• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 13 Mei 2021

     
    Home   »  Travel
     
    Menjelajahi Pesona Wisata Dataran Detusoko
    FERDINAND WATU | Sabtu, 17 Oktober 2015 | 09:15 WIB            #TRAVEL

    Menjelajahi
    Kawasan Detusoko, Kabupaten Ende

     

     

    DETUSOKO - Sebuah dataran pemukiman dan kawasan pertanian hotikultura, berjarak 33 km dari Ende dan ditempuh hanya dalam waktu 45 menit dari kota Ende.

     

    Siapa saja yang mengunjungi Kelimutu tidak pernah lepas dari area yang satu ini, letaknya yang strategis di jalur utama trans Flores, dibaluti oleh keindahan persawahan dan perkampungan adat membuat area ini tidak pernah pudar dari kunjungan wisatawan baik dari dan menuju Kelimutu. Dari Kampung Wolomoni menuju Wologai terbentang aneka potensi wisata yang mempesona. Ada wisata religi, agrowisata, kolam air panas, perkampungan adat, pasar tradisional detusoko, atraksi hidup harian para petani, Gereja Tua hingga tradisi leluhur yang sudah turun temurun.

     

    Gua Maria Lourdes.

     

    Gua Maria Loudes Detusoko terletak di area jalur utama Jalan Ende-Maurole sangat indah ditata. Gua yang terbuat dari susunan bebatuan, diselimuti oleh pepohonan yang rindang, sejuk di kala siang menyapa dan segar disaat angin menerpa dikala berdoa menjadi daya tarik tersendiri bagi insan religi yang hendak bersemedi atau berdoa bersama sang Bunda. Gua yang diberkati oleh  Mgr. Abdon Linggnus da Cunha ini menjadi pusat keramaian ketika bulan rosario atau bulan maria tiba. Dari berbagai daerah berdatangan untuk berdoa di taman Gua Lourdes ini.

     

    “Gua ini selalu dipadati oleh peziarah dari berbagai daerah di Flores ada dari Bajawa, Maumere, Ende, Sikka dan ada yang dari luar Flores, Tutur Sebastianus Setu, salah seorang umat paroki St. Yoseph Detusoko.

     

    Selain sebagai pusat doa gua ini juga sebagai sentral untuk prosesi jalan Salib tablo menuju puncak Golgota “Rate Mbeto” Detusoko. Letaknya yang strategis dan cukup dekat dengan jalan menuju jalur Utara Flores menjadikannya tempat istirahat sejenak bagi pejalan yang berkendaraan.

     

    Selain menjadi tempat idaman bagi warga untuk berdoa, tak jauh dari gua juga terdapat akomodasi yang cukup murah, tempat yang nyaman untuk retret, lokasi itu bernama Wisma St. Fransiskus. Akomodasi permalam 150.000-250.000/malam, suasana yang tenang dan teduh sangat nyaman untuk berolah batin.

     

    Kolam Air Panas Ae Oka

     

    Kolam Air Panas Ae Oka Detusoko berjarak ± 33 km dari Kota Ende dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Kolam ini terletak di pinggir jalan menuju Kec. Maurole ke arah utara ±  300m dari terminal Detusoko. Air Panas Ae Oka dalam tuturan sejarah setempat Oka artinya tempat kubangan Kerbau, dipercaya oleh warga sekitar bahwa pada masa lalu air panas yang saat ini dikenal dengan ae oka ini menjadi tempat pemandian sekaligus kubangan untuk kerbau. Tak jauh dari ae oka ini terdapat sebuah gua yang dipercaya sebagai tempat keluarnya kerbau, dikenal dengan nama Tiwu Geju Kamba. Ae oka saat ini telah ditata dengan baik dan rapi ini dan biaya 2000/orang untuk masuk.

