• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 19 November 2018

     

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    Distanbun Berupaya Batasi Masuknya Beras ke NTT
    ALBERTUS | Sabtu, 29 Agustus 2015 | 09:11 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    Distanbun
    Kepala Distanbun Provinsi NTT, Yohanis Tay Ruba

     

    Kupang,Flobamora.net - Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTT berupaya membatasi masuknya beras dari luar daerah ke provinsi kepulauan ini terutama beras yang diadakan oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional (Divre) setempat.

     

    Kepala Distanbun Provinsi NTT, Yohanis Tay Ruba kepada wartawan di Kupang, Sabtu (29/8) menjelaskan, setiap tahun Bulog memasukan beras dari daerah lain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat NTT akan beras berkisar antara 120.000 sampai 130.000 ton.

     

    Menurutnya, dengan memperluas areal lahan dan meningkatkan jumlah tanam, diharapkan produksi beras meningkat. Sehingga dapat menekan masuknya beras dari daerah lain. Dengan meningkatnya jumlah produksi, Bulog akan lebih banyak membeli beras dari petani NTT. “Hingga saat ini, Bulog Divre NTT telah membeli beras dari para petani di daerah ini sebanyak 4.828 ton,” katanya.

     

    Dia mengakui, kerja sama dengan TNI sejak Desember 2014  lalu memberi dampak positif terhadap perluasan areal tanam dan peningkatan produksi. Misalnya, untuk periode tanam Oktober 2014 sampai Maret 2015, realisasi areal tanam mencapai 220.100 hektar dari target 201.014 hektar.

     

    Demikian juga pada periode tanam April sampai Juli 2015, luas areal tanam mencapai 31. 000 hektar. Sedangkan panen pada periode Januari sampai April 2015 sebanyak 20.000 ton.

     

    “Saat ini di lapangan sedang dilakukan perbaikan jaringan irigasi tingkat tersier oleh TNI dan petani. Sedangkan Dinas Pekerjaan Umum menangani jaringan irigasi tingkat primer dan sekunder,” paparnya.

     

    Kata dia,  TNI juga membantu mengawal penanaman di musim kering dan kawal distribusi pupuk bersubsidi. Pengawalan dan monitoring oleh TNI ini dilakukan bersama dengan para petugas lapangan dan petani. TNI juga mendorong agar membuat laporan kondisi lapangan, serta mengevaluasi perkembangan serapan beras oleh Bulog.

     

    “TNI dan Kementerian Pertanian menyadari bahwa ketersediaan pangan yang cukup dapat menjamin kestabilan nasional,” paparnya.

     

    Menjawab pertanyaan apakah kerja sama dengan TNI itu, swasembada pangan di NTT bisa terwujud, dia menuturkan, jika ada perluasan irigasi dan peningkatan jumlah tanam dalam setahun. Daerah irigasi yang tersebar di seluruh wilayah NTT saat ini sebanyak 2.088 daerah irigasi dengan luas fungsional 126.000 hektar.

     

    Menurut dia, nila luas fungsional yang ada, bisa ditanam dua sampai tiga kali dalam setahun, maka swasembada beras di NTT bisa terwujud. Tentunya juga didukung dengan pembangunan waduk untuk menampung air dalam skala besar.

     

    Kepala Bulog Divre NTT, Mustofa Kamal mengatakan, target penyerapan beras petani lokal pada tahun 2015 sebanyak 15.000 ton pada 2015. Target ini sulit terwujud karena harga yang dipatok pemerintah terlampau rendah. Harga beras di petani Rp 9.500 per kilogram, sementara harga pembelian pemerintah sebesar Rp 7.300 per kilogram.

     

    Perbedaan harga ini, katanya, tentunya membuat petani sulit menjual berasnya ke pemerintah. Bulog Divre NTT tidak dapat menaikkan harga lagi karena harga yang ditetapkan itu sesuai Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2015.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.