• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 29 Oktober 2020

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    Belum ada Kepastian Sistem Pengelolaan Garam Industri Nagekeo
    ALBERTUS | Rabu, 29 Juli 2015 | 10:16 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    Belum
    ilustrasi tambak garam

     

     

    Kupang, Flobamora.net -  Salah satu penyebab belum tuntasnya masalah tanah untuk pengelolaan garam industri di Kabupaten Nagekeo adalah belum ada kepastian terkait sistim bagi hasil dari usaha industri dimaksud.

     

    Anggota DPRD NTT, Patrianus Lali Wolo kepada wartawan di Kupang, Rabu (29/7) mengatakan, beberapa waktu lalu dia bertemu dengan sejumlah warga Desa Golonio, Kabupaten Nagekeo.

     

    Dari pertemuan tersebut, paparnya, diketahui kalau masih ada pro- kontra diantara warga masyarakat terkait tanah ulayat yang lokasinya jadi tempat pengembangan industri garam.

     

    Hal ini, menurutnya, disebabkan karena pemerintah dan perusahaan belum menyampaikan secara transparan kepada masyarakat tentang hak yang diperoleh dari pengelolaan industri garam tersebut.

    “Kita harapkan pemerintah segera menyampaikan secara transparan hak yang didapat masyarakat terkait pengelolaan garam industri itu,” kata Patris.

     

    Anggota Fraksi PDI Perjuangan ini menyampaikan, lahan di Golonio yang disiapkan untuk pengembangan garam industri cukup luas. Bahkan Pemda Nagekeo sudah siapkan lahan sekitar 1. 200 hektar untuk PT Cheetam Garam Indonesia yang akan mengelola garam industri di kabupaten itu.

     

    Walau lahan sudah disiapkan, sambungnya, tetapi sampai sekarang belum dilakukan pengolahan. Pasalnya, masih ada pro kontra di tingkat masyarakat.


    Patris menyatakan, persoalan tanah harus segera diselesaikan dan pro- kontra di tingkat masyarakat harus segera dicarikan solusinya. Apalagi dukungan dana dari pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten terkait pengelolaan garam industri sudah ada. Karena itu, Pemda Nagekeo diharapkan mempercepat sejumlah persoalan di lapangan sehingga pengembangan garam industri mulai beroperasi tahun ini.

    “Apakah kita hanya sampai pada tahap persiapan lahan yang pada akhirnya hilang karena tidak jelas kapan masalah yang ada diselesaikan?” tanya Patris retoris.

     

    Wakil rakyat asal daerah pemilihan Ngada, Nagekeo, Ende dan Sikka ini menyampaikan, terkait pengelolaan garam, para petani garam di Desa Golonio mengalami pengalaman buruk. Dimana kurang lebih 2. 500 ton garam rakyat tertumpuk di gudang karena tidak dijual.

     

    Bahkan, tambahya, sebagian besar garam dimaksud sudah mulai rusak dan mencair. Padahal usaha garam tersebut dengan perusahaan waktu itu, kualitasnya sudah sangat bagus. Akibatnya, para petani tidak mendapat keuntungan apapun dari usaha garam dimaksud.

     

    “Pengalaman pahit seperti itu hendaknya tidak terjadi ketika PT Citam melakukan investasi dengan memproduksi garam industri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan nasional akan garam,” papar Patris.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.