     

    Air panas ini mengandung belerang dan dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Berdasarkan hasil penelitian suhu air panas Oka ini berkisar antara 35 - 45 celcius. Kolam Air Panas Oka ramai dikunjungi oleh masyarakat lokal sekitar wilayah Detusoko pada sore hari karena keadaan cuaca yang dingin, sedangkan pada hari- hari libur ramai dikunjungi oleh pengunjung dari kota Ende yang selain bertujuan untuk mandi mereka juga menikmati keindahan panorama yang masih sangat alami. Pengunjung dapat menikmati hangatnya berendam atau sekedar mencelupkan kaki di Kolam Ae Oka Detusoko.

     

    Nua Olo, Kampung Tua Detusoko

     

    Kampung Tua Detusoko hanya membutuhkan waktu 25-30 menit dari jalan Raya Ende-Maumere. Kampung tua ini terletak di perkebunan warga, dan bagi wisatawan yang hendak tracking menuju gunung api Mutubusa tentu melewati areal ini. Menuju kampung tua ini akan disuguhi pemandangan indah. Selain kubur batu, bhaku, juga pesona persawahan yang memanjakan mata. Ada berbagai aktivitas masyarakat yang menjadi tontonan yakni, warga bekerja di sawah, membajak sawah, memetik cengkeh, kakao dan juga terdapat deretan air panas sepanjang perbukitan “Detu Napu”.

     

    Kampung Tua “nua Olo” Detusoko adalah pemukiman tua untuk beberap sub clan, “ata nua roa, ata rini, bhisu koja, nggela. Pada tahun 1920an masih banyak bangunan dan pemukiman warga, namun pasca dibangunnya Gerja St. Yoseph Detusoko 1936, perlahan-lahan  warga berpindah dan pemindahan pemukiman sebagaimana Detusoko yang sekarang ini.

     

    Kampung Tua Detusoko “Nua Olo” terdapat berbagai peninggalan dan warisan leluhur, seperti kubur batu, Bhaku (tempat tulang belulang leluhur”).

     

    Suatu yang menarik dan antik adalah Bhaku. Bhaku adalah tempat penyimpanan tulang orang-orang mati yang diletakkan di dalam peti. Tulang-belulang itu diangkat dari kubur dan dan diisi ke dalam peti. Peti ini kemudian disimpan di dalam rumah kecil yang tempatnya berada di samping Kanga (jantung kampung). Bhaku ini memiliki satu tiang dari batu tinggi sekitar 1-1,5 meter. Pada ujung batu bagian atas ditaruh balok kayu nangka yang dipahat bagian tengahnya sesuai dengan ukuran ujung batu sehingga bisa menyangga balok tersebut ketika batu itu ditanam di tanah.

     

    Bhaku hanya satu tiang dari batu, dan pada bagian balok selalu dipenuhi ukiran, dan di bagian permukaan balok yang rata inilah disimpan peti tulang-belulang para leluhur. Untuk melindungi peti dari hujan dan angin, dibuat atap dari ijuk. Keseluruhannya berbentuk semacam rumah kecil.

     

    Bhaku dalam keyakinan suku Lio menjadi tempat yang keramat. Tidak semua orang boleh menyentuh dan melihat peti ini, hanya orang-orang yang khusus saja, seperti Mosalaki (tua adat) atau anggota keluarga dari leluhur tersebut. Bhaku ini menjadi tempat yang bhisa gia (keramat/suci) oleh sebab itu orang membawakan sesajen dan permohonan di depan bhaku ini.

     

    Mumi Kaki More

     

    Mumi Kaki More yang terdapat di Wolondopo ini memiliki keunikan tersediri karena mengalami pengawetan dengan menggunakan ramuan alamiah. Sudah cukup lama mumi ini dikenal oleh masyarakat sekitar Kota Ende bahkan para wisatawan dari mancanegara. Deretan nama dan alamat yang tertera dalam buku tamu untuk  pengunjung, memberikan gambaran akan hal itu. Mumi ini memang terbuka untuk umum, siapa saja boleh melihat, tentunya setelah mendapat izinan dari pemiliknya.

