• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Jumat, 18 Juni 2021

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    PAUD Punya Karakter Tersendiri
    ALBERTUS | Senin, 19 Oktober 2015 | 12:34 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    PAUD
    Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDINI), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Benny Wahon

     

     

    Kupang, Flobamora.net - Berbicara soal Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) urgensinya sangat luar biasa. PAUD menjadi salah satu prioritas pembangunan pendidikan di Indonesia. Ini lantaran PAUD menjadi wahana pendampingan anak-anak di usia dini atau the golden age (usia emas) pada tataran 0-6 tahun.

     

    “Di usia itulah anak-anak dibentuk karakternya. Seperti masa depan anak-anak itu nantinya tergantung pembentukan karakternya sejak dini. Tidak berlebihan jika pemerintah telah mengeluarkan kebijakan wajib PAUD satu tahun sebelum anak-anak memasuki sekolah dasar,” jelas Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDINI), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan  NTT, Benny Wahon, Senin (19/10).

     

    Benny menggarisbawahi, pemerintah menyadari betul menyiapkan generasi penerus  masa depan bangsa bukanlah pekerjaan yang mudah dan sederhana atau hanya butuh waktu yang singkat serta serba instan.

     

    PAUD punya karakter dan kurikulum tersendiri  yakni Kurikulum 2013 dengan pola pendidikan pembelajaran yang  bersifat bermain. Sehingga ada adagium yang menyatakan, di PAUD anak-anak bermain seraya belajar dan berlajar seraya bermain. Anak –anak di usia ini adalah usia bermain. Kurikulum 2013 PAUD lebih banyak  menitikberatkan pada pendidikan pembelajaran yang bersifat bermain. Kepada anak-anak usia dini tidak boleh diajarkan keaksaraan yakni baca, tulis dan hitung  (calistung) apalagi diberi pekerjaan rumah. Anak-anak PAUD hanya boleh bermain.

     

    Realita di lapangan, masih dijumpai banyak lembaga PAUD yang mengajarkan calistung. Sementara, sudah ada  edaran Menteri Pendidikan Nasional  tahun 2010, yang menekankan tidak boleh diajarkan keaksaraan kepada anak-anak usia dini.

     

    “Calistung hanya bisa diformulasikan dalam pelajaran bermain. Kita di NTT juga sudah ada edaran gubernur yang mengimbau semua PAUD untuk tidak lagi melakukan itu,” ujarnya.

     

    Menurutnya, merujuk pada UU Sistem Pendidikan Nasional PAUD dibagi ke dalam dua kelompok antara lain formal yakni TK dan Raudatul Jannah dan  PAUD non formal yakni Kober, TPA dan SPS . Sudah ada aturan untuk tidak mendikotomikan itu, semuanya adalah PAUD.

     

    Di NTT,  Benny menyebutkan ada sekitar 4.312 buah PAUD. Meski demikian, masih dirasakan adanya kesenjangan antara wilayah perkotaan dan desa. Yang jadi masalahnya adalah pendistribusian lembaga ini. Program satu desa satu PAUD yang digulirkan pemerintah pusat bolehjadi menjadi jawaban terhadap persoalan tersebut.

     

    Tak pelak, pemerintah daerah mulai tahun ini membidik desa –desa terpencil yang sulit mendapat akses pendidikan menjadi sasaran. Ada program PAUD rintiasan dan PAUD 3T. Tahun ini ada 100 lembaga yang diarahkan ke desa-desa yang memang belum ada PAUD.

     

    Di tengah gencarnya pemerintah menggulirkan program satu desa satuPAUD, realitas lain menunjukkan 75 sampai 80 persen PAUD di NTT hadir karena inisiatif masyarakat. Dari 4.321 PAUD, 2.651 PAUD adalah milik masyarakat baik perseorangan maupun lembaga. Pemerintah sendiri hanya punya 222 buah, kemudian UPT PAUDINI 40 dan PT 40 buah.

     

    Dilihat dari jumlah tersebut  ada beberapa daerah yang jumlah PAUD- nya cukup banyak. Timor Tengah Selatan menempati peringkat pertama dengan jumlah PAUD 395 buah, menyusul Kota Kupang 355, Ende 262, Kupang 253, Sikka 247, Flotim 246, Timor Tengah Utara 246 dan Alor 218 buah PAUD. Sisanya dibawah 200 PAUD    

     

    “Pemerintah patut memberi apresiasi kepada masyarakat yang telah membuka atau mendirikan PAUD demi mempersiapkan masa depan anak-anak usia dini,” katanya.

     

    Sejauh ini untuk PAUD perhatian pemerintah meskipun masih dirasa kurang, tetapi melalui pelbagai program, telah diberikan dana stimulan baik secara kelembagaan maupun kepada siswa. Di tahun 2015 ini, ada bantuan operasional pendidikan, bantuan sarana dan prasarana atau bantuan penguatan kelembagaan.

     

    Memang, dibandingkan dengan jumlah PAUD bantuan tersebut masih sangat sedikit. Pemerintah baru mampu menyalurkan bantuan operasional pendidikan bagi  2200 PAUD, bantuan sarana dan prasarana untuk  100 PAUD dan penguatan kelembagaan untuk 50 PAUD.

     

    Menurut Benny, tahun 2016 mendatang pemerintah bertekad semua PAUD di daerah ini mendapatkan bantuan operasional pendidikan yang bersumber dari dana APBN. Sedangkan untuk peningkatan kompetensi guru berupa diklat termasuk insentifnya akan dialokasikan dari APBD Provinsi NTT.

     

    Sayangnya, dari 4000-an guru PAUD sampai saat ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT baru mampu melatih sekitar 1000 orang guru.Setiap tahun pemerintah daerah hanya mampu menggelar diklat kompetensi untuk 300 guru PAUD. Sebuah kondisi yang tidak bisa dielakkan. Duh…!!! **


     




    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2021 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.