• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 29 November 2021

     
    Home   »  Siapa & Siapa
     
    Pariwisata NTT, Potensi Ekonomi yang Dahsyat
    VIKTUS MURIN | Sabtu, 26 September 2015 | 07:04 WIB            #SIAPA & SIAPA

    Pariwisata
    Melchias Markus Mekeng

     

     

    Kebanggaan pada kampung halaman Nusa Tenggara Timur selalu tergambar dengan terang-benderang, tiap kali Melchias Markus Mekeng berbicara perihal potensi ekonomi  di “provinsi kepulauan” itu.  Cukup banyak kekayaan alam dan kekayaan budaya NTT yang memiliki potensi ekonomi sekaligus bernilai ekonomi tinggi. Dari berbagai potensi ekonomi yang dimiliki NTT, pariwisata merupakan potensi ekonomi “terdahsyat”.

     

    Selama ini, kata Mekeng, potensi ekonomi di NTT belum tergarap dan tereksplorasi secara optimal, sehingga NTT masih dipersepsikan sebagai daerah minus sumberdaya.   “Padahal, tidak demikian adanya. Sumberdaya NTT  sangatlah kaya, diantaranya sumberdaya pariwisata,” ujar Mekeng kepada Tabloid Flobamora.net, di Jakarta, awal pekan ini.

     

    Mantan Ketua Banggar DPR-RI ini mengatakan, kekayaan alam dan budaya NTT  akan bernilai ekonomi tinggi bila dikelola dengan kebijakan visioner. “Mati-hidupnya pariwisata suatu daerah bergantung pada sinergi antara regulasi Pemda, peran swasta, dan partisipasi masyarakat,” ucap Anggota DPR-RI Fraksi Partai Golkar dari Dapil NTT-1 ini.

     

    Potensi pariwisata NTT harus dikelola melalui “Kebijakan Interkoneksi” diantara Pemda, baik pada level provinsi maupun kabupaten/kota. Dengan begitu, NTT baru bisa muncul sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.  Luas wilayah NTT yang mencapai 46.137,87 Km2, di mana 80 persennya adalah laut dengan garis pantai sepanjang 5.700 Km, merupakan peluang besar menjadikan NTT sebagai destinasi wisata bahari terkemuka.  “Pemda di NTT mesti menyusun strategi kolektif sebagai turunan kebijakan interkoneksi. Sayangnya, sejauh ini tidak terdengar resonansi kebijakan interkoneksi untuk menopang pembangunan kepariwisataan NTT,” ujar Mekeng. 

     

    Mengenai infrastruktur pendukung pariwisata, Mekeng menyadari kondisi infrastruktur di NTT masih ringkih, dan menjadi kendala serius menopang kepariwisataan. “Kalau sudah ada strategi kolektif yang bersifat interkoneksi, maka bisa dicarikan terobosan dalam hal pembangunan infrastruktur,” kata suami dari Maria Laurentia Widyana ini.

     

    Seperti pernah diungkapkan melalui bukunya “Pengabdian di Tengah Prahara Korupsi, Pemikiran dan Kiprah Melchias Markus Mekeng”, terbitan Lembaga Kajian dan Aksi Kebangsaan (LKAK) tahun 2013, Editor Viktus Murin; bahwa potensi ekonomi NTT yang hingga kini belum tergarap secara baik, terencana, dan sistemik adalah sektor pariwisata. Inilah sektor pembangunan yang harus diberi perhatian khusus, dan paling bisa diandalkan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

     

    Ekonom jebolan Universitas De La Salle Filipina yang menguasai bidang makro-mikro ekonomi ini berpandangan, begitu besarnya potensi pariwisata NTT sehingga pantaslah jika NTT menjadi branding gerbang selatan Indonesia. Potensi pariwisata NTT sangat luar biasa karena relatif lengkap. Ada wisata alam, wisata budaya, dan wisata religius, yang tersebar di seantero wilayah di NTT. “Tinggal bagaimana membangun regulasi pariwisata secara interkoneksi,” ujar pria tinggi tegap kelahiran Jakarta, 8 Desember 1963 ini.

