• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 03 Desember 2020

     
    Home   »  Nasional
     
    Jokowi: Stop Ekspor Bahan Mentah
    ANA DEA | Jumat, 29 Mei 2015 | 16:18 WIB            #NASIONAL

    Jokowi:
    Presiden Joko Widodo

     

     

    MOROWALI - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan smelter nikel milik PT Sulawesi Mining Investment di Morowali, Sulawesi Tenggara. Jokowi kembali menegaskan, jangan ada lagi bahan mentah yang langsung dikirim ke luar negeri.

    "Ini stop (ekspor bahan mentah), nggak boleh. Harus ada nilai tambah untuk daerah dan untuk lingkungan daerah," kata Jokowi dalam kata sambutannya, Jumat (29/5/2015).

    Jokowi kemudian membandingkan keuntungan yang didapat dari pengiriman bahan setengah jadi.‎ Jika masih berbentuk bahan mentah dari nikel, harganya hanya US$ 30 per metrik ton.

    "Kemudian sekarang dibikin setengah jadi, nikel jadi harganya US$ 1.300 per metrik ton. Nilai tambah yang ditambah ini besar sekali," jelas Jokowi. Bahkan jika yang dikirim barang jadi keuntungan yang didapat bisa semakin berkali lipat.

    "Inilah ke depan yang ingin dikerjakan kalau sebuah daerah, ada industri seperti ini larinya kemana-mana karena perputaran uang sangat besar, bisa dalam bentuk yang kecil-kecil dari daerah pasok sayur ke lingkungan industri, pasok telur, ayam, bisa masok jadi subkontraktor di sini, semuanya bisa uang beredar semakin besar, tidak hanya tergantung pada APBD," jelasnya panjang lebar.

    Sementara itu Menperin Saleh Husin mengatakan, pembangunan smelter atau pengolahan nikel di Morowali ini bisa jadi contoh realisasi hilirisasi pertambangan. Selain mendongkrak nilai tambah dan menyedot investasi asing, hilirisasi juga menciptakan lapangan kerja baru.

    "Saat ini, jumlah tenaga kerja langsung di smelter Morowali sebanyak 5.000 orang. Tahun 2017 nanti, setelah unit produksi beroperasi maka tenaga kerjanya mencapai 12.000 orang," kata Saleh yang ikut menemani Jokowi.

     

    Saleh menjelaskan investasi smelter nikel tahap 1 ini sebesar US$ 635,57 juta. Kapasitas produksi 300.000 ton per tahun dan didukung oleh PLTU dengan kapasitas 2x65 MW.

    Perusahaan ini juga akan melanjutkan ekspansi dengan pabrik tahap ke-2 dengan kapasitas 600.000 ton dengan dukungan PLTU sebesar 2x150 MW yang diperkirakan akan selesai pada Desember 2015 dengan nilai investasi sebesar US$ 1,04 miliar.

    Pada saat ini nilai investasi secara keseluruhan mencapai US$ 2 miliar dengan penyerapan tenaga kerja sejumlah 5.000 tenaga kerja. Selanjutnya, pabrik tahap ke-3 yang rencananya memiliki kapasitas 300.000 ton dengan dukungan PLTU 300 MW dapat diselesaikan pada akhir tahun 2017, dengan nilai investasi sebesar US$ 820 juta.

    "Sehingga secara total, keseluruhan kapasitas industri Nikel Pig Iron di Kabupaten Morowali akan mencapai 1,2 juta ton per tahun, yang didukung PLTU sebesar 730 MW," terangnya.


     


    Sumber: finance.detik.com
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.