• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Selasa, 25 Januari 2022

     
    Home   »  Nasional
     
    Mengapa Margriet Tolak Reka Ulang Adegan Pembunuhan Engeline?
    ANA DEA | Selasa, 07 Juli 2015 | 09:52 WIB            #NASIONAL

    Mengapa
    MM

     

     
    FLOBAMORA.NET - Agus Tay dan ibu angkat Engeline, Margriet Megawe hadir saat rekonstruksi kasus pembunuhan bocah cantik Engeline. Namun, Margriet menolak memperagakan adegan pembunuhan yang justru menjadi kunci kasus tersebut.

    Meski polisi masih melakukan penyidikan, diduga pembunuhan pada Engeline dilakukan di kamar ibu angkatnya Margriet Megawe. Setidaknya keterangan itulah yang disampaikan asisten rumah tangga Margriet, Agus Tay yang kini sudah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan.

    Sempat membangun opini Engeline hilang hingga dibunuh dan diperkosa Agus, Margriet kini sudah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan Engeline. Hal ini berdasar dari beberapa bukti dan kesaksian sejumlah orang.

    Walaupun sudah ditetapkan sebagai tersangka, Margriet tetap menolak dikatakan membunuh anak angkatnya tersebut. Itu pula yang mendasari penolakannya untuk melaksanakan rekonstruksi pada Senin (6/7) kemarin. Margriet, Agus, Susiana, Handono dan Rohana didatangkan untuk menjalani 98 adegan rekoonstruksi.

    Awalnya, Margriet bersedia menjalani rekostruksi yakni saat pagi hari Engeline baru bangun dan langsung memberi makan ayam. Sementara itu Agus sibuk mengurusi kandang ayam. Nah tiba-tiba ia mendengar teriakan Engeline dari dalam kamar Margriet yang merintih sakit. Agus mengaku dipanggil Margriet hingga akhirnya berjalan ke kamar.

    Jika merujuk ke BAP Agus, peristiwa di kamar Margriet inilah yang menjadi kunci pembunuhan bocah cantik itu. Namun, alih-alih kooperatif, Margriet malah menolak memerankan dirinya di dalam kamar tersebut.

    "Untuk adegan (di dalam kamar) itu perannya diganti penyidik. Dia (Margriet) tidak bersedia sama seperti dia tidak bersedia diperiksa sebagai tersangka," terang pengacara Agus, Haposan Sihombing saat berbincang, Senin (6/7/2015) malam.

    Ia mengatakan karena merasa tak bersalah, Margriet menolak melakukan rekonstruksi tersebut. Sontak alasan ini dipertanyakan tim kuasa hukum Agus. Menurut mereka, jika memang tak merasa bersalah, Margriet harusnya bersedia ikut rekonstruksi sekaligus menjelaskan versi dirinya.

    Margriet benar-benar nekat tak ikut dan diganti penyidik. Ia memilih menjadi penonton adegan per adegan yang diperagakan oleh Agus dan pemeran penggantinya.

    Keanehan Margriet tak berhenti sampai di situ. Menurut Haposan banyak adegan di dalam kamar itu yang bisa disanggah Margriet. Misalnya saat Agus mengatakan melihat Margriet menjambar rambut Engeline dan membenturkannya ke jendela.

    Ada juga adegan Margriet meminta Agus untuk berpura-pura membunuh dan memperkosa Engeline. Sebagai gantinya. Agus dijanjikan uang Rp 24 juta oleh Engeline.

    Selama adegan di kamar itu, Margriet hanya sesekali tersenyum dan menunggu di luar kamar karena kegerahan. Namun tak ada tangis, panik atau respon lain yang terlihat. Ia lebih banyak diam.

    "Dia diam saja menonton adengan itu. Secara logika, kalau memang dia merasa bersalah dia pasti akan menyelak atau menyanggah adegan-adegan di dalam kamar itu. Tapi itu tidak dia lakukan," ucap Haposan.

    Diamnya Margriet serta keputusannya untuk tak membantah setiap reka adegan sebenarnya membuat tim kuasa hukum yakin bukti-bukti yang akan menguatkan dugaan Margriet sebagai pembunuh utama pada Engeline.

     


    Sumber: news.detik.com
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2022 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.