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti ini,” papar Ari tersenyum.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.