     

    Yang harus disadari, pariwisata selalu berkaitan dengan mobilitas manusia, sehingga prasyarat dan prasarana kepariwisataan mesti diarahkan untuk menopang mobilitas manusia untuk masuk dan keluar NTT secara lancar, aman, nyaman, dan penuh kesan positif.  “Filosofi pariwisata itu kan mobilitas manusia. Jadi, kita harus cerdas mengelola persepsi dan kesan wisatawan agar betah masuk ke NTT,” ujar ayah dari tiga putera ini; Petrus Hadi Satria (25 thn), Raphael Ananda Perkasa (17 thn), dan Daniel Putra Gemilang (14 thn).

     

    Digital Marketing

     

    Mekeng menganjurkan Pemda di NTT agar menerapkan strategi promosi berbasis digital marketing, untuk memasarkan berbagai keunggulan pariwisata NTT, sehingga bisa menambah devisa masuk ke daerah dan membuka lapangan pekerjaan.  Dengan digital marketing, jangkauan promosi menjadi lebih luas dan efisien. Digital marketing membuat pesan promosi lebih cepat tiba pada kelompok target dan mempengaruhi minat target.

     

    Pemilik CAPA Resort Maumere ini mengaku terus mengoptimalkan penggunaan digital marketing untuk promosi pariwisata Sikka. Dia memastikan sudah menerjunkan tim profesional dari kalangan perfilman untuk melakukan observasi dalam rangka produksi film dokumenter mengenai Sikka. Tim ini dinahkodai pegiat film, Nia Dinata. “Film dokumenter ini nantinya menjadi bagian dari promosi digital marketing untuk memperkenalkan kekayaan alam dan budaya Sikka hingga ke mancanegara,” tegas Mekeng.

     

    Dia menganjurkan Pemda di NTT melibatkan secara aktif pihak swasta dan unsur masyarakat (termasuk perguruan tinggi) dalam pembangunan kepariwisataan. Misalnya dalam hal maintenance fasilitas akomodasi dan destinasi wisata yang memenuhi standar kenyamanan (layak inap), kebersihan (indah dan asri), serta kesehatan (bahan konsumsi yang higienis). Saat ini, strategi kepariwisataan di NTT belum terbentuk dalam kerangka sistem, karena Pemda masih terjebak pada konsepsi formalistik semata-mata. “Padahal pariwisata seharusnya menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat sehari-hari,” ujar Mekeng.

     

    Yang terpenting, ada semangat kebersamaan dari dan diantara Pemda di NTT dalam merumuskan strategi kepariwisataan. Dengan begitu, NTT mampu memperkuat daya tawar terhadap Pusat sehingga bisa mengakses besaran APBN yang lebih memadai, untuk menunjang pembangunan kepariwisataan. Mekeng menyebut “Sulawesi in Corporation” merupakan contoh kebijakan interkoneksi yang dapat ditiru oleh Pemda di NTT.

     

    Bagi Mekeng, Tuhan telah memberikan berkat terselubung  bagi NTT, melalui keberadaan biawak raksasa Komodo (Varanus Comodoensis). Melalui tampilan hewan purba ini, dunia internasional mengenal Pulau Komodo, mengenal kekayaan fauna NTT, sekaligus alam Indonesia.  Kini Komodo sudah jadi tujuan utama destinasi dunia mengingat statusnya sebagai Tujuh Keajaiban Dunia (The New7 Wonders of Nature in the World).

     

    Begitu memikatnya Pulau Komodo, maka pemerintah pusat telah menggelar event “Sail Komodo 2013”.  Kala itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak Wisatawan yang singgah di Taman Nasional Komodo untuk mengunjungi pulau-pulau lain di NTT.  SBY yakin Komodo dan pulau lainnya di NTT bakal menjadi ikon baru pariwisata dunia.

     

    Selain Komodo di Manggarai Barat, potensi pariwisata NTT tersebar diantaranya di Taman Laut 17 Pulau Riung, Kabupaten Ngada, Danau Tiga Warna Kelimutu di Kabupaten Ende,  tradisi Pasola di Pulau Sumba, wisata laut Sao Wisata dan kawasan CAPA Resort di Kabupaten Sikka, eksotisme Pantai Nemberala di Kabupaten Rote-Ndao, Taman Bawah Laut di Kabupaten Alor, Prosesi Jumat Agung (Semana Santa) di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, dan penangkapan Ikan Paus di Lamalera, Kabupaten Lembata. ***


     
      TAG:
    • khas
    •   
    •   
    •   
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2021 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.