     

    Dalam tuturan kisah mengenai mumi ini,  sebenarnya sejak tahun  1973 mumi Kaki More mulai dikenal dan dibuka untuk umum. Sebelum melihat Mumi Kaki More, diadakan  upacara pembuka seperti upacara pati mbako (rokok dan sirih pinang) dan dilanjutkan dengan upacara memberi makan (beri pati ka), sarana yang digunakan yakni rokok, sirih pinang, ayam, nasi dan arak. Pengunjung pun diberi kebebasan untuk memberikan derma atau semacam sedekah kepada mumi sebagai tanda ucapan selamat datang, bila berkunjung kesana. 

     

    Mumi Kaki More, demikian warga mengenal sosok yang terbaring kaku yang disemayamkan di salah satu Rumah Adat Kampung Wolondopo, Desa Nuaone Kecamaan Detusoko, Kabupaten Ende Flores NTT itu. Jasad yang terbungkus dalam lampinan Peti berukiran berwarna hijau muda, dengan ukuran 1,2 x 0,5 meter itu, semasa hidupnya dikenal oleh warga setempat sebagai tua adat yang disebut “mosalaki”.Jika merunut pada pengertian leksikal, Mumi diartikan sebagai mayat atau jasad yang telah meninggal dan diawetkan dengan menggunakan balsem atau bahan kimia agar jasadnya tetap utuh.

     

    Kaki More adalah salah satu mosalaki Sao Rengununu (tua adat di salah satu suku). Ia lahir sekitar tahun 1868 di Wolondopo. Ia adalah putra kedua dari 5 bersaudara dari pasangan More Songgo dengan Kemba Dhiki. Semasa hidupnya ia dikenal sebagai orang yang jujur, taat, pandai dan berani, sehingga oleh Mosalaki dan tua adat kampung (Wolondopo dan Wolojita) ia diangkat menjadi penanggungjawab, juru bicara baik untuk hubungan keluar maupun untuk keperluan ke dalam kampung.

     

    ”Dalam istilah Lio disebut sebagai tau pidhi wiwi laki lapi lema ongga,” jelas Paulus, pewaris keturunan Kaki More, mengenang kembali sejarah sosok yang berbaring kaku itu. Di masa penjajahan Belanda perannya cukup sentral. Ia menjadi mata-mata atau tangan kanan salah satu pahlawan Lokal Ende Lio, Marilonga (1855-1907)”.

     

    Sebagaimana lazimnya suku Lio Flores, orang yang meninggal biasa dikubur di dalam tanah dan ditutupi batu atau dikubur dalam batu yang dipahat dan disemayamkan di sekitar rumah atau untuk orang penting seperti mosalaki biasanya di tengah kampung. Kenyataan ini justru berbeda dengan Kaki More. Menjelang akhir hayatnya beliau berpesan agar bila meninggal jasadnya jangan dikubur tetapi disimpan di atas pandan hutan, “Demi aku mata miu welu aku leka re’a re’e,” tambah Paulus mengutip pernyataan Kaki More. Sebagaimana pesan Kaki More, para keluarga tidak menguburkan mayat. Keluarga menyimpan di sebuah peti kemudian dipancangkan di pingggir kampung di bawah naungan pohon beringan.

     

    Bencana angin badai tahun 1953 yang melanda Ende Lio mengakibatkan pohon beringin yang menaunginya tumbang dan menindih peti Kaki More sehingga petinya hancur. Namun, mayatnya tergelentang di atas dahan beringin dan masih utuh. Sejak saat itu masyarakat mengetahui bahwa mayat Kaki More tidak hancur. Hingga saat itulah dikenal Mumi Kaki More.

     

    Untuk mencapai ke Wolondopo yang berjarak 35 Km dari kota Ende menuju arah timur hanya ditempuh dengan kendaraan selama 1 jam. Bila perjalanan dengan kendaraan dari Taman Nasional Kelimutu hanya 30 Menit. Letak Kampung Wolondopo sekitar 1.5 km dari jalan trans Flores, tepatnya di Cabang Ekoleta menuju arah utara. ***

     




    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2021 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.